Suasana kamar Nara temaram, hanya diterangi lampu meja. Di atas meja kayu, terdapat sebuah kotak tua dan sepucuk amplop putih dengan pita merah yang sudah memudar. Nara membuka jurnal tersebut dengan tangan sedikit gemetar.
Nara Membaca jurnal itu dengan suara pelan, suaranya tercekat
"Untuk Nara, anakku sayang. Jika kamu membaca surat ini, berarti Ibu sudah menyelesaikan perjalanan Ibu di dunia. Maafkan Ibu yang pergi lebih cepat dan meninggalkan kebingungan di pundakmu."
Nara mengusap matanya, lalu melanjutkan membaca
"Ibu tahu kamu sedang lelah. Dunia mungkin menuntutmu menjadi sosok yang sempurna, kuat, dan selalu tahu arah. Tapi Nara, tidak apa-apa jika sesekali kamu merasa tersesat. Itu tandanya kamu sedang mencari jalanmu sendiri, bukan jalan yang orang lain buatkan untukmu."