Kenapa?

Rian Nugraha
Chapter #5

MANIS - Bagian 3

Cahaya matahari pagi menyapa desa itu dengan hangat dan lembut. Sinarnya memantul di dedaunan yang masih basah oleh embun. Udara terasa segar, bercampur aroma tanah dan angin laut yang berembus pelan dari kejauhan.

Hari itu menjadi hari paling berharga dalam hidup Adira. Hari ketika dia akan melamar perempuan yang dicintainya, Andini.

Adira berdiri di depan pintu rumah sambil merapikan ujung lengan batiknya. Dia mengenakan batik biru bermotif cakar ayam, dipadukan dengan celana katun hitam dan sepatu pantofel kulit yang mengilap.

Wajahnya terlihat tegang, tetapi sorot matanya menyimpan kebahagiaan yang sulit disembunyikan.

Di sampingnya, Surinah mengenakan kebaya lama berwarna biru tua yang warnanya mulai memudar dimakan usia. Meski sederhana, dia tetap terlihat anggun. Rambutnya disanggul rapi. Sementara Nina memakai kebaya bermotif mawar merah dengan kain panjang yang sedikit kebesaran di tubuhnya.

Nina terus tersenyum sejak tadi. Sesekali memegang tangan kakaknya, kadang membetulkan kerah baju Adira dengan polos.

Tak lama kemudian, Iskandar datang bersama istri dan anaknya. Beberapa tetangga ikut berkumpul untuk mengantar rombongan lamaran.

Pakaian mereka sederhana, tetapi wajah-wajah itu dipenuhi kebahagiaan tulus.

“Dira...” panggil Iskandar sambil tertawa kecil. Dia memegang bahu Adira erat-erat. “Kau tampan sekali. Aku jadi ingat waktu Darsono melamar ibumu dulu.”

Surinah langsung tersipu malu sambil tertawa pelan. Tangannya sibuk merapikan rambut Nina yang terus bergerak ke sana kemari.

Dari kejauhan, suara motor berisik mulai terdengar mendekat.

GROOOONG! GROOOONG!

Asep datang dengan motor Supra tua yang dipinjamnya dari Dadang. Motor itu masih sama mengenaskannya seperti biasa. Knalpot brongnya meraung keras memecah pagi yang tenang.

Begitu turun dari motor, Asep langsung terdiam melihat penampilan sahabatnya. Matanya memandang Adira dari atas sampai bawah.

“Sahabatku memang tidak ada duanya,” katanya sambil tertawa bangga. “Andini pasti langsung terpesona melihatmu.”

Namun, Adira yang memperhatikan Asep dengan heran.

Asep memakai batik merah yang warnanya sudah memudar. Salah satu kancing tengahnya diganti jarum peniti kecil. Celana hitamnya tampak lusuh dengan beberapa tambalan di lutut. Bahkan sepatu kulitnya terlihat memutih dan goresan bekas cakaran kucing.

“Asep...” Adira menahan tawa kecil. “Katanya mau pakai baju terbaik?”

Asep mengusap tengkuknya malu-malu. “Ya ini yang terbaik,” jawabnya santai. “Peninggalan ayah dan kakekku.”

Mendengar itu, Adira tersenyum hangat. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia langsung memeluk sahabatnya erat.

Asep sempat kaget sebelum akhirnya tertawa kecil sambil menepuk punggung Adira.

Tak lama kemudian, rombongan berangkat menuju rumah Andini menggunakan dua mobil bak terbuka dan beberapa motor.

Sepanjang perjalanan, Asep berkali-kali menggeber motornya dengan penuh semangat.

GROOOONG! GROOOONG!

Lihat selengkapnya