Setelah tujuh hari dirawat di rumah sakit, Adira akhirnya diperbolehkan pulang.
Pagi itu, langit terlihat cerah. Halaman rumah sakit masih basah oleh sisa hujan malam sebelumnya.
Aep datang menggunakan mobil pribadinya untuk menjemput Adira. Lelaki tua itu membantu mengurus seluruh proses kepulangan sebelum akhirnya mengantar mereka kembali ke kampung.
Adira duduk di kursi belakang. Kaki kirinya yang telah diamputasi masih dibalut perban tebal. Sesekali dia memandang keluar jendela, memperhatikan sawah, pepohonan dan rumah-rumah yang mereka lewati.
Di sampingnya, Nina duduk memeluk tas berisi pakaian. Gadis itu sesekali melirik kakaknya lalu tersenyum kecil.
Sementara Surinah lebih banyak menunduk. Tangannya tak pernah lepas menggenggam ujung bajunya.
Andini duduk di depan bersama Aep. Gadis itu beberapa kali menoleh ke belakang, memastikan Adira baik-baik saja.
Tak ada yang banyak bicara. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
Mobil akhirnya berhenti di ujung jalan setapak yang menuju rumah Surinah.
Asep yang sejak pagi sudah menunggu langsung menghampiri. Tanpa banyak bicara, dia membuka pintu mobil lalu berjongkok di depan sahabatnya.
“Ayo, Dira...” ucap Asep, sambil tersenyum hangat.
Dengan hati-hati, Asep menggendongnya. Di belakang mereka, Surinah mendorong kursi roda yang baru dibelikan Aep dari rumah sakit. Nina dan Andini membawa tas-tas berisi pakaian, obat-obatan dan perlengkapan lainnya.
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak. Angin pantai berembus pelan. Suara burung terdengar dari pepohonan.
Beberapa tetangga yang melihat kepulangan Adira berhenti beraktivitas. Mereka menyapa dengan senyum dan tatapan prihatin.
Adira hanya membalas dengan senyum tipis. Tak banyak kata yang mampu dia keluarkan.
Sesampainya di depan rumah, langkah Asep melambat.
Rumah kecil itu masih sama seperti saat ditinggalkan. Dinding papan yang mulai kusam. Bangku kayu di depan rumah. Dan perahu tua yang masih tergeletak di belakang rumah.
Asep menurunkannya perlahan ke kursi roda. Surinah segera merapikan posisi anaknya.
Rumah kecil itu terasa sangat dekat, tetapi sekaligus terasa berbeda.
Siang itu, Aep tidak langsung pulang. Dia duduk bersama Surinah dan Adira di ruang tengah.
“Kalau ada yang dibutuhkan, bilang saja,” kata Aep. “Aku masih bertanggung jawab atas semua ini.”
Adira mengangguk pelan. Aep menatap pemuda itu beberapa saat. Tak lama kemudian Aep pamit pulang.
Setelah itu Asep dan Andini juga bersiap kembali ke rumah masing-masing.
Sebelum pergi, Andini menghampiri Adira. "Kamu istirahat yang banyak," katanya pelan.
Adira hanya tersenyum tipis.
Andini terlihat ingin mengatakan sesuatu lagi. Namun akhirnya hanya mengangguk dan melangkah pergi.
Asep menyusul dari belakang. Dia melihat sahabatnya dalam-dalam sebelum melangkah. Seolah menyadari, semuanya telah berubah.
***
Hari-hari berikutnya berjalan lambat. Adira menghabiskan sebagian besar waktunya di kursi roda.
Pagi hari dia duduk di teras. Siang hari dia duduk di ruang tengah. Sore hari dia kembali duduk di depan rumah sambil memandang jalan setapak yang sepi.
Hal-hal sederhana yang dulu bisa dia lakukan sendiri kini membutuhkan bantuan orang lain.
Untuk mandi, Surinah harus menyiapkan air dan membantu memindahkan tubuhnya. Untuk berpindah tempat, Nina membantu mendorong kursi roda. Bahkan untuk mengambil segelas air pun terkadang dia harus meminta bantuan.
Awalnya Adira berusaha terlihat biasa saja. Namun beberapa kali Surinah memergokinya termenung sendirian.