Adira berdiri di ruang tengah rumahnya sambil memandangi foto lamaran yang tergantung sederhana di dinding kayu. Senyum hangat tak lepas dari wajahnya.
Di foto itu, dirinya dan Andini berdiri berdampingan dengan wajah penuh kebahagiaan. Di samping mereka ada Surinah, Nina, Agus, dan Dewi yang ikut tersenyum ke arah kamera.
Untuk sesaat, Adira hanya diam memandangi foto itu. Dadanya terasa penuh. Semua perjuangan, lelah dan luka yang selama ini dia jalani perlahan seperti menemukan arah. Kini tinggal selangkah lagi menuju pelaminan.
Surinah dan Nina sudah pergi lebih dulu sejak pagi untuk mencari kayu bakar di perbukitan dekat pantai. Mereka berangkat sebelum matahari benar-benar naik.
Pagi itu dia berangkat kerja dengan perasaan yang jauh berbeda.
Sepanjang jalan menuju pasar, Adira tak berhenti bersenandung kecil. Langkahnya mengikuti irama lagu yang dinyayikannya. Sesekali tubuhnya ikut bergoyang kecil sendiri.
Sesampainya di pasar, dia langsung bekerja tanpa banyak bicara. Karung beras, bawang, minyak, tepung. Semua diangkutnya tanpa mengeluh.
Keringat membasahi bajunya sejak pagi, tetapi wajahnya justru terlihat semakin hidup.
Bahkan saat para kuli panggul lain duduk beristirahat, Adira masih mondar-mandir di dalam pasar menawarkan jasa angkut kepada para pedagang dan pengunjung.
“Dira...” teriak Asep dari kejauhan. “Ayo makan dulu.”
Adira yang baru keluar dari lorong pasar langsung berhenti. Dia menoleh sambil tersenyum lebar, lalu berjalan menghampiri teman-temannya yang sudah duduk di depan warung makan langganan mereka.
Warung kecil itu cukup ramai siang itu. Asap dari masakan mengepul dari dapur terbuka di belakang. Aroma gorengan dan sambal terasi memenuhi udara. Bunyi piring beradu dan suara obrolan para pembeli.
Adira dan Asep duduk di bangku kayu panjang dekat kipas angin tua yang berputar lambat.
Tak lama kemudian, dua piring nasi hangat dengan lauk sederhana tersaji di depan mereka.
Adira langsung makan dengan lahap. Wajahnya sama sekali tidak terlihat lelah. Justru matanya tampak penuh semangat.
“Asep...” katanya sambil mengunyah. “Ibuku sekarang berangkat lebih pagi. Bahkan Nina ikut cari kayu ke bukit. Mereka berkerja keras untuk membantuku.”
Asep menelan nasi di mulutnya sebelum menjawab.
“Membantu apa?”
“Membantu cari uang buat nikahanku nanti.”
Asep mengangguk pelan sambil meminum air dari gelas plastik bening di depannya. Beberapa detik dia terdiam seperti memikirkan sesuatu.
“Dira...” katanya kemudian. “Aku punya ide.”
Adira menoleh.
“Bagaimana kalau kita kerja tambahan di toko bangunan?”
Adira mengernyit.
“Terus di pasar bagaimana?”
“Tenang saja,” jawab Asep santai. “Kerjanya mulai jam tiga sore sampai jam delapan malam. Jadi pagi sampai siang kita tetap bisa kerja di pasar.”
Adira mulai tertarik. “Emang bisa?”
“Bisa,” lanjut Asep sambil menyuap nasi lagi. “Aku kemarin ditawari kerja di sana. Kalau kamu mau, nanti aku bilang mau bawa satu orang lagi. Aku cukup dekat sama pemilik tokonya.”
Adira terdiam sesaat. Kemudian dia mengangguk pelan. Asep tersenyum kecil melihat respon temannya itu.
Setelah selesai makan, mereka kembali bekerja di pasar hingga sore menjelang.
Matahari mulai turun perlahan. Cahaya jingga memantul di atap-atap kios dan jalanan pasar yang mulai lengang.
Tubuh mereka terasa pegal setelah seharian mengangkut barang. Namun hari itu belum selesai.
Menjelang petang, Adira dan Asep berjalan menuju sebuah toko bangunan yang berada di pinggir jalan raya.
Toko itu cukup besar. Tumpukan semen, pasir, cat dan keramik tersusun di halaman depan. Lampu-lampu toko mulai dinyalakan ketika mereka datang.
Asep langsung masuk ke dalam toko menghampiri pemiliknya.
“Pak Aep,” panggilnya sopan. “Bagaimana soal tawaran kerja kemarin?”
Pria paruh baya itu menoleh dari meja kasirnya. “Kau mau, Sep?”
“Iya, Pak,” jawab Asep sambil melirik Adira di belakangnya. “Kalau boleh... temanku ikut kerja juga.”
Aep memandang Adira beberapa detik. Adira langsung mengangguk kecil sambil tersenyum sopan.
“Bisa,” jawab Pak Aep cepat. “Tapi tugas kalian cuma angkut barang sama rapikan gudang.”
Asep dan Adira langsung menyimak serius.
“Kerjanya mulai jam tiga sore sampai toko tutup,” lanjut Aep. “Bayar harian. Kalau kerja kalian bagus, nanti ada tambah.”