Senja merayap pelan, mewarnai langit dengan semburat jingga yang perlahan memudar menjadi ungu kelabu. Di pemakaman umum di pinggir desa, di antara deretan pohon kelapa yang daunnya bergoyang pelan diterpa angin, udara terasa berat dan lembap.
Adira berdiri kaku dengan tongkat kruk di sisinya. Tubuh yang dulu tegap kini tampak rapuh. Bahunya merosot, wajahnya tirus dan matanya kehilangan cahaya yang selama ini membuatnya terus bertahan.
Perlahan dia berlutut di antara dua makam yang berdampingan. Tangan kanannya menyentuh tanah di atas makam ibunya dengan lembut. Tangan kirinya terulur ke makam Nina. Gundukan tanah yang lebih kecil. Lebih menyayat. Jari-jarinya menggali sedikit tanah merah itu, membiarkan butirannya menempel pada kulit tangannya yang kasar.
Matahari semakin rendah. Cahaya terakhirnya menyelinap di sela dedaunan dan jatuh di wajah Adira yang dipenuhi air mata. Tak ada isak. Tak ada suara. Hanya dada yang naik turun dengan berat.
Dia menatap dua makam itu lama. Bayangan Surinah yang dulu selalu menunggunya pulang. Bayangan Nina yang diam-diam tersenyum sambil memamerkan gambar-gambarnya. Semua hadir begitu jelas. Namun kini hanya menjadi kenangan yang tak bisa disentuh lagi.
Langit semakin gelap. Lampu-lampu rumah warga mulai menyala di kejauhan. Sementara di pemakaman itu, kegelapan datang lebih cepat.
Ketika malam benar-benar turun, Adira akhirnya berdiri. Dengan bantuan tongkat kruk, dia meninggalkan pemakaman pelan-pelan. Langkahnya berat. Seolah sebagian dirinya masih tertinggal di sana.
Di bawah cahaya bulan yang pucat, dia menyusuri jalan desa seorang diri hingga tiba di rumah kecil yang kini terasa asing baginya.
Rumah itu sunyi. Sudah seminggu Surinah dan Nina pergi. Namun setiap hari yang berlalu justru membuat kekosongan di dalam dirinya semakin besar.
Selama itu Adira tak bekerja. Dia hanya berdiam di rumah. Pagi, siang, malam. Meratapi hidupnya. Menyesali semuanya.
Setiap sore dia pergi ke makam ibu dan adiknya, duduk berjam-jam di sana, berharap kesesakan di dadanya berkurang. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Rasa bersalah terus tumbuh. Semakin besar. Menghancurkan.
Malam itu, Adira benar-benar kehilangan arah. Di bawah cahaya lampu minyak yang temaram, dia duduk sendirian di ruang tengah.
Di depannya tergeletak sebuah pisau. Pisau yang telah merenggut nyawa ibu dan adiknya. Di sampingnya ada seutas tambang tua penambat perahu peninggalan ayahnya.
Adira memandangi kedua benda itu lama. Seperti seseorang yang sedang memilih jalan terakhir dalam hidupnya.
Tangannya menyentuh pisau itu perlahan. Seketika bayangan tubuh Surinah yang bersimbah darah muncul di kepalanya. Air matanya jatuh.
Kemudian dia menyentuh tambang itu. Dan yang datang justru kenangan berbeda. Kenangan masa kecil bersama ayahnya di laut. Tentang tawa. Ombak. Kehidupan yang dulu terasa sederhana.
Adira menarik napas panjang. Dia berdiri. Pergi ke dapur. Mengambil sebuah bangku kayu. Lalu membawanya ke ruang tengah.
Perlahan dia naik ke atas bangku itu dan mengikat tambang ke balok kayu penyangga atap. Terdengar suara kayu tua berderit saat dia menarik tambang tersebut. Menguji kekuatannya.
Adira menatap simpul itu beberapa saat. Kemudian mengalungkannya ke leher. Sebelum menjatuhkan dirinya, matanya sempat melirik ke arah kamar ibunya. Ke arah lemari tempat Nina menyimpan gambar-gambarnya.
Adira memejamkan mata. Menarik napas dalam. Lalu menendang bangku di bawah kakinya.
DUK!
Seketika napasnya tercekat. Lehernya seperti diremas. Matanya membelalak. Air liur keluar dari sudut bibirnya. Tubuhnya menggeliat.