Fajar baru saja menyingsing. Langit masih gelap kebiruan ketika Adira berdiri di tepi pantai, memandangi perahu tua yang terombang-ambing pelan di bibir laut. Tatapannya kosong, menembus garis cakrawala tempat angin bertiup kencang dari laut lepas.
“Laut ini tempat semua penderitaanku dimulai,” lirih Adira. Napasnya berat, tertahan oleh kenangan yang terus menghimpit dadanya. “Di laut ini juga penderitaanku harus berakhir.”
Dia merogoh saku celananya, mengambil sebatang rokok. Jemarinya gemetar saat menyalakan korek. Beberapa kali nyala api padam diterpa angin. Baru pada percobaan terakhir, ujung rokok itu berhasil menyala.
Adira mengisapnya dalam-dalam.
“AAAAAAHHH...”
Asap tebal keluar dari mulutnya, namun seketika buyar diterbangkan angin. Kepalanya tertunduk. Matanya menatap pasir putih di bawah kakinya. Dia menggeleng pelan.
Setiap hisapan rokok membawa satu kenangan.
Dia teringat saat masih kecil berlayar bersama ayahnya di laut ini. Teringat belaian lembut Surinah setiap kali dirinya pulang. Teringat senyum Nina yang selalu menyambutnya dengan gambar-gambar sederhana. Teringat wajah Andini saat menerima lamarannya dengan mata berbinar.
“Kenapa...” gumamnya lirih.
Air mata mulai menetes. Lalu kenangan itu berubah.
Dia melihat kembali malam ketika ayahnya hilang ditelan laut. Melihat tubuhnya sendiri tergeletak di bawah truk sebelum kehilangan kaki kirinya. Melihat Surinah terbaring bersimbah darah. Melihat Nina mengakhiri hidupnya di samping perahu tua itu. Melihat Andini membatalkan pernikahan mereka.
“Kenapa...” suaranya semakin bergetar. “Kenapa harus ada kebahagiaan, kalau semuanya harus berakhir dengan kehilangan?”
Dia mendongak ke langit yang mulai memucat. Air matanya mengalir semakin deras.
Adira mengisap rokoknya sekali lagi. Lututnya mulai gemetar. Tongkat kruknya terlepas dan jatuh ke pasir.
Tangisnya pecah. Rokok di tangannya ikut terjatuh, berputar sebentar sebelum padam di atas pasir basah.
Adira berlutut. Kedua tangannya mencengkeram rambutnya kuat-kuat.
“Tuhan...” lirihnya dengan suara yang nyaris hilang.
Dia meraup segenggam pasir. Menatap butiran-butiran halus itu beberapa saat, lalu mengusapkannya ke wajahnya yang basah oleh air mata.
“Aku hanya manusia... Aku tidak punya apa-apa lagi. Kenapa Engkau mengambil semuanya?”
Dia terisak.
“Tuhan... aku sakit. Rasanya sangat sakit. Aku tidak kuat menanggung semua ini.”
Beberapa saat kemudian, Adira mengusap wajahnya perlahan. Dia mengambil kembali tongkat kruk yang tergeletak di pasir, lalu berdiri dengan susah payah.
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, dia melangkah menuju perahu tua peninggalan ayahnya. Perlahan dia naik ke atas perahu.
Saat matahari mulai muncul di balik cakrawala, Adira melepaskan tali tambat. Ombak kecil mendorong lambung perahu menjauh dari bibir pantai. Dengan satu tangan memegang dayung, dia mulai mengayuh pelan meninggalkan daratan.
Mula-mula rumah-rumah nelayan masih terlihat jelas di belakangnya. Lalu perlahan mengecil.
Suara ombak yang memecah pantai mulai menghilang, berganti dengan deburan laut terbuka yang lebih dalam dan berat. Burung-burung camar berputar beberapa kali di atas kepalanya sebelum akhirnya kembali menuju daratan.
Adira terus mendayung. Keringat mulai membasahi dahinya meski udara pagi masih dingin. Bahunya terasa pegal. Sesekali dia berhenti sejenak hanya untuk mengatur napas, lalu kembali mengayunkan dayung.
