Kepada Air

Bulan Separuh
Chapter #9

Make Over

Awalnya bagi Sentari, menghabiskan waktu bersama Aditya untuk pergi ke luar desanya adalah suatu keengganan. Namun, hati Sentari terhadap Aditya ibarat batu yang terus ditetesi air. Terus, terus, dan terus. Walaupun dengan intensitas yang ringan dan lembut, tetesan yang terus terjadi dalam waktu yang lama itu dapat melubangi batu yang sebegitu kerasnya itu.

Kedekatan mereka begitu kondusif. Orang-orang desa sudah terbiasa dengan Aditya yang sering berlalu-lalang. Karena Aditya berasal dari keluarga terpandang dan punya kekuasaan, jadi tak ada terdengar sedikit pun julid-julid dari masyarakat ketika melihat keduanya, sepasang muda-mudi lajang yang berjalan berduaan. Tidak sebagaimana pasangan muda-mudi lajang lainnya. Sering terlihat jalan bersama tanpa ikatan pernikahan dapat menimbulkan kecurigaan-kecurigaan. Bagaimana pun juga hal tersebut selalu berpotensi terjadi hal-hal tidak senonoh. Untungnya, masyarakat takut bisa melakukan kecurigaan itu pada Aditya dan Sentari.

Pada suatu hari Sentari diajak Aditya untuk pergi ke suatu tempat, sebuah restoran. Kali ini Aditya tidak menjemputnya dengan menggunakan motor bebek, dan pakaian pemuda itu pun tak sesederhana biasanya. Pakaian Aditya terlalu formal, seperti akan menghadiri pertemuan penting, semacam pesta-pesta pejabat dan sebagainya. Laksmi sempat heboh. Setelah melihat Sentari mempersilakan Aditya untuk duduk di ruang tamu, ibu-ibu berdaster itu sibuk membongkar pakaian-pakaian di lemari Sentari dan lemarinya sendiri. Sampai suaminya kebingungan dan menanyakan apa yang terjadi.

Laksmi menjelaskan bahwa putrinya Sentari perlu mengimbangi penampilan Aditya. Begitu Sentari masuk, ia jadi ikut heran juga. Baru saja Sentari meninggalkan kamarnya sebentar, tapi kini ruangan itu sudah sangat berantakan. Pakaian bertumpuk-tumpuk di tempat tidurnya, tidak ada yang terlipat. Tentu saja pertanyaan yang sama keluar dari mulut Sentari, seperti bapaknya tadi. Laksmi seolah menganggap pertanyaan itu tidak penting, karena ia sudah menjawabnya tadi, walau jawaban itu hanya buat suaminya. Sementara Sentari, ia benar-benar tak tahu apa-apa.

“Tar, kamu pakai ini aja, ya? Atau yang ini? Ah, tunggu tunggu, sepertinya jangan. Aduh, sepertinya tidak ada baju yang cocok.” Laksmi sibuk mondar-mandir dan masih menghamburkan pakaian.

Lelaki yang menjadi suaminya hanya berdiri di dekat pintu sambil mengisap rokok. “Lho, wong anak kita mau makan malam, bukan kondangan. Yo alah, Bu … Bu …”

“Ta-tapi …” Kata-kata Sentari tertahan, karena kedua orang tuanya itu terus saja nyerocos.

“Pak, ini bukan makan malam biasa! Lihat itu siapa yang sedang menunggu di ruang tamu! Aditya Johan Putra! Apa Bapak sudah lihat pakaiannya? Dia pakai jas, Pak! Masa putri kita mau dibiarkan berpenampilan seadanya? Yang ada nanti …”

“Bu, dengarkan Sentari dulu.”

“Yang ada nanti putri kita cuma akan jadi bahan olokan orang-orang kaya di sana. Lagi pula orang-orang kaya itu kenapa aneh sekali, ya? Janjian makan malam tapi datangnya sore-sore begini,” lanjut Laksmi.

“Heh, Bu! Itu anak kita mau ngomong! Coba rem dulu itu bicaranya!” tegur Rustam.

“Kamu mau ngomong apa, Nak?” Akhirnya Laksmi bisa memberi kesempatan Sentari bicara.

“Ibu nggak perlu repot-repot memikirkan pakaian Sentari. Jadi, sebelum acara makan malam, Mas Adit itu mau mengajak Sentari ke toko baju, lalu ke salon. Dia sudah memikirkan kesiapan Sentari, kok,” jelas gadis itu. Ada getaran ragu dalam nada bicaranya. Sentari belum pernah dibiayai sebegininya demi hanya untuk sebuah acara makan malam. Ia khawatir kelak akan bertemu dengan siapa saja. Mungkin kolega bisnis Aditya yang orang-orang kaya itu. Namun, yang utama adalah Aditya sudah bilang bahwa Sentari akan ia kenalkan dengan ibunya. Sentari sedang menahan kekhawatirannya. Ia takut kalau nanti ia berlaku aneh, salah bersikap di depan mereka, dan melakukan kesalahan-kesalahan semacamnya.

Lihat selengkapnya