Pada suatu sore, di mana matahari sudah menyeret bayangan ke dinding-dinding surau, suara lantunan kidung-kidung doa mempercantik langit Desa Yurobaya. Suara ibu-ibu yang mengomeli anak-anaknya dari pinggir lapangan bola, suara motor-motor tanpa rangka yang digeber di pekarangan, aroma ikan asin yang digoreng, kadang-kadang aroma sambal bawang, bahkan embik kambing menandakan bahwa bapak-bapak yang ngarit harus segera pulang. Yang datang adalah seseorang dengan motor bebeknya. Seseorang itu membelah giat sore di gang sempit dan sesekali melayangkan tegur sapa kepada warga yang ia temui.
Suara ketukan pintu depan membuat Laksmi, ibu-ibu berdaster tiga perempat berlengan pendek itu cepat-cepat membersihkan tangannya dari tepung yang menempel. Tangan yang masih basah itu ia lap ke bajunya sambil melangkah nyaris berlarian dari dapur menuju ruang tamu. Sambil jalan terburu-buru ia memakai bergo yang menutupi sampai ke sikunya. Diintipnya jendela sebelum ia membuka pintu. Matanya terbelalak. “Aduh, Tari mana lagi? Aku harus nelepon Tari!”
Wanita paruh baya itu berbalik badan dan nyaris pergi untuk mengambil ponselnya, tapi tidak jadi. Ia berpikir bagaimana mungkin akan membiarkan tamu yang datang itu menunggu lama di depan pintu. Wanita itu pun membuka pintu dan mempersilakan tamu itu masuk. “Eh, Mas Adit. Silakan masuk.” Pandangannya ia edarkan ke luar sebentar. “Sendirian saja, Mas Adit?”
“Hehe … Iya, Bu. Tarinya ada?”
“Aduh, kebetulan Tari lagi keluar. Silakan duduk, Mas Adit.”
“Terima kasih, Bu.”
“Tunggu sebentar ya, Mas Adit? Biar saya telepon Tarinya dulu. Biasanya sih, kalau jam segini dia hanya ke depan saja. Kalau tidak ke warung depan, ya ke musala.”
“Oh, iya iya, Bu. Akan saya tunggu.”
Wanita paruh baya itu pun hendak menelepon Sentari lalu membuatkan teh manis hangat untuk pemuda yang begitu ia hormati itu. Aditya adalah tipe menantu impiannya. Kedekatan pemuda itu dengan putrinya membuat Laksmi menaruh harapan besar. Ia sering kali membicarakan Aditya dan membujuk agar putrinya itu mau menerima cinta anak konglomerat yang selalu tampak rendah hati itu.
Pada suatu malam, beberapa waktu yang lalu Laksmi pernah berbincang empat mata dengan putrinya itu. Laksmi selalu suka dengan rambut panjang Sentari. Ia selalu menyarankan agar anaknya itu memelihara rambut sampai sepunggung, sebagaimana yang disukai oleh mendiang ibunya dulu. Wanita paruh baya itu menyisir rambut Sentari pelan-pelan dari pangkal sampai ke ujungnya. Ia sering melakukan ini ketika menjelang tidur. Momen yang sudah menjadi rutinitas itu membuka ruang obrolan yang begitu dekat dan terbuka antara ibu dan anak.
“Ibu perhatikan Mas Aditya itu sudah tergila-gila sama kamu lho, Nak. Tapi, kenapa kamu masih ragu untuk menerima cinta dia?”
“Tari ini sadar diri, Bu … Orang kaya seperti Mas Adit itu kan bisa memilih perempuan kota yang jauh lebih segala-galanya dari Tari. Apa ibu mau kalau anak Ibu ini nantinya cuma jadi bahan lelucon orang-orang kaya?”
Wanita paruh baya itu terdiam sejenak. “Tentu saja tidak, Nak.”