Hendak menyembunyikan balik keresahan dari cerminan hatinya, Sentari pun melemparkan pandangan ke selain wajah Danar.
“Aku tahu tidak ada yang bisa Mas janjikan kepadaku untuk saat ini. Meski pun sebenarnya itu adalah hal yang sangat kuinginkan. Orang-orang kerap terhibur dengan yang namanya janji, dan melihatnya tak lebih dari sebuah permen untuk anak kecil yang menangis.” Pandangan mata Sentari seolah bisa menembus dinding-dinding bangunan yang jauh dan tampak kecil-kecil itu.
Tak berbeda dengan arah pandang Sentari. Mungkin benar, keduanya bisa melihat sesuatu dari sebuah titik yang tak benar-benar pasti itu. “Padahal janji itu lebih besar daripada tubuh orang dewasa, lebih besar dari gunung bahkan. Mungkin lebih besar dari bumi dan seisinya. Karena, dengan janji … seseorang, sebuah kelompok, bahkan sebuah bangsa bisa bertahan hidup demi mempertahankan janji yang mereka dengar,” Danar menambahkan.
Sentari tersenyum. Ia mengondisikan perasaannya. Gadis itu tak bisa memaksa agar jawaban Danar memenuhi keinginan hatinya, tapi ia cukup kagum dan mungkin akan tetap selalu begitu terhadap Danar. Ilalang menari karena alunan angin. Sebuah tarian upacara kematian, yang mau tak mau menghibur bagi mereka yang kehilangan. Sentari menikmatinya dengan penuh tanya, siapakah sosok perempuan yang sangat beruntung itu? Perempuan yang kelak menjadi pendamping Danar. Apakah dirinya bisa? Apakah dirinya layak? Rasa cinta Sentari memaksanya untuk dengan yakin menjawab “ya”, tapi logikanya selalu merongrongnya untuk menjawab “tidak”.
Saat matahari sudah bergeser ke barat, Sentari hanya berdiri menyaksikan Danar dengan tas punggungnya, jaket denimnya, hendak menaiki motor matic yang dibawa oleh Suprat. Usai mencium punggung tangan ibu dan bapaknya, laki-laki itu melangkah sambil menoleh pada Sentari. Jarak keduanya hanya belasan meter. Melihat Sentari meremas-remas tangannya sendiri dengan dengan air mata yang meleleh, Danar memutuskan untuk berjalan berbalik arah.
Senyum Sentari bergetar melihat pujaan hatinya datang menghampiri. “Mas per …” Belum usai Danar berkata-kata, gadis itu langsung menyambar tubuh Danar. Sentari memeluknya sangat erat dan tangisnya pun pecah. Dibenamkannya wajah itu di dada Danar, sehingga rengekannya seolah menembus ke jantung pemuda itu. Danar pun mengusap kepala Sentari untuk meredakan kesedihan yang sebenarnya lebih tepat ia tujukan kepada dirinya sendiri. Danar menengadah, atapan pemuda itu menghujam langit, menuntut semesta untuk membantunya berpikir logis. Pemuda itu bukan lagi anak kecil yang bisa membatalkan semua hal semaunya. Mau tak mau apa yang sudah direncanakannya, apa yang sudah dibangunnya harus tetap ia lanjutkan.
“Mas akan kembali, Dek.” Mereka masih saling berdekapan.
Melihat itu, air mata sang ibu berderai. Wanita itu pun melekatkan diri pada suaminya. Seolah kesedihan Sentari merupakan kesedihan yang juga menyesakkan dadanya. Suaminya itu pun merangkul dan menepuk-nepuk lengan wanita itu. Lelaki tua itu berkedip cepat untuk menghalau mata berkaca-kacanya. Ia berdeham kemudian berkata-kata untuk memanggil kembali keduanya pada realita. “Sabar Bu, Sabar.”
Lelaki tua itu merenggangkan rangkulannya, memberi mereka jarak, lalu hendak melangkah. Lengannya didekap lebih erat oleh istrinya, membuat langkahnya itu tertahan.
“Mau kemana, Pak?”
Lelaki itu memalingkan wajahnya ke arah Danar dan Sentari.
“Biarkan saja, Pak,” lanjut sang istri.
“Malu kalau nanti dilihat orang, Bu.”
Mendengar apa yang dikatakan lelaki tua itu, Danar dan Sentari pun melepaskan dekapan mereka. Sempat ujung mata mereka memburu sumber suara yang dapat mereka kenali dengan pasti itu.
Danar memandangi wajah yang murung, matanya sembab, dan bibirnya masih gemetar. Pemuda itu pun menyeka air mata yang membasahi pipi Sentari. “Mas tidak akan kemana-mana kok, Dek. Pergi Mas cuma sebentar. Ini bukan perpisahan.”
“Janji ya, cuma sebentar? Pastikan pulang! Secepatnya!” Suara Sentari serak, merengek dengan bibir yang melengkung seperti seorang balita sesenggukan yang baru saja berhasil dibujuk agar menghentikan tangisnya.