Tiga bulan setelah kunjungan ke galeri foto, Nara dan Alea berhasil mengumpulkan puluhan karya foto dokumenter bertema kehangatan keluarga. Bukan untuk dijual, Nara memutuskan untuk menyumbangkan seluruh hasil cetak foto terbaiknya beserta beberapa kamera saku analog ke sebuah panti asuhan tempat mendiang ibunya dulu sering menjadi donatur tersembunyi. Sore itu, aula panti asuhan tampak ramai dengan tawa anak-anak yang sedang melihat foto-foto yang dipajang rapi di dinding kayu.
Di sudut ruangan, setelah acara berbagi cerita dan workshop fotografi singkat selesai, Nara duduk bersila bersama puluhan anak panti dan Ibu Pengasuh. Mereka menyalakan lilin kecil dan menundukkan kepala, memanjatkan doa bersama untuk ketenangan jiwa ibunda Nara.
Ibu Pengasuh tersenyum teduh setelah doa selesai, mengusap pundak Nara "Nara, ibumu adalah wanita yang luar biasa. Dulu beliau selalu bilang ingin membawa anak-anak di sini melihat keindahan dunia luar. Hari ini, lewat galeri foto yang kamu bawa, kamu sudah mewujudkan mimpi purnanya."
Nara Matanya berkaca-kaca, namun senyumnya penuh kedamaian "Terima kasih, Ibu. Saya sempat tersesat setelah Ibu pergi. Tapi melihat binar mata anak-anak saat melihat foto-foto ini... saya sadar bahwa cinta Ibu tidak berhenti saat beliau tiada. Cintanya terus mengalir lewat kebahagiaan anak-anak ini."
Alea Duduk di sebelah Nara, menyerahkan sebuah album foto kosong baru kepada salah satu anak panti "Dan mulai hari ini, anak-anak di sini yang akan melanjutkan memotret cerita mereka sendiri dengan kamera dari Kak Nara."
Anak Panti Memeluk album foto dengan gembira "Terima kasih, Kak Nara! Kak Alea! Kami akan merawat kamera ini dan selalu mendoakan Ibu dari Kak Nara setiap hari!"
Nara Menatap langit sore dari jendela panti, berbisik dalam hati "Ibu... ini hadiah kecil dariku untukmu. Warisanmu kini bukan lagi sekadar kompas tua di kantongku, melainkan tawa bahagia yang menggema di ruangan ini. Aku sudah pulang, Bu."
Malam hari di ruko "Kembali Ke Masa", beberapa jam setelah panti asuhan selesai dirapikan. Hujan gerimis membasahi jalanan di luar, menciptakan suasana yang tenang dan hangat. Nara sedang duduk di meja kerjanya, merapikan sisa-sisa cetakan foto pameran ke dalam kotak kayu tua pemberian ibunya. Tiba-tiba, pintu kaca ruko berbunyi pelan. Ayah Nara melangkah masuk dengan jaket yang sedikit basah. Wajahnya yang biasa keras dan kaku, malam ini tampak sangat lelah namun menyiratkan kelembutan.
Nara Terkejut, langsung berdiri dari kursinya "Bapak? Kok malam-malam ke sini? Hujan di luar, Yah. Biar Nara buatkan teh hangat dulu."
Bapak Mengangkat tangan perlahan, menghentikan langkah Nara "Tidak usah, Ra. Bapak cuma sebentar. Tadi Bapak sengaja lewat panti asuhan tempat kamu membuat acara sore tadi."
Nara Agak gugup, takut bapaknya menganggap aksinya membuang-buang uang "Ah... soal panti itu. Nara cuma ingin menyumbangkan foto-foto hasil restorasi dan mendoakan Ibu, Yah. Nara tidak bermaksud—"
Bapak Memotong kalimat Nara, suaranya parau dan bergetar "Ibu Pengasuh panti tadi menceritakan semuanya kepada Bapak. Tentang bagaimana anak-anak di sana tertawa melihat foto-fotomu... dan tentang bagaimana kamu memimpin doa untuk ibumu dengan begitu tulus."