Langit di ufuk barat perlahan melukis gradasi jingga keemasan, memantulkan bias cahaya terakhirnya di permukaan air danau yang tenang. Angin sore berembus pelan, menerbangkan helai rambut Nara yang panjang, Di sampingnya, pak Wijaya duduk di kursi roda, menatap hamparan cakrawala yang sama seperti yang mereka lakukan empat puluh tahun lalu.
Senja ini terasa berbeda. Ada kehangatan yang menyelinap di antara rasa ngilu di persendian, membawa serta ribuan memori yang terpatri rapi dalam ingatan.
"Kamu ingat, nak?" pak Wijaya membuka suara, suaranya serak namun sarat akan kelembutan. Telapak tangannya yang kasar menggenggam jemari Nara dengan erat. "Dulu di tempat ini, persis di bawah pohon trembesi itu, aku pernah berjanji untuk tidak pernah meninggalkanmu."