Kenapa?

Rian Nugraha
Chapter #8

INDAH - Bagian 3

Angin pantai berembus pelan, mengibaskan rambut Nina yang berdiri memandang lautan biru di hadapannya. Di kejauhan, perahu-perahu nelayan tampak kecil berlayar di atas permukaan air yang berkilau terkena cahaya matahari.

Minggu pagi itu, Adira menemani adiknya bermain di pinggir pantai sambil membawa buku gambar dan pensil warna milik Nina.

Adira berdiri beberapa langkah di belakang adiknya. Dia memperhatikan Nina yang begitu fokus menatap laut. Cahaya yang hangat menyinari wajah gadis itu, membuat senyumnya terlihat semakin cerah.

Perlahan Adira berjalan menghampiri, menendang pasir putih kecil di sepanjang langkahnya.

“Apa yang ingin kamu gambar, Nina?” tanyanya lembut saat sudah berdiri di samping adiknya.

Nina tersenyum lalu menunjuk ke arah laut.

“Kamu mau menggambar laut?”

Nina cepat-cepat menggeleng.

“Perahu-perahu itu?”

Adiknya kembali menggeleng sambil tersenyum kecil.

Adira mulai menyipitkan mata curiga.

“Kamu mau pergi ke sana?”

Kali ini Nina langsung mengangguk cepat. Wajahnya berubah memelas. Adira langsung menghela napas panjang.

“Tidak. Itu tidak mungkin,” katanya tegas. “Ibu melarang kita pergi ke laut.”

Nina langsung menunduk kecewa. Bibirnya mengerucut kesal.

Adira tahu, kalau mereka tetap berada di sana, Nina akan terus memaksa. Dia pun meraih tangan adiknya dan mencoba mengajaknya pulang.

Namun sebelum mereka berjalan jauh, terdengar suara dari belakang.

“Dira!”

Adira menoleh. Iskandar berjalan mendekat sambil membawa jaring dan dayung di pundaknya.

“Tumben kamu di sini pagi-pagi,” kata pria itu sambil tersenyum.

“Hanya lihat pantai sebentar,” jawab Adira cepat. Dia langsung menarik tangan Nina. “Ayo pulang.”

Namun Nina malah memeluk lengan kakaknya erat-erat sambil kembali memasang wajah memelas.

Iskandar mengernyit heran. “Ada apa?”

“Nina mau naik perahu dan pergi ke laut,” jawab Adira lelah. “Tapi ibu melarang.”

“Sudahlah...” sela Iskandar cepat sambil tertawa kecil. “Tidak akan apa-apa. Ayo, Nina.”

Mata Nina langsung berbinar. Dia segera berjalan mengikuti Iskandar menuju perahu. Adira berdiri diam beberapa saat. Wajahnya bingung setengah panik.

Mereka terus berjalan ke arah perahu kecil milik Iskandar yang terikat di bibir pantai. Nina naik lebih dulu dengan wajah penuh semangat. Iskandar menyusul di belakangnya. Sementara Adira masih berdiri sambil memegang sisi perahu.

“Tunggu dulu...” katanya panik. “Kalau ibu tahu, kita bisa habis, Nina.”

Nina sudah duduk manis di tengah perahu sambil memeluk buku gambarnya erat-erat. Senyumnya begitu lebar sampai Adira sulit menolak.

Dia menatap wajah adiknya cukup lama. Ada kebahagiaan polos yang jarang sekali dia lihat. Akhirnya Adira menyerah.

Lihat selengkapnya