Kenapa?

Rian Nugraha
Chapter #10

INDAH - Bagian 5

Matahari pagi sudah sedikit meninggi saat Andini datang ke rumah kecil Adira. Gadis itu diantar ayahnya menggunakan motor, berhenti tepat di depan halaman rumah.

Pagi itu, Andini ingin mengajari Nina melukis dengan lebih serius.

Agus mematikan mesin motornya, lalu menoleh ke arah Surinah yang baru keluar dari rumah sambil mengusap tangan di kain bajunya.

“Pagi, Surinah,” sapa Agus ramah.

“Pagi...” jawab Surinah sambil tersenyum tipis. “Merepotkan sekali harus antar Andini ke sini.”

“Tidak...” kata Agus pelan. Menggeleng. “Andini memang senang datang ke sini.”

Surinah melirik putri calon menantunya yang sedang berdiri sambil tersenyum ke arah Nina.

“Sejak kenal Adira, anakmu jadi sering keluar rumah,” ucap Surinah sambil tertawa kecil.

Agus ikut tersenyum. “Bagus begitu. Andini jadi lebih banyak tertawa sekarang.”

Beberapa detik mereka terdiam, menikmati suasana pagi yang tenang.

“Adira sudah berangkat kerja?” tanya Agus.

“Sudah dari subuh,” jawab Surinah. “Dia sekarang makin semangat cari uang.”

Agus mengangguk pelan. Tatapannya hangat. “Anakmu lelaki baik, Surinah. Dia pekerja keras.”

Surinah tersenyum kecil mendengar pujian itu, meski matanya terlihat sedikit berkaca-kaca.

Agus berpamitan kembali ke pulang.

“Nanti sore, aku jemput Andini lagi ke sini.”

Surinah mengangguk.

Setelah Agus pergi, Andini masuk ke dalam rumah bersama Nina.

Rumah kecil itu terasa hangat meski sederhana. Cahaya matahari masuk dari sela-sela dinding kayu, membentuk garis-garis tipis di lantai rumah.

Nina menarik pelan tangan Andini, mengajaknya ke belakang rumah.

Di sana, angin pantai bertiup lembut. Tumpukan kayu bakar tersusun rapi di samping rumah, sementara perahu tua milik Darsono masih berdiri kokoh di sudut rumah.

Catnya memang mulai pudar dimakan usia, tetapi masih terlihat kokoh dan kuat.

“Ini perahu yang diceritakan Adira, ya...” ucap Andini pelan sambil menyentuh lambung perahu itu hati-hati.

Nina mengangguk cepat. Senyumnya tak hilang. Sementara itu, Surinah terlihat sedang merapikan kayu bakar beberapa meter dari mereka.

“Kamu ingin menggambar perahu ini?” tanya Andini lembut.

Nina kembali mengangguk. Dia segera duduk di atas kursi kayu, membuka buku gambarnya, lalu mulai menggambar.

Matanya melihat ke arah perahu. Sesekali menoleh ke arah ibunya yang sedang jongkok mengikat kayu kering.

Andini memperhatikannya diam-diam. Dia tidak mengganggu. Membiarkan Nina fokus masuk ke dunianya sendiri.

Perlahan, garis-garis mulai terbentuk di atas kertas.

Perahu tua itu tergambar cukup detail. Lambungnya berwarna hijau muda dengan garis biru di sisi kiri dan kanan. Bagian tepinya diberi warna merah kusam seperti cat yang mulai terkelupas.

Nina bahkan menggambar tali tambang kecil yang tergantung di ujung perahu, lengkap dengan bayangan tipis di bawahnya.

Andini memperhatikan dengan kagum. Tak lama kemudian, Nina mulai menggambar sosok seseorang di atas perahu.

Seorang pria duduk menghadap depan sambil mengenakan topi caping tua. Bajunya sederhana, lengan panjang dengan gulungan di siku. Meski hanya gambar pensil warna sederhana, senyum pria itu terlihat hangat dan tenang.

Setelah itu, Nina kembali menggerakkan pensilnya.

Kini muncul sosok perempuan di dekat tumpukan kayu bakar. Perempuan itu digambar sedang jongkok sambil mengikat kayu dengan tali. Rambutnya disanggul sederhana, sementara ujung bajunya sedikit tertiup angin.

Andini perlahan mulai memahami gambar itu. Dia menoleh ke arah perahu tua. Lalu memandang Surinah yang masih sibuk merapikan kayu bakar di belakang rumah.

Nina kemudian menyerahkan gambar itu kepada Andini dengan mata berbinar.

“Ini ayahmu sedang duduk di perahu?” tanya Andini sambil menunjuk sosok pria di gambar.

Nina langsung mengangguk cepat.

“Ini Bu Surinah?” tanyanya lagi sambil tersenyum kecil. “Jadi begitu... ayahmu sedang melihat ibumu merapikan kayu bakar, ya?”

Nina tertawa kecil sambil mengangguk malu-malu. Andini tersenyum hangat. Lalu mencubit pipi Nina gemas.

Mendengar percakapan mereka, Surinah yang sedang mengikat kayu perlahan menoleh. Dia menghampiri mereka dengan langkah pelan.

Tangannya mengambil gambar itu dari Andini. Beberapa detik Surinah hanya diam memandang gambar tersebut.

Matanya bergerak dari sosok Darsono di atas perahu, lalu ke gambar dirinya sendiri di dekat tumpukan kayu.

Perlahan, senyum kecil muncul di wajahnya. Tanpa berkata apa-apa, Surinah mengusap kepala Nina lembut sebelum kembali berjalan ke dapur dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.

Andini lalu mengambil pensil warna miliknya. Dengan hati-hati dia membantu memperjelas warna laut, bayangan langit dan cahaya matahari di permukaan perahu.

Kini gambar itu terlihat semakin hidup. Darsono tampak sedang duduk tenang sambil tersenyum ke arah Surinah yang merapikan kayu bakar di bawah cahaya pagi.

Andini memandangi gambar itu cukup lama. Dia tersenyum kecil, lalu mengangguk pelan penuh kagum.

“Nina...” katanya lembut. “Kamu benar-benar hebat.”

Lihat selengkapnya