Tawa renyah Nara memecah kecanggungan saat ia menyerahkan seikat bunga kecil kepada bapak. "Pak, ini buat Bapak. Karena di balik manajer cabang terbaik kita, pasti ada bapak hebat yang selalu masakin makanan enak di rumah!"
Bapak tertawa lebar, menerima bunga itu dengan wajah merona bangga. "Ah, Anakku ini bisa saja. Bapak cuma memastikan Nara tidak kelaparan supaya bisa memimpin kalian dengan baik."
Nara berjalan dari dapur membawa nampan berisi es sirup melon yang segar. Melihat bapaknya begitu membaur dan tertawa lepas bersama rekan-rekan kantornya, dada Nara membuncah oleh kebahagiaan. Ruang tengah ini sekarang terasa begitu hidup, jauh dari kesan suram beberapa bulan lalu.