Hujan deras tiba-tiba turun mengguyur pasar. Orang-orang berhamburan mencari tempat berteduh. Para pedagang sibuk membereskan dagangan mereka agar tidak basah terkena air hujan yang tertiup angin.
Di sebuah warung kopi kecil di pinggir pasar, Adira duduk santai sambil menikmati udara dingin yang dibawa hujan. Tangannya memegang selembar kertas kusam berisi gambar dirinya yang dibuat Nina. Dia memandanginya lama dengan senyum tulus yang sulit disembunyikan.
Tak lama kemudian, Asep berlari dari arah gudang menuju warung. Bajunya sedikit basah. Rambutnya kuyup dan meneteskan air.
“Huh... hujannya deras,” gerutunya sambil mengibas-ngibaskan rambut dengan tangan.
Cipratannya mengenai wajah Adira dan tetesan air hampir membasahi gambar di tangannya. Dengan cepat Adira memasukkan kertas itu ke balik bajunya untuk melindunginya.
“Sopan, Asep...” tegurnya dengan nada sedikit tinggi.
Asep malah tertawa. Sengaja mendekatkan kepalanya lalu mengibaskan rambutnya lebih keras ke arah Adira.
Namun tawanya perlahan berhenti saat melihat sahabatnya menunduk seperti menjaga sesuatu dengan serius.
“Apa itu?” tanyanya penasaran.
“Apa?”
“Yang kau sembunyikan di dalam baju.”
Adira akhirnya mengeluarkan kertas itu perlahan lalu memperlihatkannya.
“Gambar diriku,” katanya sambil tersenyum bangga. “Bagus, kan?”
Asep mengernyit heran sambil mengambil kertas itu.
“Sejak kapan kau suka menggambar?” tanyanya sambil memperhatikan garis-garis pensil di kertas kusam itu. “Kau mau jadi pelukis?”
“Bukan,” jawab Adira cepat. “Ini buatan Nina. Adikku ternyata pandai sekali menggambar.”
Asep menatap gambar itu lebih teliti. Guratan pensilnya memang sederhana, tapi hidup. Wajah Adira di gambar itu terlihat hangat dan penuh ekspresi.
“Aku sudah bilang, kan, Dira...” ucap Asep pelan sambil mengembalikan kertas itu. “Adikmu pasti punya kelebihan yang tidak dimiliki semua orang.”
Adira mengangguk pelan. Senyumnya melebar sampai giginya terlihat.
“Kau harus mendukungnya, Adira,” lanjut Asep.
Kalimat itu membuat Adira mendadak terdiam. Dahinya mengerut kecil, memikirkan sesuatu di dalam kepalanya.
Hujan perlahan mereda. Tetesannya berubah menjadi rintik-rintik tipis yang jatuh pelan.
Tanpa banyak bicara, Adira berdiri.
“Ayo ikut, Sep,” katanya singkat.
Asep kebingungan, tapi tetap mengikuti langkah sahabatnya itu.
Mereka berjalan cepat menyusuri lorong pasar yang masih basah hingga berhenti di sebuah toko alat tulis kecil.