Fajar mulai datang pagi itu. Langit masih gelap kebiruan ketika Adira sudah bersiap pergi ke pasar.
Di belakang rumah, dia merapikan ikatan kayu bakar. Tangannya bergerak cepat, mengangkat lalu mengikat kayu-kayu itu menjadi satu. Setelah selesai, Adira masuk ke kamar adiknya. Nina masih tertidur pulas di atas kasur tipisnya. Wajah gadis itu terlihat tenang dalam cahaya redup.
Adira duduk di sampingnya sebentar. Dia mencium kening Nina pelan, lalu mengusap rambutnya dengan lembut. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya, hanya senyum hangat yang selalu sama setiap kali melihat adiknya tertidur nyenyak.
Setelah itu, Adira berjalan menuju kamar ibunya. Dia membuka tirai kamar perlahan agar tidak membangunkan Surinah. Dari balik celah pintu, dia memastikan ibunya masih tidur dengan tenang.
Adira kembali tersenyum kecil lalu mengangguk pelan, memastikan semuanya baik-baik saja sebelum pergi.
Dia memikul kayu bakar di punggungnya dan mulai berjalan menuju pasar. Pagi masih gelap saat Adira menyusuri jalan setapak menuju jalan raya desa.
Angin sejuk berembus perlahan. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan dan rumah-rumah warga. Beberapa petani mulai berjalan menuju kebun sambil membawa cangkul di pundak mereka. Sementara para nelayan tampak melangkah ke arah pantai dengan jaring di tangan mereka.
Suasana perkampungan terlihat tenang dan indah di bawah cahaya pagi yang perlahan muncul.
Adira berjalan santai menikmati udara subuh itu. Sesekali dia tersenyum kecil saat berpapasan dengan warga yang dikenalnya.
Suasana berbeda langsung terasa begitu dia tiba di pasar. Pagi itu pasar sudah sangat ramai.
Lorong-lorong dipenuhi orang yang berlalu-lalang. Pedagang sayur menghamparkan dagangan segar mereka. Para pembeli sibuk memilih cabai, tomat dan sayuran lain sambil menawar harga. Di sisi lain pasar, pedagang ikan sibuk menimbang hasil laut yang baru datang.
Suara orang berteriak menawarkan dagangan bercampur dengan langkah kaki yang tak pernah berhenti.
Adira berjalan menuju sebuah lapak buah langganannya sambil membawa kayu bakar.
“Kayu pesanan sudah datang...” katanya ceria sambil menurunkan ikatan kayu.
Pedagang buah itu menoleh. “Berapa, Dira?” tanyanya.
“Seperti biasa,” jawab Adira santai.
Pria itu langsung mengeluarkan uang lima puluh ribu dari dompetnya dan menyerahkannya. Adira menerima uang itu lalu memasukkannya ke dalam saku celananya.
Sebelum pergi, tangannya mengambil beberapa buah pisang di meja dagangan.
“Boleh?” tanyanya sambil tersenyum kecil.
Pedagang itu tertawa pelan. “Ambil saja.”
Adira tersenyum lalu berjalan pergi menuju tempat berkumpul para kuli panggul di dekat sebuah ruko besar penjual sembako.
Di sana, Asep sudah duduk menunggu. Sahabatnya sejak kecil itu kini bekerja bersamanya sebagai kuli panggul.
“Asep!” teriak Adira sambil mendekat. “Sudah berapa karung kau bawa?”
Asep menoleh cepat. Mulutnya masih penuh gorengan saat menjawab.
“Belum...” katanya sambil mengunyah hingga suaranya terdengar tidak jelas.
Adira tertawa kecil lalu duduk di sampingnya. Dia mengambil satu gorengan dari kantong plastik di meja lalu memesan kopi hangat.
Tak lama kemudian, Dadang, pemilik ruko datang sambil membawa buku catatan.
Di belakangnya, sebuah truk besar bermuatan penuh berhenti tepat di depan gudang.
“Ayo!” seru Dadang pada para kuli panggul. “Turunkan semua karung beras itu. Masukkan ke gudang!”
Adira, Asep dan tiga kuli panggul lainnya langsung berdiri.
Mereka membuka pintu belakang truk lalu mulai mengangkat karung-karung beras satu per satu.
Adira memikul satu karung besar di punggungnya. Napasnya sedikit tertahan menahan berat beban itu. Langkahnya cepat menuju gudang yang berjarak sekitar dua puluh meter dari truk.
Keringat mulai membasahi bajunya. Satu demi satu karung dipindahkan tanpa henti.
Hampir dua jam mereka bekerja mengangkut seluruh muatan truk hingga akhirnya semua selesai dimasukkan ke gudang.
Matahari kini sudah semakin tinggi. Mereka kembali duduk beristirahat sambil mengobrol kecil dan menunggu Dadang menghitung upah.