Lima hari berlalu. Sejak saat itu, Adira seolah menghilang dari kehidupan yang biasa dijalaninya. Dia tidak pernah terlihat lagi di pasar. Tidak datang ke toko bangunan. Tidak duduk bersama para kuli di warung kopi seperti biasanya.
Asep mulai merasa khawatir. Awalnya dia mengira sahabatnya hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Namun setelah lima hari tanpa kabar, perasaan tidak enak.
Malam itu, setelah selesai bekerja di toko bangunan, Asep memutuskan pergi ke rumah Adira.
Jalan desa sudah sepi. Lampu-lampu rumah warga menyala redup di tengah kegelapan.
Sesampainya di depan rumah kecil itu, Asep mematikan mesin motornya. Mendorongnya perlahan agar suaranya tidak mengganggu penghuni rumah yang mungkin sudah beristirahat.
Setelah memarkirkannya di samping rumah, Asep berjalan menuju pintu depan. Dia mengetuk pelan.
“Adira...” panggilnya lirih.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka perlahan. Nina berdiri di sana. Gadis itu tersenyum kecil saat melihat Asep.
“Kakakmu ada?” tanya Asep lembut.
Nina mengangguk pelan. Lalu berbalik dan berjalan menuju kamar Adira.
Asep berdiri di ambang pintu. Pandangannya menyapu bagian dalam rumah. Rumah itu terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih kosong.
Tak terdengar suara Surinah yang biasa memanggil Nina. Tak ada tawa kecil yang dulu sesekali mengisi rumah itu. Yang tersisa hanya kesunyian yang berat.
Beberapa detik kemudian, Adira keluar dari kamarnya. Asep langsung terdiam. Dadanya terasa sesak melihat kondisi sahabatnya.
Wajah Adira pucat. Matanya merah. Kantung hitam menggantung jelas di bawah kedua matanya. Janggut tipis mulai tumbuh tak beraturan. Tubuhnya tampak lebih kurus.
Adira tidak menyapa. Tidak bertanya. Tidak tersenyum. Dia hanya berjalan melewati Asep dan keluar menuju bangku tua di depan rumah. Lalu duduk di sana dalam diam.
Asep menghela napas panjang sebelum menyusul. Dia duduk di samping sahabatnya. Tak langsung berbicara. Tangannya merogoh saku dan mengeluarkan sebungkus rokok.
Satu batang disodorkan. Adira menerimanya. Mereka menyalakan rokok masing-masing.
Malam berjalan lambat. Tak ada percakapan. Hanya bara merah di ujung rokok yang sesekali menyala terang saat dihisap. Asap tipis melayang ke udara malam.
“Dira...” ucap Asep akhirnya. “Kau baik-baik saja?”
Adira tidak menoleh. Hanya mengangguk pelan. Tatapannya tetap kosong menembus langit malam yang gelap.
Asep mengusap wajahnya perlahan. “Apa yang bisa kubantu, Dira?”
Adira menggeleng. Kepalanya semakin tertunduk.
Asep menatap sahabatnya lama. “Aku mengerti perasaanmu saat ini. Tapi kalau kau terus terpuruk seperti ini, keadaanmu hanya akan semakin buruk.”
Adira melirik sekilas. Lalu kembali menghisap rokoknya. Asep melanjutkan.
“Aku bisa bicara dengan Pak Agus dan Andini. Aku akan menjelaskan semuanya. Mungkin mereka akan mengerti...”
“Diam kau, Asep! Jangan ikut campur!” bentakan itu memecah malam. Napas Adira mulai memburu. Dadanya naik turun.
Asep terkejut. “Aku cuma ingin membantumu, Dira...”
“Kau tahu apa, Asep?!” suara Adira semakin keras. Matanya memerah. “Kau tidak mengerti apa yang kurasakan!”
Asep terdiam. Tangannya menggenggam batang rokok lebih erat.