Kepada Air

Bulan Separuh
Chapter #1

Mengantri Jatah Air

“Sebenarnya dirinya pun ingin percaya pada sesuatu yang menurutnya lebih besar daripada kenyataan yang pahit di desa ini. Tidak hanya perkara air, tapi juga soal keberanian untuk menaruh harapan pada sesuatu yang belum pasti.”

_____________________________________


“Lama banget sih, Mbak. Kakiku pegal sekali, lho. Sudah lewat setengah jam berdiri-berdiri begini. Mana antreannya masih panjang lagi.”

“Kamu yang sabar ya, Den. Soalnya, ya mau bagaimana lagi? Mumpung sekolahmu libur lho, jadi bisa bantu-bantu Mbak. Kalau Mbak sendirian ya mana Mbak kuat bawanya. Masa mau sama bapak lagi? Kasihan kan, soalnya bapak sudah tua.”

Seorang gadis desa berusia sembilan belas tahun baru saja berbicara kepada adik laki-lakinya, seorang remaja yang masih duduk di bangku SMP. Sang kakak itu bernama Sentari. Gadis berperawakan hitam manis itu selalu punya suara yang anggun nan tegas. Tubuhnya semampai dibalut dengan atasan lengan pendek berbahan katun motif kembang-kembang kecil dan bawahan rok midi yang warnanya begitu suram. Suram karena warna aslinya sudah bercampur noda menahun yang tak bisa lagi hilang. Seperti ingatan warga desa yang tak lekang tergilas zaman, tentang keasrian wilayahnya yang kini sudah digantikan pabrik-pabrik dan aroma buangan yang menyesakkan.

Rambut Sentari yang dikepang dua membuatnya terlihat begitu feminim, tapi kaki jenjangnya dipaksa tegar memijak jalan tanah retak-retak. Kaki yang hanya beralaskan sendal jepit. Tanah retak-retak yang dipijaknya pun seperti harapan para penduduk yang kian gersang. Sentari dan adiknya itu sedang ada di antara barisan orang yang mengular dengan jeriken-jeriken berukuran sepuluh sampai dua puluh liter di tangan.

Pukul sepuluh panas matahari begitu menyengat. Udara kering mengembuskan suasana terpanggang ke mana-mana, membuat peluh membanjiri kulit mereka. Wajah-wajahnya tampak letih. Rengekan balita dan obrolan laki-laki tua turut menggigit hari. Telinga dan urat leher kian pedas. Mau tak mau mereka berimpitan untuk bernaung di balik bayangan bangunan dan kendaraan yang terparkir. Beberapa ada yang mengibas-ngibaskan sobekan kardus. Sangking gerahnya hati kala beberapa di antaranya sehabis mengais rezeki tapi masih harus menunda istirahatnya demi membawa pulang air.  

Ini adalah hari ketiga masyarakat desa Yuboraya mengalami kekeringan ekstrem. Air di sumur-sumur mereka menyusut. Tak hanya dahaga di kerongkongan orang juga saluran-saluran pertanian, mereka pun merasakan kerontangnya tapi tak dapat berbuat apa-apa.

Seberkas kesejukan tampak dari kejauhan. Itu ialah wajah seorang pemuda. Sejak Sentari baru datang tadi pemuda itu sudah memperhatikan. Ia menyembunyikan senyuman. Begitu pun bagi yang sedang diperhatikan, gadis itu sesekali curi-curi pandang.

Pemuda itu adalah Danar. Laki-laki berusia dua puluh tahun itu punya lesum pipi di sebelah kiri. Rambutnya ikal membuat kedua telinganya nyaris tak kelihatan. Terdapat sepasang bingkai plastik yang mengurung lingkar matanya. Tidak ia lepaskan kemana pun pergi, sebab penglihatannya minus satu setengah. Dari jarak sepuluh meter, tentu sebenarnya tanpa kacamata pun sosok semenawan Sentari akan tampak sangat jelas. Seolah apa pun dan siapa pun selain gadis itu menjadi buram seketika.

Keduanya tersenyum kikuk kala tanpa sengaja mata mereka berpapasan. Sentari selalu kagum dengan Danar. Kakak tingkatnya sejak sekolah dasar sampai menengah atas itu adalah orang yang mempesona. Di dalam diri pemuda itu telah terbentuk jiwa seorang pemimpin. Sentari paham betul bahwa Danar punya ketertarikan kepada dirinya, tapi perasaan itu tak pernah diungkapkan.

Dua tahun yang lalu di kantin sekolah, Sentari pernah tanpa sengaja mendengarkan percakapan Danar dan sahabatnya. Nar, aku tahu kamu naksir kan sama anak kelas sebelas B itu? Kenapa nggak kamu tembak aja, sih?”

“Ah, sok tahu kamu, Jis!” Suara dentingan sendok dan gelas yang dibuatnya seolah ingin mengaburkan obrolan itu.

“Halah! Sudah berapa lama kita kenal, Nar? Masa soal cewek yang kamu taksir aja aku nggak tahu. La wong kamu lagi nahan kentut aja aku tahu kok, Nar!”

“Memangnya kalau aku lagi nahan kentut tuh gimana?”

“Gini … kalau mukamu udah kayak gini. Nah, terus dudukmu agak begini …” Siswa itu memperagakan gelagat sahabatnya itu.

“Sialan kamu, Jis!”

Tawa tidak hanya menyeruak di antara kedua pemuda itu saja. Sentari yang diam-diam mendengarkannya di balik dinding pun jadi turut tersenyum.

“Tapi, ngomong-ngomong, aku nanya serius sama kamu, Nar. Kenapa?” Tawa canda itu kembali surut.

“Nggak ada, Jis. Aku nggak dekat sama cewek,” jawab Danar sambil tiba-tiba sibuk kembali dengan dentingan sendok di gelasnya yang berisi kopi susu yang tinggal setengah. Seharusnya minuman itu justru tidak diaduk agar ampas kopinya terendap sebelum diminum. Namun, rasa kikuknya membuatnya tak berpikir soal minuman itu lagi.

“Ya, memang nggak dekat. Wong kamu malu-malu meong gitu!”

Danar menggeleng. Bukan untuk menyangkal perkataan sahabatnya itu, melainkan untuk mengasihani dirinya sendiri.

Lihat selengkapnya