Suasana kamar Nara temaram, hanya diterangi lampu meja. Di atas meja kayu, terdapat sebuah kotak tua dan sepucuk amplop putih dengan pita merah yang sudah memudar. Nara membuka amplop tersebut dengan tangan sedikit gemetar.
Nara Membaca surat itu dengan suara pelan, suaranya tercekat
"Untuk Nara, anakku sayang. Jika kamu membaca surat ini, berarti Ibu sudah menyelesaikan perjalanan Ibu di dunia. Maafkan Ibu yang pergi lebih cepat dan meninggalkan kebingungan di pundakmu."
Nara mengusap matanya, lalu melanjutkan membaca
"Ibu tahu kamu sedang lelah. Dunia mungkin menuntutmu menjadi sosok yang sempurna, kuat, dan selalu tahu arah. Tapi Nara, tidak apa-apa jika sesekali kamu merasa tersesat. Itu tandanya kamu sedang mencari jalanmu sendiri, bukan jalan yang orang lain buatkan untukmu."
Nara Menatap kotak tua di depannya "Jalan yang benar itu yang mana, Bu? Aku bingung..."
Surat Wasiat Ibu
"Di dalam kotak ini, Ibu tidak meninggalkan harta yang berlimpah atau takhta. Ibu menitipkan barang kesayangan kakekmu: sebuah kompas tua dan buku harian kosong. Kompas ini tidak selalu menunjuk ke arah utara, tetapi kompas ini akan selalu membantumu pulang saat kamu kehilangan arah. Sedangkan buku harian itu, isilah dengan kisah hidupmu sendiri. Tuliskan mimpimu, gagalmu, dan bangkitmu."
Nara Membuka kotak itu, mengeluarkan kompas antik, dan memegangnya erat-erat
"Kompas tua..."
Surat Wasiat Ibu:
"Pesan terakhir Ibu: Hiduplah bukan untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Hiduplah untuk membuat dirimu sendiri bahagia dan bangga. Jadilah dirimu seutuhnya, Nara. Ibu selalu ada di setiap langkahmu, dalam bentuk keberanian di dalam hatimu. I love you, Nak."
Nara mendekap surat dan kompas itu ke dadanya, air mata menetes, namun ada senyuman tipis di bibirnya. Beban di pundaknya terasa sedikit lebih ringan.
Suasana pagi hari yang cerah. Jendela kamar Nara terbuka lebar, membiarkan cahaya matahari dan angin segar masuk. Di atas meja kerja yang biasanya berantakan dengan berkas kantor, kini hanya ada laptop, kompas antik, dan buku harian kosong pemberian ibunya. Nara menarik napas dalam-dalam, menatap layar laptopnya.
Nara Berbicara pada diri sendiri, mantap "Ini waktunya."
Enam bulan kemudian. Nara dan Alea berhasil menyewa sebuah ruko kecil yang merangkap sebagai studio foto sekaligus bengkel restorasi bernama "Kembali Ke Masa". Suasana studio tampak sibuk namun berantakan. Dus-dus suku cadang menumpuk di pojok ruangan, dan lampu studio buatan Alea menyala terang. Nara terlihat kelelahan, bersandar di meja kerjanya yang penuh dengan pretelan kamera.
Nara Menghela napas panjang, memijat pelipisnya "Alea, kas kita bulan ini minus lagi. Biaya impor suku cadang dari Jepang naik dua kali lipat, sementara tiga klien minggu lalu minta refund karena pengerjaannya terlambat."
Alea Baru saja masuk membawa dua bungkus kopi instan, mencoba tetap ceria "Hei, kopi dulu. Jangan sampai otakmu ikut blank seperti kamera macet. Terlambat itu karena kita kekurangan tenaga, Ra. Kamu mengerjakan semuanya sendiri dari pagi sampai subuh."
Nara Menerima kopi, suaranya terdengar frustrasi "Aku mulai berpikir... apa mimpiku ini terlalu naif? Dulu di kantor, akhir bulan selalu ada gaji pasti. Sekarang? Kita bahkan harus menghitung sisa lembaran uang untuk bayar sewa ruko bulan depan. Aku tidak mau menyeretmu dalam kebangkrutan, Al."
Alea Duduk di sebelah Nara, tatapannya mendalam dan serius "Nara, lihat aku. Siapa yang bilang membangun bisnis dari nol itu seperti jalan tol? Waktu aku memutuskan jadi fotografer lepas, aku pernah cuma makan mi instan dibagi dua untuk dua hari. Tapi kita di sini bukan cuma jual jasa servis. Kita ini menjual memori."
