Suara ayam berkokok panjang. Cahaya matahari perlahan muncul dari balik gunung, menyinari perkampungan kecil di tepi pantai. Orang-orang mulai menjalani aktivitas seperti biasa. Para petani berjalan menuju kebun sambil memikul cangkul, sementara nelayan mulai mendayung perahu mereka ke laut.
Pagi itu, semuanya bergerak seperti biasanya. Namun tidak dengan Adira. Dia masih tertidur pulas di kamarnya, meringkuk sambil memeluk selimut tipisnya erat-erat. Napasnya terdengar berat dan tenang.
Di belakang rumah, Surinah sibuk merapikan dan mengikat kayu bakar. Sementara, Nina duduk di bangku sambil menikmati nasi goreng buatan ibunya dengan wajah ceria.
“Adira!” teriak Surinah dari belakang rumah. “Bangun! Jangan jadi pemalas! Ini sudah pagi!”
Suara itu terdengar nyaring hingga ke dalam kamar.
Adira menggeliat pelan. Dia meregangkan tubuhnya sebelum membuka mata perlahan. Namun dia belum langsung bangun. Dia hanya duduk diam beberapa saat di tepi kasur, mengumpulkan tenaga.
Dari belakang rumah, suara gerutuan Surinah masih terdengar samar. Dia mengeluhkan kebiasaan Adira yang akhir-akhir ini yang sering bangun lebih siang.
Tanpa membalas apa pun, Adira langsung berjalan ke kamar mandi. Dia mandi cepat, lalu kembali ke kamar untuk mengenakan pakaian. Setelah itu, dia menuju dapur dan mengambil sepiring nasi goreng.
Adira duduk di samping Nina sambil sarapan. Adiknya tersenyum lebar melihat kakaknya duduk di dekatnya. Dia membalas senyum itu kecil sebelum mulai makan.
Setelah sarapan selesai, dia segera pergi ke belakang rumah mengambil kayu bakar yang sudah disiapkan Surinah. Sebelum berangkat, dia sempat mencium kening Nina pelan.
Matahari sudah mulai naik ketika Adira melangkah di jalan setapak desa. Dia mendongak melihat langit yang pagi itu tampak begitu cerah. Di sepanjang jalan, suasana desa mulai ramai oleh aktivitas warga.
Entah kenapa, perasaannya hari itu terasa berbeda. Langkahnya lebih ringan. Senyum kecil hampir tak pernah lepas dari wajahnya.
Setelah mengantarkan pesanan kayu bakar, Adira langsung bergegas menuju tempat berkumpul para kuli panggul di dekat ruko sembako milik Dadang.
Asep sudah duduk di sana. Adira menghampiri lalu duduk di samping sahabatnya itu.
“Jam segini baru datang...” kata Asep sambil meliriknya sekilas. Napasnya masih berat dan keringat membasahi bajunya. “Ke mana saja kau, Dira?”
Adira tertawa kecil. “Aku kesiangan. Akhir-akhir ini tidurku pulas sekali.” dia lalu menatap temannya itu. “Kau sudah manggul berapa karung, Sep?”
Asep menghela napas panjang. “Satu truk beras, berempat,” dia mengusap keringat di lehernya. “Sebentar lagi datang satu truk tepung. Bos Dadang nyuruh kita siap-siap.”
“Tepung?” ulang Adira singkat.
Asep mengangguk.
Bagi para kuli panggul, ada beberapa jenis barang yang paling mereka hindari seperti tepung, bawang, dan cabai.
Tepung sering membuat dada sesak karena debunya beterbangan ke mana-mana. Bawang membuat mata perih. Sedangkan cabai sering membuat kulit terasa panas saat diangkut terlalu lama.
“Bos bilang bakal kasih bonus kalau kita mau ngangkut tepung,” lanjut Asep.
Adira mengangguk pelan.
Sambil menunggu truk datang, mereka duduk santai menikmati gorengan dan kopi hangat.
“Sep...” kata Adira tiba-tiba. Asep menoleh sambil menyalakan rokok. “Saranmu waktu itu ternyata manjur juga.”
“Maksudmu?”
Adira tersenyum kecil. “Setelah aku mulai ngobrol dari hati ke hati sama ibu... dia jadi jarang marah-marah. Sekarang dia cuma marah kalau aku benar-benar salah.”
Asep meliriknya sebentar sambil menghisap rokok. Adira melanjutkan dengan wajah lebih cerah dari biasanya.
“Ibuku juga sekarang sering tersenyum. Wajahnya tidak sedingin dulu.” Dia tertawa kecil. “Tapi anehnya... aku malah jadi lebih malas akhir-akhir ini.”
