Kepada Air

Bulan Separuh
Chapter #2

Dengan Kekuasaan Semua Dibeli

Laki-laki parlente itu berdiri di barisan para petugas yang sebelumnya sedang memberikan pengumuman kepada warga. Ia menjadi pusat perhatian, seperti seekor semut prajurit di antara ratusan semut pekerja. Meskipun terjadi bisik-bisik antar warga, tampaknya tak ada seorang pun yang berani menyenggol Aditya. Laki-laki berusia dua puluh dua tahun ini punya senjata yang tak dimiliki para semut pekerja yang ukurannya lebih kecil dan tak berdaya itu. Kekayaan dan kekuasaan, tentu saja itu bisa mengoyak siapa pun dengan beringasnya. Hal itu membuat orang-orang memilih untuk tidak berurusan macam-macam dengannya.  

“Ini lho, Mas Aditya … Kami di sini kan sudah mengantre lama. Memang ada yang sudah dapat jatah air lalu pulang. Lalu sisanya, ya kami ini, lihatlah! Sudah hampir satu jam kami menunggu, Mas. Kirain pasokan airnya mau ditambah, rupanya enggak. Makanya kami protes kalau harus pulang nggak bawa apa-apa.”

Aditya mengangguk-angguk dengan senyum tipisnya menyimak pujaan hatinya itu lantang bersuara. Bibir tanpa gincunya itu merengut dan dahinya berkerut, tapi justru Aditya semakin gemas memandanginya. “Kamu yang sabar to, Dek Tari. Kebetulan tadi saya lewat, lalu saya berhenti karena lihat rame-rame di sini. Ehm, ngomong-ngomong, kamu dan Arif pulangnya sama saya saja.” Aditya menunjuk ke arah di mana mobilnya terparkir. “Biar nggak capek.” Pemuda itu pun mengedipkan sebelah matanya sambil menyunggingkan bibirnya dan lidah yang menyembulkan pipinya dari dalam.

“Ck! Dasar kadal!” gumam Danar dari dalam kerumunan.

Aditya bergerak memindahkan bobot tubuh di kaki lainnya, tangannya mulai bergerak-gerak saat melanjutkan kata-katanya. Kini pandangannya sudah ia sebar ke arah warga. “Pokoknya Bapak Ibu di sini jangan khawatir. Setiap saya datang ke mana pun, pasti selalu membawa solusi.”

“Memangnya solusinya apa, Mas Aditya?” celetuk seorang warga.

“Apa Mas Aditya bisa bikin aliran air ke rumah kami lancar lagi?” tambah warga lainnya.

“Soalnya cuma itu solusi yang kami mau, Mas Adit!”

“Ya, benar!”

“Betul!”

Aditya menyeringai memperhatikan orang-orang. Semula tampaknya mereka tidak ada yang berani bersuara. Begitu ada satu dua orang yang bervokal, maka yang lain ikut-ikutan. Mereka seolah sahut menyahut seperti kumpulan kera.

Aditya hendak berkata-kata untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Namun, sebelumnya ia tampak merogoh kantong dan mengambil ponselnya. Ponselnya itu hanya digenggam saja sebentar. Lalu pandangan matanya menyorot ke ajudannya. Seperti memberi isyarat tertentu dengan ponsel yang ada di dalam kantongnya itu. Ajudannya pun mengangguk dengan kelopak matanya dan pelan-pelan berdiri menjauh.

“Bapak Ibu harap tenang, ya.” Mata Aditya sayu seperti sedang bicara suatu hal yang remeh. “Kelamaan kalau kita selalu memikirkan perbaikan, perbaikan, dan perbaikan. Mikirin bagaimana aliran air ke rumah Bapak Ibu kembali lancarlah, bla bla bla … Ini kan masalahnya sistemik. Kita melakukan perbaikan di satu sisi, eh tahu-tahu di sisi lain ada masalah juga.”

Ajudan Aditya kini sudah berdiri di barisan warga. Ia menyorotkan kamera ponselnya untuk merekam bosnya itu. Danar yang melihatnya pun sempat menyunggingkan sebelah bibirnya. “Pencitraan, cuk!” gerutunya. Lantas Danar pun berjalan mendekati ajudan tersebut kemudian berdiri di depannya. Ia mencoba menghalang-halangi ajudan itu ketika merekam gambar.

“Aduh. Permisi, Dek. Permisi.” Ajudan tersebut kesulitan mendapatkan angle yang pas. Beberapa orang yang paham dengan isyarat gerak tubuh Danar pun membantunya membuat ajudan tersebut kerepotan.

“Saya punya solusi yang lebih praktis, Bapak Ibu.” Aditya masih meneruskan orasinya.

“Apa itu, Mas Aditya?” sahut seorang warga.

“Pasokan air akan diantarkan ke rumah-rumah, jadi Bapak Ibu tidak perlu mengantre, panas-panasan seperti ini untuk mendapatkan jatah air setiap hari,” lanjut Aditya.

“Hais … duit lagi,” ucap Sentari lirih.

“Apa maksud kamu, Tari?”

Sentari mengobrol dengan warga di sebelahnya di tengah kerumunan. Gadis itu terlihat lemas karena yakin dengan firasatnya. Segala sesuatu di negeri kita ini tidak terlepas dari urusan duit. Rakyat pinggiran seperti mereka selalu terkena dampaknya. Yang miskin semakin miskin, dan yang kaya akan semakin kaya.

“Memangnya kalau ngantar-ngantar air begitu nggak butuh uang bensin, Mbak?” jawab Sentari.

“Di luar sana, Bapak Ibu, sudah tidak ada mengantre-ngantre begini. Orang-orang sudah terbiasa menggunakan galon-galon. Bahkan, tidak perlu menunggu jadwal. Kalau air di rumah habis tinggal WA petugas dan air galon sudah bisa langsung diantarkan,” jelas Aditya.

“Jadi, kami diarahkan untuk membeli air galon, begitu?” protes warga.

Lihat selengkapnya