"Tapi memori tidak bisa dipakai untuk membayar tagihan listrik, Alea."
Alea Mengambil sebuah kamera tua berkarat dari tumpukan "Kamu ingat kamera ini? Milik Pak jurnalis tua yang datang minggu lalu. Kamera ini merekam peristiwa sejarah, tapi sudah mati dua puluh tahun. Pasarnya bukan tidak ada, Ra. Cara kita mengenalkannya yang harus diubah. Kita jangan cuma menunggu bola di ruko sepi ini."
"Lalu apa rencanamu?"
Alea: "Kita jemput bola. Minggu depan ada festival budaya terbesar di kota. Aku sudah mendaftarkan studio kita untuk buka booth pameran interaktif. Aku yang urus konsep visual dan promosinya, kamu yang tunjukkan keahlian restorasimu secara langsung di depan orang-orang. Kita buat demonstrasi live restoration."
Nara Mulai tertarik, namun ragu "Demonstrasi langsung? Di depan ratusan orang? Bagaimana kalau aku gagal atau tanganku gemetar?"
Alea Tersenyum mantap, menepuk pundak Nara "Kamu tidak akan gagal. Ingat apa yang tertulis di halaman pertama buku harianmu? Menjadi Nara. Nara yang kukenal adalah orang yang memperlakukan barang usang dengan penuh cinta hingga mereka bernyawa lagi. Biarkan orang-orang melihat ketulusan itu."
Nara Menatap buku harian dan kompas ibunya di pojok meja, perlahan rasa percaya dirinya kembali "Baiklah. Kita pertaruhkan semuanya di festival minggu depan. Tidak ada jalan untuk mundur lagi."
Alea Mengangkat gelas kopinya "Nah, begitu dong! Untuk babak paling berdarah-darah dalam cerita kita. Cheers!"
Seminggu kemudian
Suasana festival budaya sangat meriah. Musik tradisional berpadu modern terdengar samar-samar di latar belakang. Booth milik "Kembali Ke Masa" didekorasi sangat estetik oleh Alea dengan nuansa retro, dipenuhi foto-foto dokumenter hasil restorasi kamera tua. Di bagian depan, sebuah lampu sorot mengarah ke meja kerja Nara yang dilengkapi dengan kamera makro, memproyeksikan gerak-gerik tangannya secara live ke layar besar di atas panggung.)
(Nara, mengenakan apron kain sederhana, sedang fokus memasang baut mikro pada lensa kamera analog legendaris. Tangannya yang sempat gemetar kini bergerak sangat tenang dan presisi. Di barisan penonton paling depan, tampak Alea yang tersenyum bangga, dan di sebelahnya... duduk Ayah Nara bersama kakak perempuan Nara yang selama ini skeptis dengan keputusannya.
Nara Berbicara ke mikrofon kecil di kerah bajunya, suaranya menggema di depan puluhan penonton yang terpukau "Banyak orang mengira kamera tua yang macet ini sudah mati. Padahal, mekaniknya hanya tertidur karena tertutup debu waktu. Tugas saya di sini bukan mengubahnya menjadi baru, melainkan menghargai setiap goresan sejarahnya dan membuatnya kembali berfungsi untuk merekam cerita-cerita baru."
Nara memutar tuas kokang kamera tersebut. Bunyi klek yang khas dan mantap terdengar lewat pengeras suara, disusul suara shutter yang mekanis dan bersih: jepret! Layar besar menampilkan mekanisme dalam kamera yang kembali bergerak sempurna.
Penonton Riuh bertepuk tangan, beberapa kolektor langsung mengantre di meja registrasi Alea) "Luar biasa! Hebat sekali!"
Nara menarik napas lega, tersenyum lebar. Ia menatap ke arah penonton dan matanya terkunci pada sang Ayah. Ayah Nara, yang biasanya kaku dan keras, perlahan berdiri sambil bertepuk tangan dengan mata yang berkaca-kaca karena bangga.
Satu jam kemudian, setelah kerumunan penonton mulai lengang. Ayah dan kakak Nara berjalan mendekati booth. Alea dengan sopan memberikan ruang bagi mereka untuk berbicara.
Bapak berdiri di depan meja Nara, menatap tajam namun tatapan itu perlahan melunak) " Bapak tidak pernah tahu... kalau kamu punya bakat luar biasa seperti ini, Nara."