“Air bisa menipu. Terlihat jernih di permukaan, tapi keruh di dasarnya. Begitu pula janji-janji manusia.”
_____________________________________
Suara-suara menyeruak di balai desa, di mana warga membicarakan air energi dan kemunculan tokoh bernama Surya Suprojo. Pertanda bahwa gelombang baru saja menyapu Desa Yurobaya. Warga yang akhir-akhir ini dicekik kekeringan perlahan terkena bujuk rayu sesuatu yang disebut sebagai barokah.
Konsep pemikiran pun berbalik. Mulanya warga yang menjadi korban, kini menular seolah menjadikan mereka subjek komoditi. Mereka berpikir bahwa jika air biasa saja sah untuk dijual, mengapa tidak dengan air yang bisa menyembuhkan? Selain masalah kesehatan yang terselesaikan, toh orang-orang dari luar akan berdatangan untuk meramaikan pasar. Desa ini akan menjadi sorotan, roda perekonomian akan berputar, kekeringan dan dampaknya bisa diatur asal ada uang. Begitu ada satu dua orang yang mempertanyakannya, maka akan diberi jawaban, “Ayolah! Zaman memang sudah canggih, tapi masih kalah canggih dengan kekuatan energi yang dimodernisasi!”
Pada waktu, tempat, dan suasana yang lainnya, orang-orang berdasi juga melakukan pertemuan. Sebuah hall hotel berbintang di pusat ibukota provinsi menjadi saksi. Sudut-sudut ruangan serba berkilauan, pencahayaan dari lampu-lampu kristal, karpet mewah berwarna merah, juga embusan udara dari pendingin ruangan yang menggigit tulang. Bupati, camat, tentu saja gubernur hadir dengan jas rapi. Mereka disambut oleh wartawan lokal tertentu yang tak bisa sembarangan masuk. Para pejabat termasuk direktur BUMD, Rafrizal Johan, bapak dari Aditya, duduk di kursi empuk. Perwakilan investor asing berjas gelap juga tentu saja wajib ada, sebab merekalah yang jadi sorotannya. Juga Surya Suprojo yang menggandeng mereka sedang menampilkan senyum bangga.
Di sisi lain beberapa NGO, aktivis mahasiswa dan para akademisi lainnya ikut hadir. Mereka membawa catatan, menyiapkan banyak pertanyaan, mencoba memastikan bahwa forum ini akan berjalan sebagaimana mestinya. Hasil sebuah kajian strategis akan disosialisasikan tentang investasi yang masuk dan berlokasi sebagian arealnya masuk ke wilayah Desa Yuboraya.
Seorang juru bicara dari pihak investor dan pemimpin daerah memaparkan penjelasan-penjelasan yang disertasi visualisasi dari sorotan proyektor ke layar yang lebar di dinding. Terdapat tanya jawab yang berlangsung di ruangan ini.
“Nah, yang tayang di layar ini adalah peta Provinsi Jawandaran. Sebelah sini Kabupaten Serurang. Areal yang menjadi lokasi operasional kita ada di sebelah sini, di sini, dan di sini. Areal ini sudah kita kategorikan sebagai zona optimal, karena memiliki feasibility tinggi dengan multiplier effect signifikan bagi pertumbuhan regional.”
Beberapa orang dari meja NGO tampak meresponnya. Mata mereka seketika saling berpandangan, mereka bicara dengan menekan suaranya, khawatir mikrofon di meja menangkap obrolan mereka. “Itu kan masuk ke pemukiman? Semisal operasionalnya berlokasi di tempat yang ditetapkan BPN sebagai areal industri sih, nggak masalah. Lah, tapi itu pemukiman!”
Beberapa orang di meja akademisi pun berbisik-bisik juga. “Memangnya skemanya seperti itu, Pak? Kok saya nggak yakin, ya? Rasanya beda dengan draft yang saya pelajari sebelumnya.”
Pertemuan ini tampak berlangsung kondusif-kondusif saja, sampai pada suatu ketika, setelah acara itu usai, beberapa mahasiswa mengunggah video berpendapat mereka di media sosial.
“Gue mau replay komen ini di foto yang gue posting kemarin. Enak aja gue dibilang jadi simpatisan partai. Najis!” ucap seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun sambil sibuk memoles riasannya di depan kamera. Gadis itu adalah seorang mahasiswi yang sebelumnya diundang untuk ikut serta dalam pertemuan sosialisasi kajian investasi beberapa waktu yang lalu.
“Jadi, itu adalah foto gue diundang di sebuah forum. Gue di sana itu jadi semacam saksi program kerjasama daerah dan investor gitu. Oh, iya … ada yang gue rasa nggak sreg dengan acara itu. Mulai dari awal gue masuk ke ruangan … Ya, memang tempatnya standar pejabatlah, megah, gede, you know lah. Tapi, emh … Aduh, bingung gue ngejelasinnya. Takut salah ngomong, anjir!”
Bersambung pada video lainnya yang diunggah masih lewat akun media sosial yang sama. Kali ini, gadis yang akunnya memiliki sepuluh ribu pengikut ini merekam dirinya yang sedang merapikan dan mengatur pola-pola lipatan pada kain pashmina yang digunakan di kepalanya.
“Oke, sorry kemarin itu gue nggak cerita sampai selesai. Soalnya, kalau ujug-ujug ada tukang bakso lewat bahaya. Dan gue pun akhirnya memutuskan buat ceritain aja ke kalian soal ini. Forum yang kemarin itu aneh, sumpah! Gue kan nanya yang menurut gue itu adalah pertanyaan basic. Soal dampak sosial dan ekologi bagi lingkungan lokalnya. Karena menurut gue kok yang dibahas ekonomi-ekonomi melulu? Orang-orang apa udah gila duit, sampai hal basic kayak gini aja nggak terlalu dibahas? Terus, dengan entengnya pertanyaan gue itu dibalik kayak seolah nggak penting gitu. Jawabannya tuh, ini gue pakai bahasa gue sendiri ya, kayak, hello kami ini bukan lembaga sosial! Gue dalam hati, ini pertanyaan gue yang bego apa merekanya aja yang nggak nangkep? Terus protokoler di sana itu mengkondisikan setiap pertanyaan kalau udah dijawab sama narasumbernya ya udah, nggak ada tektokan lagi. Lah? See? Seaneh itu!”