Suasana festival budaya sangat meriah. Musik tradisional berpadu modern terdengar samar-samar di latar belakang. Booth milik "Kembali Ke Masa" didekorasi sangat estetik oleh Alea dengan nuansa retro, dipenuhi foto-foto dokumenter hasil restorasi kamera tua. Di bagian depan, sebuah lampu sorot mengarah ke meja kerja Nara yang dilengkapi dengan kamera makro, memproyeksikan gerak-gerik tangannya secara live ke layar besar di atas panggung.)
Nara, mengenakan apron kain sederhana, sedang fokus memasang baut mikro pada lensa kamera analog legendaris. Tangannya yang sempat gemetar kini bergerak sangat tenang dan presisi. Di barisan penonton paling depan, tampak Alea yang tersenyum bangga, dan di sebelahnya... duduk Ayah Nara bersama kakak perempuan Nara yang selama ini skeptis dengan keputusannya.
NaramBerbicara ke mikrofon kecil di kerah bajunya, suaranya menggema di depan puluhan penonton yang terpukau "Banyak orang mengira kamera tua yang macet ini sudah mati. Padahal, mekaniknya hanya tertidur karena tertutup debu waktu. Tugas saya di sini bukan mengubahnya menjadi baru, melainkan menghargai setiap goresan sejarahnya dan membuatnya kembali berfungsi untuk merekam cerita-cerita baru."
Nara memutar tuas kokang kamera tersebut. Bunyi klek yang khas dan mantap terdengar lewat pengeras suara, disusul suara shutter yang mekanis dan bersih: jepret! Layar besar menampilkan mekanisme dalam kamera yang kembali bergerak sempurna.
Penonton Riuh bertepuk tangan, beberapa kolektor langsung mengantre di meja registrasi Alea) "Luar biasa! Hebat sekali!"