Sore hari sangat cerah. Langit membentang biru tanpa banyak awan. Udara yang biasanya panas kini terasa lebih sejuk.
Adira duduk di bangku kayu depan rumah sambil menatap langit. Sebatang rokok terselip di jemarinya, mengeluarkan asap tipis.
Di halaman, Nina berlari kecil mengejar seekor anak anjing liar berwarna cokelat kusam. Tawanya terdengar lepas dan ceria, memecah tenangnya sore itu.
Sementara itu, dari dapur terdengar suara peralatan makan beradu pelan. Surinah sibuk membungkus makanan ke dalam kain kecil. Ada singkong rebus, kacang polong dan beberapa gorengan untuk mereka makan nanti.
Sore itu mereka berencana pergi menikmati waktu bersama di pinggir pantai.
Tak lama kemudian, suara motor ojek terdengar mendekat dari jalan setapak.
Andini datang sambil membawa ransel cukup besar di punggungnya. Rambutnya sedikit bergerak tertiup angin. Senyumnya langsung mengembang begitu melihat Adira dan Nina sudah bersiap.
Surinah keluar dari rumah sambil membawa buntalan kain berisi makanan.
Adira berdiri menyambut kekasihnya. Sementara Nina mendadak diam terpaku melihat Andini datang.
Dengan langkah ringan, Andini menghampiri Nina lalu membuka ranselnya perlahan. Dari dalam tas itu, dia mengeluarkan gulungan kain kanvas dan satu kotak cat akrilik lengkap dengan kuas.
Mata Nina langsung membesar. Dia mengambil barang-barang itu dengan hati-hati, lalu tersenyum begitu lebar hingga giginya terlihat jelas.
Adira ikut menghampiri. Tatapannya sedikit terkejut.
“Kamu memberikan itu, Andini?” tanyanya pelan.
Andini mengangguk sambil tersenyum kecil.
“Itu mahal...” ucap Adira lagi.
“Tidak apa-apa,” potong Andini lembut. “Aku juga senang melihat Nina bahagia.”
Adira terdiam sesaat. Dia melihat adiknya yang memeluk kanvas itu erat-erat seperti memegang sesuatu yang sangat berharga.
Di belakang mereka, Surinah memperhatikan semuanya sambil tersenyum tipis. Kedua tangannya masih memegang kain berisi makanan.
“Ayo kita berangkat,” ajaknya hangat.