Semakin jauh dia melaut, air berubah dari hijau kebiruan menjadi biru gelap. Angin bertiup semakin keras. Di kejauhan, gumpalan awan hitam pekat menggantung rendah di atas permukaan laut, perlahan bergerak mendekat.
Namun Adira tidak menghentikan kayuhannya. Tatapannya tetap lurus ke depan. Seolah memang hanya ada satu tujuan yang ingin dia capai.
Setelah cukup lama mendayung, perahu akhirnya berhenti di tengah hamparan laut yang nyaris tanpa batas.
Tak ada lagi daratan yang terlihat. Hanya ombak, langit dan angin.
Adira berdiri perlahan di atas perahu. Tangan kanannya menggenggam dayung. Tangan kirinya mencengkeram tongkat kruk erat-erat.
Dia menatap awan hitam di hadapannya dengan wajah keras, dipenuhi keputusasaan.
“Badai... Laut...” lirihnya. “Bawa aku menjemput ayahku. Aku akan menunggu di sini.”
Perlahan dia kembali duduk. Dia mengembuskan napas panjang, lalu menyalakan sebatang rokok lagi.
Dia menunggu. Menunggu badai datang. Namun, pandangannya tiba-tiba tertuju pada sebuah jaring yang terlipat di sudut perahu.
Jaring itu. Milik ayahnya. Senyum tipis muncul di wajah Adira.
Dia mengusap simpul-simpul tali jaring itu perlahan, seolah sedang menyentuh tangan ayahnya sendiri. Kenangan demi kenangan kembali berdatangan.
Adira menghela napas pelan. Dia berdiri. Dengan gerakan yang masih diingat tubuhnya sejak kecil, dia memasang jaring itu.
“Kalau memang harus menunggu...” gumamnya pelan. “setidaknya aku menunggu seperti dulu.”
Dia melemparkan jaring ke laut. Jaring itu mengembang sempurna sebelum tenggelam perlahan ke dasar.
Beberapa menit berlalu. Adira menarik tali jaring sedikit demi sedikit. Semakin dekat ke permukaan, wajahnya mulai berubah heran.
Saat jaring itu akhirnya terangkat seluruhnya, mata Adira membelalak. Jaringnya penuh oleh ikan berwarna merah menyala yang berkilau diterpa cahaya pagi.
“Ikan Mullet Merah...” dia mengernyit. “Tidak mungkin...”
Dia memandang laut di sekelilingnya. “Ikan ini biasanya hanya hidup di pesisir dangkal, bukan di laut lepas seperti ini.”
Dengan bingung, Adira melepaskan ikan-ikan itu satu per satu ke dalam perahu.
Rasa penasarannya mengalahkan semua pikirannya. Dia kembali memasang jaring. Menunggu. Lalu menariknya lagi.
Hasilnya bahkan lebih mengejutkan. Jaring itu kembali dipenuhi Mullet Merah. Ukurannya lebih besar. Lebih banyak.
Adira terdiam beberapa detik. Lalu tanpa sadar dia tertawa kecil. Tawa yang sudah sangat lama tidak terdengar dari dirinya.
Dia kembali melempar jaring. Lagi. Dan lagi.
Setiap kali jaring diangkat, ikan-ikan merah itu selalu memenuhi perahunya. Lambung perahu mulai dipenuhi kilau sisik merah yang memantulkan cahaya matahari pagi.
Rasa putus asa yang sejak tadi memenuhi dadanya perlahan tergeser oleh kebingungan yang sulit dijelaskan.
***
Di jalan desa yang lengang di bawah langit mendung, Asep memacu motor Supra tuanya sekencang mungkin. Deru mesin tua meraung.
GROOOOOOONG! GROOOOOOONG!
Angin menghantam wajahnya. Kaus lusuh yang dikenakannya berkibar keras. Tatapannya lurus ke depan, penuh kecemasan.
Pikirannya terus memutar percakapan beberapa menit lalu di pasar.
“Adira minta kami memindahkan perahu ke pantai.” kata Dimas.
“Waktu kami pulang, dia masih berdiri sendirian melihat laut.” tambah Aceng.
Kalimat-kalimat itu terus berulang di kepala Asep.
“Apa yang kau pikirkan, Adira...” gumamnya sambil menggenggam setang lebih erat. “Jangan bilang kau ingin mati di laut.”