Malam itu, Adira duduk di samping ranjang ibunya. Tubuhnya sedikit membungkuk. Kedua tangannya saling menggenggam di atas lutut. Sesekali matanya menatap wajah Surinah, lalu beralih ke monitor di samping ranjang.
Di belakangnya, Asep berdiri kaku. Tangannya terlipat di dada. Wajahnya terlihat lelah setelah seharian berlari ke sana kemari. Namun dia memilih tetap berada di sana, menemani sahabatnya.
Tak ada obrolan. Tak ada pembahasan. Mereka hanya diam. Menatap perempuan yang selama ini menjadi pusat kekuatan keluarga kecil itu.
Ruangan perawatan terasa begitu sunyi. Hanya terdengar suara napas berat Surinah yang dibantu oksigen. Suara monitor jantung terdengar pelan namun terasa begitu jelas di tengah keheningan.
Adira mengusap wajahnya perlahan. Matanya merah karena terlalu banyak menangis dan terlalu sedikit beristirahat.
Di atas ranjang, Surinah masih terbaring. Tangannya yang biasa sibuk bekerja kini diam tak bergerak. Wajah yang selama ini terlihat tegar tampak begitu rapuh.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Adira dan Asep menoleh bersamaan. Nina masuk lebih dulu. Di belakangnya ada Andini, Agus dan Dewi.
Begitu melihat kakaknya, Nina langsung berlari menghampiri kakaknya. Dia memeluk erat dari samping. Adira membalas pelukan itu perlahan.
Nina kemudian mengalihkan pandangannya ke arah ranjang. Matanya langsung berkaca-kaca. Ibunya terbaring dengan selang infus di tangan, selang oksigen di hidung dan beberapa kabel monitor yang menempel di tubuhnya.
Nina menggigit bibirnya. Air mata mulai mengalir pelan di pipinya. Dia meraih tangan ibunya yang terbaring di atas selimut. Menggenggamnya erat.
Ruangan itu kembali hening. Namun kini kesunyian itu terasa jauh lebih berat.
Di sudut ruangan, Andini menundukkan kepala. Matanya tak lepas dari wajah Surinah.
Tadi pagi, perempuan itu masih menyambutnya dengan senyum hangat di rumah kecil mereka. Kini, dia hanya bisa terbaring tanpa suara. Andini mengusap sudut matanya diam-diam.
Sementara Agus berjalan perlahan menghampiri Adira. Pria paruh baya itu berhenti tepat di hadapan calon menantunya.
Tanpa banyak kata, dia langsung memeluk Adira erat.
“Yang kuat, Adira...” ucap Agus pelan. Tangannya mengusap punggung pemuda itu dengan lembut.
Adira mengangguk kecil. Namun tak mampu menjawab. Andini menatap kekasihnya dengan penuh iba.
Asep tetap berdiri di tempatnya. Pandangan kosong ke lantai. Dia merasa benar-benar tidak berdaya.
Waktu berjalan pelan. Tidak ada lagi percakapan. Hanya suara mesin monitor yang terus berbunyi di tengah ruangan.
Nina masih menggenggam tangan ibunya. Adira duduk di samping ranjang tanpa bergeser sedikit pun. Andini berdiri di belakangnya.
Agus dan istrinya duduk diam di sudut ruangan. Sementara Asep tetap berjaga di dekat pintu.
Malam semakin larut.
Di luar jendela, langit gelap tanpa bintang. Sedangkan di dalam ruangan itu, enam orang menunggu dalam kecemasan yang sama.
***
Tiga hari berlalu. Surinah akhirnya diperbolehkan pulang ke rumah. Namun, perempuan itu sudah berubah total.
Tubuhnya lumpuh. Kedua tangan dan kakinya nyaris tak bisa digerakkan. Bibirnya tak mampu mengucapkan kata-kata. Hanya kelopak matanya yang sesekali berkedip pelan. Tubuhnya kini tampak semakin kurus.
Sepanjang hari Surinah hanya terbaring di atas ranjang sederhana di kamarnya. Dia tidak bisa bangun sendiri. Tidak bisa makan sendiri. Bahkan untuk buang air pun harus dibantu.
Adira melakukan semuanya. Setiap pagi sebelum berangkat bekerja, dia membersihkan tubuh ibunya. Mengganti pakaian dan alas tidurnya. Menyuapi makan perlahan, sesekali menyeka sudut bibir Surinah yang basah.
Adira hampir selalu tersenyum saat melakukannya. Senyum yang tenang. Senyum yang dipaksakan. Karena jauh di dalam hatinya, ada sesuatu yang perlahan hancur sedikit demi sedikit.
Sementara itu, Nina justru semakin menjauh. Dia tidak berani melihat kondisi ibunya terlalu lama.
Gadis itu lebih sering mengurung diri di kamar. Buku gambar yang dulu selalu menemaninya kini hanya tergeletak di sudut ruangan. Pensil-pensil warna yang biasa berserakan di lantai tanpa pernah disentuh lagi.
Sesekali Nina mengintip dari balik tirai kamar. Melihat ibunya yang terbaring diam. Lalu kembali menutup tirai dengan cepat. Seolah tak sanggup menerima kenyataan yang ada di depan matanya.
Hari-hari berlalu. Pagi hari Adira bekerja di pasar. Menjelang siang dia pulang untuk merawat Surinah, mengganti pakaian ibunya, memastikan kondisinya baik-baik saja, lalu kembali lagi ke pasar.
Menjelang sore dia pulang sekali lagi. Setelah itu berangkat ke toko bangunan. Malam hari dia kembali ke rumah dan merawat Surinah sebelum akhirnya beristirahat.
Rutinitas itu terus berulang. Setiap hari. Tanpa keluhan. Tanpa jeda.
Nina menjaga ibunya selama Adira tidak berada di rumah. Meski tak banyak bicara, dia selalu duduk di dekat ranjang Surinah. Kadang hanya memegang tangan ibunya dalam diam.
Andini juga masih datang menjenguk. Awalnya setiap hari. Lalu dua hari sekali. Kemudian tiga hari sekali. Semakin lama, jaraknya semakin jauh.
Adira berusaha memakluminya. Namun perlahan ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Sudah lima hari. Andini tidak datang. Tidak ada kabar. Tidak ada pesan yang dititipkan. Tidak ada alasan.
Siang itu, setelah selesai membersihkan tubuh ibunya dan memastikan Nina sudah makan, Adira memutuskan pergi ke rumah Andini. Dia ingin memastikan keadaan kekasihnya baik-baik saja.
Langit siang tampak pucat ketika Adira berjalan menyusuri jalan kampung dengan tongkat kruk di tangan kirinya. Langkahnya pelan. Setiap hentakan tongkat di tanah menimbulkan bunyi kecil yang berulang.
Beberapa warga yang berpapasan menyapanya. Adira hanya membalas dengan senyum tipis. Pikirannya sedang penuh.
Rumah Andini tak terlalu jauh, tetapi perjalanan itu terasa lebih panjang dari biasanya.
Ketika akhirnya sampai, dia melihat Agus sedang duduk di kursi kulit di teras depan rumah. Pria itu tampak tenang.
“Pak...” sapa Adira sambil tersenyum sopan. “Andini ada di rumah?”
Agus mengangkat wajahnya. Senyum kecil muncul di bibirnya. Dia langsung berdiri. “Kebetulan. Ada yang harus kta dibicarakan.”