Kenapa?

Rian Nugraha
Chapter #1

KENANGAN - Bagian 1

Adira, pria berusia dua puluh tujuh tahun, duduk sendiri di atas bukit menghadap laut luas di depannya. Angin berhembus kencang, menyapu rambut hitam lurusnya. Sesekali dia menghela napas panjang, seolah mencoba melepaskan beban yang sejak tadi memenuhi pikirannya.

Dia memeluk lututnya erat. Pandangannya lurus ke depan, kosong dan jauh. Suara ombak yang menghantam karang bercampur desir angin membawa pikirannya hanyut semakin dalam.

Di tengah lamunannya, ingatannya perlahan kembali ke masa ketika semuanya masih terasa utuh.

Delapan belas tahun lalu, saat Adira masih berusia delapan tahun, dia sering ikut ayahnya, Darsono pergi melaut mencari ikan dengan perahu kecil sederhana.

Pagi itu laut cukup tenang. Darsono terus mendayung perahu kayu yang bergerak pelan, sesekali bergoyang diterpa ombak kecil. Adira duduk di bagian depan sambil memandangi hamparan laut yang terasa tak berujung. Tangannya menjulur keluar, menyentuh air di samping lambung perahu.

Hampir satu jam mereka berlayar sebelum akhirnya tiba di lokasi tempat ikan biasa berkumpul.

Darsono berdiri perlahan, mengambil jaring lalu menurunkannya ke laut dengan hati-hati. Tangan kanannya sesekali mendayung pelan agar posisi perahu tetap stabil. Sementara itu, Adira memegangi bagian jaring yang lain, merapikannya agar tidak kusut. Jaring itu dipasang melingkar, lalu dibiarkan tenggelam perlahan.

Setelah itu, Darsono mengeluarkan dua gulung senar yang sudah dipasangi kail. Dia memasang umpan kecil sebelum melemparkannya ke laut. Adira mengikuti gerakan ayahnya.

Mereka lalu menarik senar perlahan ke atas dan ke bawah, merasakan getaran halus ketika ikan mulai menyambar umpan.

Siang datang perlahan. Matahari tepat berada di atas mereka. Cahaya yang memantul dari permukaan laut membuat hawa terasa semakin panas.

Adira menyipitkan mata karena silau. Dia menghela napas kecil sebelum memanggil ayahnya.

“Ayah...” katanya pelan.

“Iya, Dira...” jawab Darsono lembut tanpa mengalihkan pandangan dari senarnya.

“Kenapa kita mencari ikan?”

Darsono tersenyum kecil. “Karena kita butuh. Butuh untuk makan.”

Adira terdiam sebentar sebelum kembali bertanya dengan polos. “Tapi Ayah bisa cari uang di pasar atau di kebun. Kenapa harus di laut?”

Darsono berhenti sejenak. Dia meletakkan gulung senarnya, menindihnya dengan dayung agar tidak jatuh, lalu menghampiri anaknya dan duduk di sampingnya.

“Dira...” ucapnya pelan. “Laut ini sudah menghidupi kita sejak lama. Bahkan sebelum kamu lahir.”

Dia memandang hamparan laut di depan mereka. “Ayah memang nelayan. Bukan berarti Ayah tidak mau mencari rezeki di tempat lain. Tapi setiap orang punya caranya sendiri untuk menjemput rezeki.”

Adira menatap ayahnya dengan wajah penuh heran. Kepalanya menunduk pelan.

“Kenapa...”

Belum sempat menyelesaikan pertanyaannya, Darsono memotong sambil tersenyum tipis. “Sudahlah, Dira. Jangan terlalu banyak bertanya kenapa,” tangannya mengusap kepala anaknya dengan lembut. “Laut ini bukan cuma menghidupi kita. Ikan yang kita bawa pulang nanti juga akan membuat orang lain bisa hidup.”

Adira terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ikut tersenyum kecil. Dia kembali memegang senarnya dan melanjutkan memancing bersama ayahnya.

Waktu berjalan tanpa terasa. Saat sore tiba, hasil tangkapan mereka sudah memenuhi dua keranjang besar.

Langit perlahan berubah jingga. Matahari turun mendekati ufuk barat, memantulkan cahaya keemasan di atas permukaan laut yang kini jauh lebih tenang. Angin sore terasa lebih sejuk dibanding panas terik siang tadi.

Darsono mengangkat jaring terakhir mereka. Beberapa ikan masih melompat lemah di dalamnya, sisiknya berkilau terkena cahaya senja.

“Cukup untuk hari ini,” katanya sambil tersenyum kecil.

