Adira berjalan seorang diri di pantai. Kakinya menapak perlahan di atas pasir putih yang sesekali tersapu ombak kecil. Langkahnya tenang, tidak terburu-buru. Kepalanya sedikit tertunduk.
Langit sore perlahan berubah warna. Biru mulai bercampur jingga dan keemasan. Burung-burung laut terbang rendah di kejauhan.
Adira berhenti. Dia berdiri menghadap laut lepas. Adira menarik napas panjang. Matanya terpejam.
Angin laut berembus pelan, mengibaskan rambut dan ujung bajunya. Untuk beberapa saat, dia hanya berdiri diam menikmati ketenangan itu.
Sore perlahan berubah menjadi malam. Adira menghabiskan waktu seorang diri di pantai, ditemani suara ombak dan langit yang semakin gelap.
Saat cahaya matahari benar-benar menghilang saat Adira akhirnya berjalan pulang.
Jalan setapak yang tadi ramai kini mulai sepi. Lampu-lampu rumah penduduk menyala satu per satu di kejauhan. Suara jangkrik mulai terdengar nyaring.
Ketika sampai di rumah, aroma masakan langsung menyambutnya.
Adira melangkah ke dapur. Surinah sedang memasak. Asap tipis mengepul dari wajan. Suara minyak mendesis.
“Ibu...” panggil Adira pelan.
Surinah menoleh sekilas sambil tetap membalik masakannya. “Ada apa?”
Adira berdiri di dekat pintu dapur. Tatapannya tertuju pada ibunya. “Apakah aku harus mencari pekerjaan lain?”
Tangan Surinah yang sedang memegang spatula berhenti sejenak. Dia menoleh lebih penuh ke arah anaknya.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu sudah bosan bekerja di pasar?”
Adira menggeleng pelan. “Tidak. Aku hanya butuh penghasilan yang lebih besar.”
Surinah kembali memperhatikan masakannya sebelum menjawab. “Adira...” katanya pelan. “Apa sebenarnya yang ingin kamu capai? Menikah dengan Andini dan membahagiakan Nina?”
“Keduanya,” jawab Adira tanpa ragu.
Surinah tersenyum tipis. Dia mematikan api kompor, lalu mengelap tangannya dengan kain sebelum menghampiri anaknya.
“Andini tidak pernah menuntutmu,” ucapnya lembut. “Nina juga tidak pernah meminta apapun. Ibu juga tidak menekanmu.”
Surinah menatap mata anaknya dalam-dalam. “Ibu hanya ingin kamu hidup bahagia bersama orang-orang yang kamu cintai.”
Adira membalas dengan senyum kecil. Dia tidak menjawab.
Perlahan dia meninggalkan dapur dan berjalan ke ruang tengah. Di sana, Nina sedang duduk di lantai sambil memandangi hasil lukisannya di atas kanvas.
Cahaya lampu menerangi wajahnya yang serius. Sesekali gadis itu memiringkan kepala, memperhatikan setiap warna.
Adira berdiri di belakang adiknya. Diam. Dia hanya memandang. Melihat Nina yang begitu bahagia dengan dunia kecilnya sendiri. Tanpa mengganggu, Adira kembali berbalik dan keluar rumah.
Dia duduk di bangku kayu depan rumah. Malam sudah turun sepenuhnya. Langit gelap membentang luas. Hanya beberapa bintang yang terlihat di sela-sela awan.
Adira menyalakan sebatang rokok. Api kecil di ujungnya menyala sesaat sebelum berubah menjadi bara merah yang redup.
Dia duduk sendirian cukup lama. Mendengarkan suara angin, suara samar ombak dari kejauhan dan kehidupan kecil di dalam rumah yang begitu dia cintai.
***
Adzan subuh baru saja berkumandang ketika Adira sudah berada di pasar. Langit masih gelap kebiruan, namun keringat sudah membasahi pakaiannya.
Pasar sudah mulai sibuk. Para pedagang sayur menghamparkan dagangan yang masih segar. Aroma tanah basah, sayuran dan buah-buahan bercampur menjadi satu.
Adira berjalan pelan sambil memanggul peti berisi buah-buahan di pundaknya. Setelah meletakkannya di lapak pedagang, dia menerima upah lalu kembali berkeliling mencari pekerjaan lain.
Tak lama kemudian, sebuah mobil bak terbuka yang membawa kubis tiba di area pasar.
Beberapa menit setelah mendapat izin, Adira sudah memanggul karung-karung kubis satu per satu.
Subuh itu, dia tak berhenti bekerja. Buah-buahan, kubis, peti, karung, apa pun yang bisa menghasilkan uang akan dia angkut. Langkahnya cepat. Napasnya berat. Namun semangatnya tak berkurang sedikit pun.
Tanpa terasa, pagi datang. Sinar matahari mulai menyinari atap-atap pasar yang semakin ramai. Suara tawar-menawar dan teriakan pedagang memenuhi udara.
Barulah Adira pergi ke tempat berkumpul para kuli panggul. Di tangannya ada sebungkus gorengan hangat. Dia duduk di bangku kayu, menikmati gorengan itu bersama secangkir kopi panas dan sebatang rokok.
Matahari sudah naik sedikit ketika Asep datang. Langkahnya melambat saat melihat sahabatnya sudah duduk di sana dengan baju yang basah oleh keringat. Lumpur masih menempel di pundaknya.
“Ini masih pagi, Dira...” kata Asep sambil menghampiri. “Kau sudah memanggul berapa banyak?”
“Lumayan,” jawab Adira santai sambil menggigit gorengan. “Aku sudah memanggul buah dan satu truk kubis.”
Asep sedikit terpaku mendengarnya.
“Aku butuh penghasilan lebih, Sep. Jadi aku harus lebih rajin bekerja.”
Asep tertawa pelan. Dia duduk di samping Adira lalu mengambil satu gorengan dari plastik.
“Dira... kau memang pekerja keras. Tapi jangan sampai kau melewati batas.”
Adira tertawa cukup keras. “Aku pasti akan melewati batasanku. Pokoknya aku harus berjuang untuk mimpiku sendiri.”
Asep hanya menggeleng kecil. Senyum tipis muncul di wajahnya.
Tak lama kemudian, suara mesin truk terdengar memasuki area pasar. Sebuah truk pengangkut beras datang.
Adira langsung berdiri dan menghampiri Dadang. Asep mengikuti dari belakang. Para kuli panggul lainnya pun segera berkumpul.
Karung-karung beras mulai berpindah dari bak truk ke gudang.
Adira bekerja dengan penuh semangat. Karung demi karung dia pikul tanpa banyak bicara. Keringat terus mengalir membasahi wajah dan lehernya.
Di sela-sela pekerjaan itu, Asep beberapa kali memperhatikan sahabatnya. Bukan karena kagum. Melainkan karena khawatir. Namun Adira tampak tak menyadarinya.