Siang itu, Adira sedang duduk di atas tumpukan karung beras di dalam gudang pasar. Sebuah buku catatan berada di pangkuannya. Tangannya bergerak pelan menulis jumlah karung yang masuk sambil sesekali menghitung ulang.
Dari kejauhan, Asep beberapa kali melirik ke arahnya sambil merapikan susunan karung-karung beras yang baru diturunkan.
Hubungan mereka masih terasa canggung sejak pertengkaran malam itu. Tak pernah ada pembicaraan untuk memperbaiki keadaan. Tak ada permintaan maaf. Tak ada penjelasan.
Adira sibuk menghadapi hidupnya sendiri. Asep juga memilih diam. Namun sesekali, tanpa sadar, keduanya masih saling mencuri pandang seperti dua sahabat yang sebenarnya masih peduli, tetapi tak tahu harus memulai dari mana.
Menjelang siang, pekerjaan selesai untuk sementara.
Para kuli berkumpul di warung dekat gudang. Seperti biasa mereka duduk sambil minum kopi, makan gorengan dan mengobrol tentang pekerjaan.
Adira ikut duduk. Asep juga. Mereka berada di bangku yang sama, tetapi berjarak beberapa orang dan saling membelakangi. Tak ada sapaan. Tak ada percakapan.
Hanya suara tawa para kuli lain, dentingan gelas kopi dan bara rokok yang menyala di sela-sela jari.
Di tengah retakan persahabatan yang belum sempat diperbaiki itu, sesuatu datang. Sesuatu yang akan mengubah kehidupan Adira untuk selama-lamanya.
Dari ujung jalan pasar, sebuah motor melaju tergesa-gesa. Debu beterbangan di belakang rodanya. Iskandar dibonceng.
Wajah lelaki itu merah. Napasnya memburu. Matanya sembab seperti habis menangis. Bahkan dari kejauhan, kepanikannya terlihat jelas. Dia melambai-lambaikan tangannya. Lalu berteriak sekuat tenaga.
“ADIRA!”
Suara itu membuat beberapa orang di warung menoleh. Adira mengernyit. Asep ikut menoleh sekilas.
Motor itu belum benar-benar berhenti ketika Iskandar kembali berteriak.
“ADIRA!”
Adira langsung berdiri. “Ada apa?”
Iskandar menunjuk ke arah jalan desa. “Ibumu... Cepat pulang! Situasinya genting!”
Kalimat itu membuat jantung Adira seperti berhenti sesaat.
Tanpa ada kata lagi. Iskandar langsung berbalik arah dan melaju pergi.
Adira hanya berdiri mematung. Pikirannya kosong. Perasaan tidak enak langsung memenuhi dadanya.
Beberapa detik berlalu. Terdengar suara motor tua dari belakang.
GROOOONG! GROOOONG!
Adira menoleh. Asep sudah duduk di atas motor Supra miliknya. Wajahnya serius.
“Cepat naik, Dira...” katanya singkat. “Ada yang tidak beres.”