Dua hari berikutnya persimpangan utama jalan Desa Yurobaya pada pagi hari tidak terlihat lagi barisan orang-orang yang hendak mengantre. Tidak ada truk tangki yang berhenti di salah satu sisi jalannya, digantikan oleh mobil bak terbuka yang memuat jeriken-jeriken berisi air. Mobil itu beberapa kali lewat, berhenti dari rumah ke rumah, menurunkan jeriken, lalu pergi lagi. Mau tidak mau warga akhirnya membayar untuk itu. Airnya memang tetap gratis, tapi biaya pengantaran ditanggung masing-masing mereka. Lima ribu, sepuluh ribu, dua puluh ribu rupiah kalau lokasi rumahnya jauh.
“Lha, katanya gratis, kok ujung-ujungnya bayar juga?” seru seorang lelaki berkulit legam, kurus dan berkeringat yang duduk di warung kopi Bu Lela. Ia bertelanjang dada dan menggantungkan baju kaosnya di salah satu bahu. Jemarinya menjepit rokok yang sesekali ia isap.
“Tapi kan murah to, Mar? Coba kamu bayangkan kalau setiap hari kita harus ninggalin kerjaan cuma buat ngantre air. Kalah banyak hasilnya!” timpal lelaki lainnya yang baru saja menyeruput kopi hitam di gelas belimbing. Berbeda dengan lelaki sebelumnya yang bekerja sebagai petani, ia adalah tetangganya yang bekerja sebagai tukang ojek.
“Ya sudah to. Yang penting anak istri bisa minum, masak, mandi. Aku ya males kalau sehari-hari lihat istriku ngeluh terus gara-gara harus antri,” tambah seorang lelaki lain yang juga duduk di depan meja yang sama.
Mereka bersahut-sahutan. Ada yang mendukung, ada yang kesal, tapi tak seorang pun benar-benar bisa menolak. Air di desa ini secara tidak langsung sudah menjadi barang dagangan, meski dengan label gratis.
Sentari mendengar percakapan itu. Ia sedang mengantarkan kue-kue yang dititipkan untuk dijual di warung ini. Dadanya terasa sesak mendengarkannya. Uang sepuluh ribu sehari bagi keluarganya itu bukanlah nilai yang kecil. Bapaknya yang sakit asam urat tak lagi bisa leluasa bekerja sebagai buruh sadap karet di lahan tetangganya. Sementara ibunya hanya pembuat kue skala kecil-kecilan bersama dirinya. Penghasilan mereka tidak akan cukup kalau harus ditambah untuk menanggung biaya air terus-menerus. Namun, warga pun ada yang menerima dan menolak. Menolaknya mereka pun hanya berupa gerutu-gerutu sendiri saja. Tidak ada protes yang berarti. Di tengah gerutu-gerutu Sentari di dalam hati, ia pun gamang. Apa yang bisa dilakukannya? Menolak karena merasa diperas, atau menerimanya karena alasan kepraktisan?
“Eh, Dek Sentari. Gimana kabarnya, sehat?” tanya salah satu lelaki.
Sentari hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia terlalu malas untuk meladeni seorang duda yang akhir-akhir ini sering mengganggunya.
“Yang kemarin dapat berapa, Bu?” Sentari langsung sok sibuk dengan mengajak bicara si pemilik warung.
“Kan sudah dihitung kemarin sore to? Yang jelas daganganmu ya ludes semua, Cah Ayu. Oh, iya kalau bisa perbanyak lambang sarinya. Ada yang selalu kehabisan dan minta saya sisihkan duluan,” jelas Bu Lela. Wanita bertubuh gempal dengan rambut yang selalu digelung dan pakaiannya khas menggunakan bawahan berupa balutan kain jarik itu dikenal dengan keramahannya.
“Oh, iya Bu. Kalau begitu nanti akan dibuatkan lagi lambang sarinya yang lebih banyak. Ditambah lima puluh mungkin, ya Bu?” jawab Sentari.
“Kamu tuh, Dek … Sebenarnya nggak perlu lah repot-repot keliling. Bawaanmu itu juga berat kan?” ucap lelaki tadi yang melirik keranjang besar di sisi Sentari yang sudah kosong. Bentuknya yang bolong-bolong membuat siapa pun bisa melihat isi keranjang. “Lebih baik kamu kawin, Dek. Jadi, ada yang membiayai. Tinggal di rumah saja, anteng.”
“Saya permisi dulu, Bu, Pak,” ucap Sentari tersenyum tipis sambil mengangguk ringan.
“Loh, kok buru-buru sih kamu, Dek? Saya antar, ya?”
Sentari menggeleng sambil mempercepat langkahnya meninggalkan warung itu. Senyumnya hanya formalitas. Cara untuk menolak tanpa membuat hati orang lain kecewa.
“Halah, kamu itu Din … Din …” Lelaki lainnya menyabetkan pakaiannya ke lengan si duda. “Modus aja!”
“Namanya juga usaha lo, Lek!”
Setelah mengantarkan kue-kue di warung Bu Lela, di perjalanan Sentari bertemu dengan Danar. Laki-laki itu menghentikan kayuhan sepedanya kemudian turun dan menuntunnya sembari mengimbangi langkahnya bersama Sentari. Danar menyapanya dengan hangat. Pemuda itu jarang menawari seorang gadis untuk diboncengnya dengan sepeda atau motor kalau bukan hal yang darurat.
“Mau pulang, Tari?”
“Iya, Mas. Mas sendiri?” tanya Sentari balik. Gadis itu bicara dengan wajah yang nyaris menunduk. Ia menyembunyikan pipi meronanya dan menahan senyumnya. Hatinya selalu berbunga-bunga bila berhadapan dengan sosok yang menjadi pujaan hatinya itu.
“Aku … Aku hanya jalan-jalan sore saja. Sudah lama tidak pulang. Rasanya rindu sekali dengan suasana di sini.” Danar mengedarkan pandangannya. Dilihatnya suasana asri sekelilingnya.
Pohon-pohon besar di kiri kanan jalan yang daun-daunya berguguran tertiup angin dan jatuh di jalanan. Rumah-rumah yang atap gentengnya sudah kehilangan warna aslinya, tampak membaur dengan daun-daun kering yang jatuh dan menumpuk di sana. Suara kicauan burung dan dari kejauhan embik kambing juga suara ayam yang baru saja bertelur. Penghuni rumah yang sedang menyapu halaman, sarat suara gesekan ujung-ujung lidi dengan tanah.
“Bu …” Danar menyapa. Sentari ikut tersenyum dan mengangguk juga menyertai dengan suara sapaan yang lebih rendah.
“Yo … Mampir?” sahut ibu yang sedang menyapu halaman.
“Iya, Bu. Mau lanjut pulang.”