Satu per satu perwakilan desa mendatangi rumah tipe 90 itu. Sang tuan rumah, Ranu, beserta ketiga rekannya yang sejak tadi melakukan diskusi bertensi tinggi pun menyambut para tamu itu. Tidak ada banyak barang di ruang tamu. Hanya karpet permadani berbau apak yang digunakan orang-orang untuk duduk, bukan kursi atau sofa. Juga terdapat satu rak buku yang berisi novel-novel sastra yang siapa pun diizinkan untuk membacanya. Buku-buku yang sengaja dibiarkan, tidak seperti buku-buku berpemahaman tertentu yang tersimpan di ruangan tertutup lainnya di dalam rumah ini. Sehingga, ruang tamu rumah ini lebih menyerupai musala daripada sebagaimana ruang tamu rumah pada umumnya.
Orang-orang melantai. Jumlah mereka ada 42 orang, sudah termasuk perwakilan 8 desa, gabungan NGO, dan akademisi. Seorang ibu-ibu datang untuk mengantarkan konsumsi berupa gorengan dan beberapa teko teh dan kopi. Air putihnya sudah disiapkan di ruangan itu sebelumnya, yaitu air kemasan dalam kardus. Setelah mengantarkan konsumsi, ibu itu pergi. Hanya dia orang yang dipercaya untuk menyediakannya, bukan sembarang orang.
Inti dari pertemuan itu adalah jurnalisme warga. Kegiatan yang tidak digembor-gemborkan ini bermaksud untuk mengawal pembangunan yang terjadi di masing-masing desa. Dua orang akademisi memperkenalkan sebuah aplikasi yang bisa menampung laporan-laporan warga, baik itu foto, video, serta narasi yang langsung mereka ambil sendiri. Hasil dari informasi yang dihimpun itu akan dibantu dituangkan dalam bentuk publikasi-publikasi, tuntutan dan lain sebagainya untuk diteruskan kepada para pimpinan daerah atau media massa. Tentu saja warga menyambut baik kerjasama terpadu ini.
Gigis bertugas sebagai penanggung jawab notulensi. Acara itu dijeda untuk mempersilakan orang-orang menikmati konsumsi yang disediakan. Mereka berbincang dalam kelompok-kelompok kecil dengan suasana yang tidak seserius pada saat acara diskusi berlangsung tadi. Gigis memperhatikan orang-orang dan obrolan-obrolan mereka, tanpa banyak berinteraksi. Ia membayangkan kehadiran Danar saat ini. Baginya, Danar adalah seorang siswa yang kritis dan aktif pada saat dulu mereka sama-sama duduk di bangku SMA. Rapat-rapat OSIS dan keorganisasian lainnya seperti Palang Merah dan Asosiasi Siswa Pencinta Alam kerap diwarnai oleh semangat kritis Danar. Danar bukanlah sosok yang memangku jabatan-jabatan strategis seperti Ketua OSIS dan semacamnya. Ia hanya menduduki jabatan seksi saja, tidak jauh berbeda dengan Gigis.
Namun, sayangnya nasib kedua sahabat itu kini berbeda. Gigis tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi seperti Danar. Ia kini mengabdikan diri sebagai anggota pengurus sebuah lembaga swadaya masyarakat. Pemasukannya bila digabungkan dengan pemasukan ibunya yang membuka warung kopi dan gorengan dicukup-cukupkan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.
Acara diskusi itu pun dilanjutkan kembali. Pembahasan pun masuk kepada urusan teknis dalam jurnalisme masyarakat ini. Seseorang nyeletuk, “Pak, aksi kita ini kan diketahui terbatas oleh kita-kita di sini saja … Pada prosesnya di lapangan nanti bagaimana kalau kami-kami ini justru dicurigai oleh warga? Apakah boleh untuk menghindari yang seperti itu kami memberitahukan keluarga dan orang-orang terdekat kami?”
Seseorang lainnya menjawab dengan tensi sedikit naik. “Mas, kan tadi kita sudah sepakat bahwa apa yang kita lakukan ini sifatnya rahasia. Bagaimana kalau nanti informasi tentang kita pelan-pelan bocor? Misalnya ibu di rumah keceplosan cerita sama tetangga, lalu sama tetangga diceritakan ke orang lain. Begitu terus … Kita sama-sama tahu kalau ibu-ibu sudah berkumpul itu gimana, kan?”
“Ya, itu pandai-pandai kitanya saja sebenarnya, Mas. Mau memberitahu siapa itu yang jelas hanya orang-orang yang dipercaya saja.”
“Kalau menurut saya, ini maaf saya tiba-tiba masuk. Ini perkara status dari kegiatan ini mau ditetapkan rahasia atau tidak rahasia. Saya pun masih belum ngeh betul dengan rencana ini. Kenapa harus sifatnya rahasia, begitu? Bukankah justru lebih bagus kalau lebih banyak orang yang akan bisa ikut berpartisipasi mengisi aplikasi ini? Ini maaf-maaf kata ya, Pak … Ini saja belum orang di luar forum lho yang berpotensi untuk curiga, kami di sini juga boleh dong curiga dengan Bapak-bapak? Bisa saja kami mencurigai Bapak-bapak mengolah informasi yang terkumpul nanti untuk kepentingan lain yang justru bisa merugikan wilayah desa kami ini.”
“Jadi, Mas menuduh kalau kami …”
“Bukan, bukan menuduh. Ini hanya seandainya. Dari tadi saya bilang berpotensi, lho. Maksud saya begini, belum dijalankan pun kegiatan ini sudah membuat kepercayaan kita kepada keluarga sendiri dan tetangga kita itu terganggu. Kepercayaan yang terganggu itu bahaya, Mas! Bukannya warga bersatu untuk mengawal pembangunan di wilayah kita oleh para konglomerat itu, yang terjadi justru warga dipecah-pecah. Kan, ini juga perlu dipikirkan?”
“Benar apa yang Mas Karyo sampaikan. Itulah fungsinya diskusi ini dilakukan. Agar kita sama-sama bisa mendapatkan solusi terbaik dan tentu keterbukaan di antara kita ini yang penting sekali saya pikir.” Ranu menjadi penengah dari diskusi yang berlangsung dengan sedikit memanas ini.
“Gis, coba kamu … “ Ranu menoleh kepada perempuan tomboi itu. “Gis, fokus!” tegur Ranu yang mendapati Gigis terpaku dengan layar ponselnya.
Gigis mengangkat telapak tangan kanannya. “Ada informasi penting …” wajah Gigis cukup serius mengatakannya.