Kenapa?

Rian Nugraha
Chapter #18

HILANG - Bagian 7

Setelah tragedi yang hampir merenggut ibu dan adiknya, Adira berusaha bangkit dari keterpurukan yang selama berminggu-minggu menenggelamkannya.

Dia masih memiliki sesuatu yang harus diperjuangkan. Bukan lagi cinta. Melainkan orang-orang yang masih bertahan di sisinya.

Hari-harinya perlahan kembali memiliki normal. Pagi hari, Adira pergi ke bukit mencari kayu bakar. Dia menyusuri jalan setapak yang menanjak, memanggul ikatan kayu di pundaknya.

Siang hari, dia bekerja di pasar sebagai pencatat barang. Duduk di gudang, mencatat keluar-masuk karung dan peti yang datang.

Sore hari, dia melanjutkan pekerjaan di toko bangunan milik Aep.

Rutinitas itu terus berulang. Hari demi hari. Namun hidup Adira tidak pernah benar-benar kembali seperti dulu. Ada sesuatu yang terus menyesakkan dadanya. Bukan karena pernikahan yang gagal. Melainkan karena satu kenyataan yang jauh lebih menyakitkan. Dia pernah melukai dua orang yang paling dicintainya. Surinah dan Nina.

Sejak malam kelam itu, keadaan Nina berubah. Perubahan yang perlahan namun terasa sangat jelas.

Nina tidak lagi menyambut kepulangannya. Tidak lagi berlari kecil ke depan rumah. Tidak lagi tersenyum ketika Adira pulang.

Kini gadis itu lebih sering menghilang ke dalam kamar saat mendengar suara tongkat kruk kakaknya. Jika Adira masuk ke rumah, Nina akan keluar atau masuk ke kamarnya.

Jika Adira duduk di ruang tengah, Nina memilih berdiam di belakang rumah. Jika mencoba mendekat, Nina akan menjauh dengan tatapan takut yang membuat dadanya terasa diremas.

Adira memahami semuanya. Dia tidak pernah menyalahkan adiknya. Dia sendiri masih sulit memaafkan dirinya.

Beberapa kali Adira mencoba mendekati Nina. Menyodorkan makanan. Membawakan pensil warna baru. Atau sekadar duduk di dekatnya. Namun Nina selalu menolak. Menggeleng. Pergi.

Pernah beberapa kali gadis itu menjadi agresif saat kakaknya mencoba menyentuh bahunya. Seolah tubuh kecil itu masih menyimpan ketakutan dari malam yang tidak akan pernah bisa dilupakannya.

Setiap kali hal itu terjadi, Adira hanya bisa diam. Lalu mundur perlahan. Membiarkan jarak itu tetap ada.

Lihat selengkapnya