Kenapa?

Rian Nugraha
Chapter #15

HILANG - Bagian 4

Beberapa hari berlalu. Kondisi Adira mulai membaik. Meski belum pulih sepenuhnya, kini dia sudah mampu beraktivitas dengan satu tongkat kruk di sebelah kirinya.

Pagi itu, dia berjalan tertatih menyusuri jalan setapak menuju pasar. Tongkat kruknya menekan tanah disetiap langkahnya. Di pundak kanannya tergantung seikat kayu bakar yang baru saja dia ambil dari belakang rumah.

Langit masih cerah. Udara pagi terasa sejuk. Namun tidak ada semangat yang biasanya terpancar dari wajah Adira.

Waktu menuju hari pernikahannya tinggal dua bulan lagi. Sementara dirinya merasa belum melakukan apa-apa sejak kecelakaan itu.

Terlalu lama diam di rumah membuatnya gelisah. Terlebih lagi, akhir-akhir ini Surinah sering kembali marah-marah tanpa alasan yang jelas. Marah karena hal-hal kecil yang tidak penting.

Adira memahami ibunya sedang terluka. Tetapi tetap saja suasana itu membuatnya tidak betah berdiam diri di rumah.

Sepanjang perjalanan menuju pasar, beberapa warga menyapanya. Adira hanya mengangguk tipis. Tak banyak bicara. Tak banyak tersenyum.

Sesampainya di pasar, Adira langsung menuju warung kecil biasa yang menjadi tempat berkumpul para kuli panggul.

Asep sedang duduk bersama beberapa kuli lain. Mereka tertawa sambil mengobrol.

Posisi Adira berada di belakangnya, sehingga Asep tidak menyadari kedatangannya. Dia duduk perlahan di bangku kayu.

“Sep,” katanya. “Pagi ini barang yang datang apa?”

“Tepung...” jawab Asep. Dia menoleh ke belakang. Seketika dia terdiam. Rokok yang menggantung di bibirnya hampir jatuh.

“Kenapa?” tanya Adira.

Asep masih menatapnya beberapa detik. “Kenapa kau di sini?”

“Bekerja, Sep...” jawab Adira santai sambil menyandarkan tongkat kruknya ke samping bangku.

“Kau belum sepenuhnya pulih, Dira.”

“Tidak apa-apa.” Adira langsung memotong. “Aku harus bekerja. Aku tidak bisa terus diam di rumah.”

Asep menggeleng pelan. Kemudian tertawa kecil sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Kau memang keras kepala, Dira.”

Adira hanya tersenyum tipis.

Tak lama kemudian, suara mesin truk terdengar memasuki area pasar.

Truk pengangkut tepung datang. Para kuli langsung bergerak. Mereka berdiri dan berjalan menuju gudang.

Adira ikut bangkit. Langkahnya masih pincang. Tongkat kruknya menghentak tanah dengan pelan.

Saat sampai di dekat truk, dia berjongkok perlahan. Tongkat kruknya disandarkan ke badan truk. Kemudian dia meraih satu karung tepung.

Gerakannya lambat. Karung itu dia angkat terlebih dahulu ke paha kanannya. Lalu didorong perlahan ke atas bahu. Setelah stabil, dia mengambil kembali tongkat kruknya dan mulai berjalan.

Tangan kirinya terlihat gemetar saat menggenggam pegangan tongkat. Beberapa kali dia harus berhenti untuk mengatur napas. Keringat mulai membasahi pelipisnya.

Dari dalam gudang, Asep memperhatikan tanpa berkedip. Sementara Dadang yang sedang berdiri di dekat pintu gudang ikut menatap heran. Tak ada yang berkata apa-apa. Mereka hanya memperhatikan.

Setengah jam berlalu. Dalam waktu selama itu, Adira baru berhasil memindahkan tiga karung tepung. Padahal dulu dia mampu memindahkan banyak karung dalam waktu yang sama.

Asep akhirnya berjalan menghampiri Dadang. Mereka berbicara sebentar.

Adira yang sedang mengangkat karung keempat melihat ke arah mereka dengan dahi berkerut.

Tak lama kemudian, Dadang berjalan mendekatinya.

“Dira!” teriaknya. “Sudah. Turunkan karung itu.”

Adira berhenti. Dia langsung menjatuhkan karung yang dipanggulnya ke tanah. Debu tepung berhamburan. Dia menatap bosnya tanpa berkata apa-apa.

“Kau jangan angkat karung lagi. Pergi sana,” Dadang menunjuk ke arah gudang.

Adira masih diam. Sedikit menundukkan kepala. Namun Dadang langsung menyerahkan sebuah buku catatan ke tangannya.

“Pergi ke gudang dan catat semua barang yang masuk,” ucapnya, menunjuk buku itu.

Kemudian Dadang langsung pergi tanpa memberi kesempatan Adira untuk membantah.

Adira menatap buku itu beberapa saat. Kemudian berjalan menuju gudang.

Di dalam gudang, Asep sedang merapikan tumpukan karung tepung. Adira duduk di antara tumpukan karung dan membuka buku catatan.

“Apa yang kau katakan ke Bos Dadang, Sep?” tanyanya sambil mulai menulis.

“Aku tidak bilang apa-apa.” Asep tetap fokus bekerja. “Si Bos yang bilang dia harus pergi.”

Debu tipis berterbangan saat Asep merapikan karung-karung itu.

Adira menatap sahabatnya cukup lama. Asep mengembuskan napas pelan.

“Catat saja, Dira,” dia tersenyum tipis. “Yang penting kau masih bisa bekerja, kan?”

Adira akhirnya tertawa kecil.

Waktu berjalan cepat.

Adira menghabiskan waktunya mencatat keluar masuk barang, membantu menghitung stok gudang dan sesekali membantu pekerjaan ringan yang tidak membutuhkan tenaga besar.

Menjelang sore, Adira menutup buku catatannya. Asep menghampiri sambil mengelap keringat di lehernya.

“Sudah selesai?”

Adira mengangguk.

“Ayo. Kita ke toko bangunan,” ajak Asep. Berjalan pelan di samping sahabatnya.

Mereka berdua pergi ke toko bangunan.

Saat mereka tiba, Aep yang sedang duduk di depan toko langsung terpaku. Pria tua itu segera berdiri.

“Adira!” teriaknya. Suaranya terdengar cukup keras.

Adira dan Asep saling berpandangan sebelum menghampirinya.

Aep menatapnya dari atas sampai bawah.

“Kau sudah sembuh?” belum sempat menjawab, Aep kembali bertanya. “Kenapa kembali ke sini? Kau tidak takut?”

Adira tertawa kecil. “Kenapa harus takut? Waktu itu cuma hari sialku saja. Lagipula aku senang bekerja di sini.”

Aep menghela napas panjang. Tangannya menggaruk dahi.

“Baiklah. Tapi kau jangan kerja berat. Tugasmu mencatat barang masuk dan keluar saja.”

Lihat selengkapnya