Kenapa?

Rian Nugraha
Chapter #9

INDAH - Bagian 4

Andini berjalan riang di tengah sibuknya pasar desa yang riuh. Terik matahari tak membuatnya lelah, meski keringat mulai membasahi dahi dan lehernya.

Di tangannya, tergenggam tas kecil berisi makanan. Siang itu, Andini ingin memberikan masakan hasil memasaknya sendiri untuk Adira.

Sesampainya di depan kios milik Dadang, Andini berhenti. Matanya bergerak ke segala arah, mencari keberadaan kekasihnya. Di balik truk pengangkut beras, dia melihat Adira sedang memanggul karung. Tubuhnya kotor dan penuh keringat.

Andini tidak memanggilnya. Dia memilih duduk di warung kecil dekat kios, memperhatikan lelaki yang dicintainya itu bekerja keras.

Senyum bangga perlahan tumbuh di wajahnya. Adira sama sekali tidak sadar sedang diperhatikan.

Andini memandanginya begitu detail. Cara Adira mengangkat karung, memanggul beban berat di pundaknya, napasnya yang terengah, hingga debu yang menempel di bajunya. Membuat hati Andini terasa hangat.

Setengah jam berlalu. Adira akhirnya selesai bekerja. Dia berjalan menuju warung bersama beberapa kuli panggul lain.

Langkahnya melambat ketika melihat Andini sudah duduk di sana dengan senyum lembut yang menunggunya.

“Andini... sejak kapan kamu di sini?” tanya Adira sambil duduk di sampingnya.

“Tidak lama,” jawab Andini sambil mengayun-ayunkan kaki pelan. “Ini... aku masak buat kamu.”

Adira langsung membuka tas kecil itu. Aroma masakan hangat segera menyeruak.

“Ini masakanmu?” katanya dengan mata berbinar. “Wah... harum sekali. Banyak lagi.”

Dari kejauhan, Asep melihat mereka berdua duduk bersama. Matanya sedikit menyipit penuh curiga. Dia berjalan santai mendekat, lalu duduk tepat di samping Adira.

“Sep, ini enak. Buatan Andini,” kata Adira sambil menyodorkan makanan.

Asep menggeleng pelan, menolak dengan wajah tenang. Namun sedetik kemudian, perutnya berbunyi cukup keras.

Adira langsung tertawa. “Jangan malu, Sep. Kita makan berdua... ini banyak.”

Asep mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Andini. Wajahnya polos.

“Boleh?”

Andini tertawa kecil. “Boleh.”

Tanpa basa-basi lagi, Asep langsung mengambil piring Adira dan mulai makan dengan lahap.

“Wah... enak sekali...” katanya dengan mulut penuh.

Andini tertawa melihat tingkah dua sahabat itu yang berebut makanan.

Suasana warung kecil itu mendadak terasa hangat di tengah bising pasar dan suara hujan gerobak yang berlalu-lalang.

Setelah makan selesai, suasana mulai lebih tenang.

Lihat selengkapnya