Kenapa?

Rian Nugraha
Chapter #21

KENAPA? - Bagian 2

Langit mulai memerah saat Adira tiba di pasar. Cahaya senja menyelimuti deretan kios dan lorong-lorong sempit yang perlahan mulai lenggang.

Para kuli panggul bersiap mengakhiri pekerjaan mereka. Ada yang mencuci tangan. Ada yang membereskan tali pengikat karung. Sementara yang lain duduk menikmati rokok terakhir sebelum pulang.

Adira menarik napas pelan. Dia berjalan menghampiri mereka.

Tak ada senyuman di wajahnya. Tatapannya datar. Dingin. Para kuli yang melihat kedatangannya saling berpandangan. Rasa iba tak mampu mereka sembunyikan.

“Aku ingin minta tolong,” ucap Adira akhirnya. “Aku akan bayar kalian.”

Mereka terdiam sejenak.

Asep tidak berada di sana. Dia sudah berangkat ke toko bangunan.

“Apa yang bisa kami bantu, Adira?” tanya Dimas seorang kuli, temannya.

Adira menarik napas panjang. “Tolong pindahkan perahu di belakang rumahku. Bawa ke pantai.”

Dimas, Rio dan Aceng saling bertukar pandang. Tak ada satu pun dari mereka yang bertanya untuk apa perahu itu dipindahkan. Mereka hanya mengangguk pelan.

“Baik,” kata Dimas sambil menepuk bahu Rio.

***

Malam mulai turun ketika mereka tiba di rumah kecil Adira. Mereka langsung menuju halaman belakang.

Perahu kayu tua itu masih berdiri kokoh di samping rumah. Kayu-kayunya mulai kusam dimakan usia, tetapi bentuknya masih kuat.

Mereka harus segera memindahkannya sebelum air laut surut terlalu jauh.

“Ambil pipa paralon. Kita gelindingkan saja supaya tidak terlalu menguras tenaga,” seru Dimas sambil memeriksa tali haluan perahu.

Aceng segera mengambil tiga batang pipa paralon tebal dari samping rumah. Rio menyelipkan pipa pertama ke bawah haluan.

Adira berdiri beberapa meter dari mereka. Diam memperhatikan.

“Dorong!” teriak Dimas.

Mereka bertiga mengerahkan seluruh tenaga. Perahu berbobot ratusan kilogram itu perlahan bergerak. Pipa pertama berputar di bawah lambung perahu.

Begitu perahu maju, Rio segera memindahkan pipa yang tertinggal di belakang ke bagian depan. Gerakan itu terus berulang.

Sedikit demi sedikit. Perahu terus bergerak menuju pantai. Keringat membasahi pakaian mereka. Napas mulai memburu. Namun tak seorang pun mengeluh.

Dua jam lebih kemudian, ujung depan perahu akhirnya menyentuh air laut. Ombak kecil menyambut. Perahu itu mulai mengapung perlahan, bergoyang tenang.

Adira menatapnya lama. Angin pantai meniup rambutnya. Dia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.

Ketiga temannya menghampiri. “Apa yang mau kau lakukan dengan perahu ini?” tanya Dimas.

Adira tetap memandangi perahu itu. Dia hanya menggeleng pelan. Tak memberi jawaban. Perlahan dia mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya dan menyodorkannya kepada Dimas.

“Tak usah,” tolak Dimas.

Lihat selengkapnya