Kenapa?

Rian Nugraha
Chapter #13

HILANG - Bagian 2

Lima bulan lagi adalah momen paling bersejarah dalam hidup Adira. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan semangat dan tekad yang semakin besar, dia terus bekerja tanpa mengenal rasa lelah.

Satu minggu berlalu sejak pertemuan dua keluarga di rumah kecilnya. Selama itu, Adira hampir tidak pernah beristirahat. Tidak ada hari libur. Bahkan porsi pekerjaannya terus bertambah.

Tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Punggungnya sedikit membungkuk. Wajahnya tampak pucat dan letih. Kantung mata mulai terlihat jelas. Matanya memerah karena kurang tidur. Sesekali dia batuk kecil. Namun Adira tetap memaksakan diri.

Di tengah ramainya pasar siang itu, Adira duduk bersandar di papan penyangga warung. Dadanya naik turun cukup cepat. Keringat mengalir deras dari dahinya hingga membasahi kerah baju.

Tak lama kemudian Asep datang membawa sebotol air mineral dingin. Dia menyerahkannya tanpa banyak bicara.

Adira langsung membuka tutup botol dan meneguk sedikit air. Setelah itu ditempelkannya ke pipi dan dahinya.

“Sebaiknya kau pulang dan beristirahat,” kata Asep sambil duduk di sampingnya.

Adira mengubah posisi duduknya. Dia memaksa tubuhnya tegak. Tangannya masih memegang botol air di wajahnya.

“Tidak. Aku harus tetap bekerja, Sep.”

“Kau sakit, Adira. Istirahat saja dulu. Kalau sudah sembuh, baru kembali ke pasar.”

Adira menggeleng. “Ini hanya demam biasa. Besok juga sembuh.”

Asep tak membalas. Dia hanya menarik napas panjang sambil memandang keramaian pasar.

Tak lama kemudian suara mesin truk terdengar memasuki area bongkar muat. Truk berisi beras datang. Para kuli panggul segera berkumpul.

Adira langsung berdiri. Langkahnya sedikit limbung saat menghampiri truk. Satu per satu karung beras dia pikul ke pundaknya. Langkahnya tak lagi secepat biasanya. Napasnya pendek dan tidak beraturan.

Dari dalam gudang, Asep memperhatikannya dengan perasaan tidak tenang.

Pekerjaan mengangkut beras baru selesai ketika matahari mulai bergerak ke arah barat.

Pasar perlahan berubah lebih lengang. Para pedagang mulai membereskan sebagian dagangan mereka.

Sore itu, Asep sengaja berangkat lebih dulu ke toko bangunan tanpa memberi tahu Adira. Dia berharap sahabatnya memilih pulang dan beristirahat.

Sesampainya di toko bangunan, Asep langsung bekerja memasukkan pasir ke dalam bak truk.

Tiba-tiba dari arah gerbang, muncul Adira. Langkahnya semakin pelan dibanding biasanya. Wajahnya pucat. Tapi dia tetap datang.

Asep berhenti bekerja. Tatapannya sulit dipercaya.

“Kenapa kau tak mengajakku, Sep?” tanya Adira sambil melewatinya. Dia langsung mengambil sekop dan mulai bekerja.

Asep hanya bisa menghela napas panjang. Rasa gelisah semakin besar di dadanya.

Sepanjang sore hingga malam, Adira bekerja dalam kondisi yang semakin memburuk. Tubuhnya lemas. Gerakannya melambat.

Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam ketika sebuah truk besar yang membawa semen memasuki halaman toko bangunan.

Lampu-lampu kendaraan menyinari debu yang beterbangan di udara.

Asep melihat truk itu sekilas. Lalu langsung menghampiri Adira.

“Sudah cukup. Kita pulang.”

Namun sebelum mereka sempat pergi, Aep datang membawa buku catatan di tangannya.

“Siapa yang mau menurunkan semen ini? Nanti dibayar lembur.”

Asep langsung ingin menolak. Tetapi Adira sudah lebih dulu berjalan menuju truk.

Asep memejamkan mata sejenak. Tak ada pilihan. Dia akhirnya ikut bekerja.

Malam itu mereka kembali berkerja lembur. Asep bertugas merapikan semen di dalam gudang yang hanya berjarak beberapa meter dari truk.

Sedangkan Adira bersama beberapa pekerja lain bertugas mengangkut semen dari atas bak kendaraan.

Semua berjalan seperti biasa. Tak ada yang menyangka bahwa beberapa menit kemudian sesuatu akan merubah semuanya.

Karung-karung semen terus berpindah. Puluhan karung telah diangkat.

Lihat selengkapnya