Adira mengangguk penuh semangat. Meski lengannya pegal karena seharian menarik senar, matanya tetap berbinar melihat hasil tangkapan mereka.

Darsono mulai mendayung perahu kembali ke daratan. Perahu kecil itu membelah air perlahan, meninggalkan riak panjang di belakangnya.

Adira duduk di depan sambil memeluk keranjang ikan, memandangi langit sore yang semakin redup.

Perjalanan pulang terasa lebih tenang. Hanya suara kayu perahu yang berderit pelan dihantam deburan ombak kecil di sisi lambung.

Ketika garis pantai mulai terlihat, suara manusia perlahan terdengar dari kejauhan. Beberapa perahu nelayan lain juga mulai kembali. Burung-burung camar beterbangan rendah di atas laut, sesekali menyambar ikan kecil di permukaan air.

Tak lama kemudian, perahu mereka menepi di dermaga kayu sederhana.

Darsono melompat lebih dulu ke darat, lalu mengangkat dua keranjang besar berisi ikan. Adira ikut turun sambil membawa ember kecil berisi hasil pancingnya sendiri.

“Kita ke pasar sebelum terlalu malam,” ucap Darsono.

Adira mengangguk cepat.

Mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju pasar desa. Langkah kaki mereka pelan, diiringi suara ombak yang mulai terdengar semakin jauh di belakang.

Bau asin laut bercampur dengan aroma rempah, gorengan hangat dan asap kayu bakar dari warung-warung kecil di pinggir jalan. Angin sore berembus lembut, membawa hiruk-pikuk pasar yang sudah terdengar bahkan sebelum mereka tiba.

Pasar sore itu masih ramai. Para pedagang sibuk menawarkan dagangan, sementara nelayan-nelayan yang baru kembali dari laut memikul keranjang hasil tangkapan mereka. Suara orang tawar-menawar bercampur dengan bunyi timbangan besi dan teriakan pedagang yang saling bersahutan.

Di bagian belakang pasar, beberapa pedagang ikan sudah menunggu. Mereka memeriksa hasil tangkapan para nelayan satu per satu dengan cepat dan teliti.

Darsono menghampiri salah satu pedagang langganannya. Pria tua bertubuh gemuk dengan handuk kecil tergantung di pundaknya.

“Dapat banyak hari ini, Darso?” tanyanya sambil membuka penutup keranjang ikan.

Darsono tersenyum kecil. “Lumayan.”

Pedagang itu mengambil beberapa ekor ikan, memeriksanya sebentar, lalu mengangguk puas.

“Ikanmu selalu segar.”

Darsono hanya membalas dengan senyum tipis. Sementara mereka berbicara soal harga, Adira berdiri di samping keranjang sambil memperhatikan suasana pasar di sekelilingnya.

Orang-orang berlalu-lalang tanpa henti. Para pedagang saling memanggil pembeli. Bunyi timbangan terdengar nyaring di antara keramaian. Aroma laut bercampur dengan bau ikan segar memenuhi udara sore itu.

Tak lama kemudian, pedagang tadi menyerahkan beberapa lembar uang kepada Darsono. Darsono menerimanya pelan, lalu mengusap kepala Adira dengan hangat.

“Nah, Dira...” katanya lembut. “Dari laut akhirnya sampai ke tangan banyak orang.”

Adira terdiam. Matanya mengikuti keranjang ikan mereka yang perlahan dibawa pergi ke dalam pasar. Untuk pertama kalinya, dia seperti mulai memahami perkataan ayahnya di laut tadi.

Matahari hampir tenggelam sepenuhnya ketika mereka keluar dari pasar. Langit berubah merah kejinggaan. Cahaya senja memudar perlahan, digantikan lampu-lampu rumah warga yang mulai menyala satu per satu di sepanjang jalan desa. Udara sore terasa lebih dingin setelah seharian berada di tengah laut.

Darsono menyimpan uang hasil penjualan ikan ke dalam saku celananya, lalu berjalan pulang bersama Adira. Di tengah jalan, dia menyempatkan membeli kue balok kesukaan anak dan istrinya.

Mereka melewati jalan tanah yang diapit pohon-pohon kelapa dan rumah-rumah kayu sederhana. Dari beberapa rumah terdengar suara orang memasak dan anak-anak bermain menjelang malam.

Sesekali warga yang berpapasan menyapa Darsono.

“Hasilnya bagus hari ini?”

Darsono mengangguk kecil sambil tersenyum. “Alhamdulillah...”

Lihat selengkapnya