Asep langsung tertawa pendek. Adira mengernyit bingung. “Sudah kuduga. Kau akhir-akhir ini sering kesiangan, kan? Bahkan beberapa kali kehilangan kerjaan.”
Asep menunjuk sahabatnya dengan rokok di tangan. “Penyebabnya karena itu.”
“Karena apa, Sep?”
Asep menatap Adira cukup lama sebelum menjawab. “Ini cuma dugaanku...” katanya pelan. “Dulu kau hidup tiap hari dimarahi ibumu. Setiap saat. Tubuh dan pikiranmu sudah terbiasa hidup dalam tekanan itu.”
Adira mulai memperhatikan serius.
“Sekarang keadaan berubah. Ibumu lebih tenang. Jarang marah.” Asep menghembuskan asap rokoknya perlahan. “Tubuhmu malah bingung. Sehingga kau mencari masalah supaya ibumu marah.”
Adira terdiam beberapa detik sebelum tertawa kecil.
“Pantas saja...” katanya sambil menggeleng pelan. “Aku memang merasa tenang dan bahagia sekarang. Tapi seperti ada sesuatu yang hilang.”
Asep ikut tersenyum. “Tapi jangan sampai kau sengaja bikin masalah cuma supaya dimarahi lagi.” Nada suaranya mulai serius. “Kalau tidak, ibumu bisa kembali seperti dulu.”
Adira mengangguk pelan.
Belum sempat mereka melanjutkan obrolan, Dadang datang tergesa-gesa dari arah gudang.
“Ayo siap-siap!” teriaknya. “Truk tepung sudah datang!”
Semua kuli panggul langsung berdiri. Mereka mengambil kain lalu mengikatnya di mulut dan hidung sebagai penutup sederhana.
Tanpa banyak arahan, mereka segera mulai menurunkan karung-karung tepung dari dalam truk.
Setiap kali karung dilempar ke pundak atau dijatuhkan ke lantai gudang, debu putih langsung beterbangan memenuhi udara.
Dalam waktu singkat, baju, wajah dan rambut mereka dipenuhi tepung. Udara di sekitar gudang terasa sesak.
Satu jam berlalu. Akhirnya seluruh karung tepung selesai dipindahkan ke dalam gudang.
Para kuli panggul langsung menurunkan kain dari wajah mereka sambil terengah-engah. Beberapa batuk keras karena terlalu banyak menghirup debu.
Adira mengibaskan tangan di depan wajahnya, mencoba menyingkirkan sisa tepung yang masih beterbangan di udara.
Mereka beristirahat sambil menepuk-nepuk baju dan wajah, membersihkan sisa tepung yang menempel di tubuh mereka.
Udara di sekitar gudang masih dipenuhi debu putih tipis. Beberapa kuli panggul batuk sambil meminum air, sementara yang lain duduk selonjoran memulihkan napas.
Tiba-tiba, terdengar suara lembut dari kejauhan. Suara itu terasa begitu familiar di telinga Adira.
Dia langsung menoleh cepat. Di antara keramaian pasar, seorang perempuan berjalan menghampirinya.
Wajahnya cantik dengan bentuk oval dan tulang pipi yang tegas namun lembut. Matanya besar berbentuk almond, berwarna cokelat gelap yang terlihat hangat. Hidungnya mancung dengan garis yang rapi, sementara bibirnya penuh alami dan selalu membentuk senyum menenangkan. Kulitnya cerah. Tubuhnya ramping dengan postur tegak anggun. Rambut sebahunya bergerak pelan tertiup angin pasar.
Perempuan itu adalah Andini. Kekasih Adira.
Hubungan mereka memang baru berjalan sekitar lima bulan, tetapi keduanya saling percaya dan memahami satu sama lain, meski hidup di desa membuat mereka tidak selalu bisa berkomunikasi setiap saat.
Andini berlari kecil menghampiri Adira yang masih duduk terpaku di sudut warung.
“Adira...” panggilnya lembut. Senyumnya manis dan menenangkan seperti biasa.
“Kamu pasti capek hari ini.” Tatapannya memperhatikan wajah dan baju Adira yang masih penuh tepung. “Sudah makan belum?”
Adira menggeleng pelan. Namun senyumnya tak hilang sedikit pun.
“Ayo kita makan,” ajak Andini cepat sambil menarik tangan Adira. “Aku yang traktir.”
Adira sempat menahan langkah. Dia melirik sekilas ke arah Asep yang masih duduk tak jauh dari mereka. Andini terlihat bingung.
“Andini...” kata Adira pelan sambil tersenyum kecil. “Boleh Asep ikut?”