Siang itu matahari bersinar terik. Adira dan Asep duduk di bangku kayu dekat lorong pasar dengan tubuh penuh keringat dan debu.
Baju mereka kusut, sebagian basah menempel di kulit setelah hampir dua jam memindahkan satu truk bawang ke gudang.
Udara terasa panas dan menyengat. Sesekali aroma bawang yang menempel di tangan dan pakaian membuat mata mereka masih perih.
Di depan mereka, pasar tetap ramai seperti biasa. Orang-orang berlalu lalang membawa belanjaan, pedagang saling memanggil pembeli dan suara kendaraan bercampur dengan teriakan para buruh angkut.
Asep menarik-narik leher kaosnya agar angin bisa masuk ke dadanya. Sementara Adira mengibas-ngibaskan selembar kertas ke wajahnya untuk mengusir gerah.
Tiba-tiba Adira menoleh.
“Sep...” katanya pelan. “Kamu bisa naik motor?”
Asep melirik sekilas.
“Bisa. Kenapa?”
“Antar aku ke pasar sentral.”
Pasar sentral berada di kecamatan sebelah. Tempat itu jauh lebih lengkap dibanding pasar desa. Adira ingin membeli pakaian dan keperluan untuk persiapan melamar Andini.
Asep langsung mengangguk santai.
“Ayo saja.” Dia mengusap keringat di lehernya. “Tapi pakai motor siapa?”
Adira tertawa kecil. “Nah itu... aku juga bingung.”
Asep menghela napas panjang lalu langsung berdiri. Dia berjalan menghampiri Dadang yang sedang sibuk mencatat jumlah karung bawang di dekat gudang.
Adira hanya memperhatikan dari kejauhan.
Di sana, Asep berbicara cukup serius dengan bos mereka. Dadang beberapa kali menunjuk ke arah belakang ruko sambil menjelaskan sesuatu.
Asep mendengarkan sambil mengangguk-angguk. Tak lama kemudian, mereka berjalan ke belakang gudang.
Beberapa menit setelah itu, Asep keluar sambil membawa sebuah motor tua. Motor Supra lawas. Catnya sudah hampir hilang. Yang tersisa seperti hanya rangka dan mesin tua yang dipaksa hidup.
Knalpotnya brong mengeluarkan suara memekakkan telinga. Joknya sobek, memperlihatkan busa kuning yang mencuat keluar seperti habis dicakar kucing dan tersayat benda tajam.
GROOOONG! GROOOONG!!!
Asep menggeber motor itu dengan gaya percaya diri.
“Ayo naik, Dira!” teriaknya sambil tertawa. “Kita berangkat sekarang!”
Adira menatap motor itu cukup lama dengan wajah ragu.
“Sekarang banget, Sep?”
“Iya lah.” Asep mengangkat alis. “Pasar sentral jauh. Lagipula tanggung aku sudah pinjam motor ke Bos.”
Adira akhirnya naik ke belakang motor. Belum sempat duduk sempurna, Asep langsung memutar gas.
GROOOOOOOOONG!!!
Motor tua itu melesat keluar dari pasar. Suara knalpotnya membuat beberapa orang menutup telinga sambil melirik kesal.
Perjalanan menuju pasar sentral cukup jauh. Jalanan yang mereka lewati naik turun, melewati perkampungan, sawah dan jalan kecil yang berlubang di beberapa bagian.
Angin menerpa wajah mereka cukup kencang. Di tengah perjalanan, Adira mulai merasa khawatir.
“Sep!” teriaknya keras karena kalah oleh suara motor.
“HAH! Apa?!” balas Asep sama kerasnya.
“Motor ini kuat buat tanjakan?”
“Tenang saja!” jawab Asep mantap. “Aku sudah handal!”
Jawabannya sama sekali tidak nyambung. Namun entah kenapa, Adira malah tertawa kecil dan merasa sedikit lebih tenang.
Matahari mulai condong ke barat saat mereka akhirnya tiba di pasar besar.
Begitu turun dari motor, Adira langsung berjalan menuju toko emas yang berada tak jauh dari area parkir. Asep mengikuti di belakang.
Di dalam toko, Adira sibuk memperhatikan berbagai cincin yang tersusun rapi di dalam etalase kaca.
Sementara pemilik toko memperhatikan mereka dari balik meja dengan tatapan sedikit curiga.
Bukan tanpa alasan. Pakaian Adira dan Asep masih penuh noda keringat, debu dan bau bawang. Sandal mereka pun terlihat usang.
“Ada yang bisa dibantu, Mas?” tanya pemilik toko dengan nada sopan.
Adira tersenyum kecil. “Aku cari cincin buat lamaran.”
Pemilik toko itu langsung mengangguk. Dia mengambil sebuah kotak perhiasan kecil berwarna hitam dari bawah etalase, lalu membukanya perlahan di atas kaca.
“Ini cincin couple,” katanya sambil menunjukkan sepasang cincin sederhana. “Emas dan perak. Cocok untuk lamaran.”
Cincin itu berkilau lembut terkena cahaya lampu toko. Tatapan Adira langsung tertahan di sana.
“Berapa harganya?” tanyanya pelan.
“Yang ini paling murah.” Pemilik toko tersenyum tipis. “Dua juta lima ratus.”
Adira terdiam. Dia kembali melihat cincin itu cukup lama. Sementara pemilik toko diam-diam memperhatikan wajah pemuda di depannya.
“Mungkin masih bisa ditawar,” katanya kemudian.