Kepada Air

Bulan Separuh
Chapter #10

Kejatuhan Durian Runtuh

Aditya tiba-tiba saja memegang tangan Sentari, membuat gadis itu terkejut. Sentari sempat berpikir yang tidak-tidak soal pemuda itu, dan kata-kata ayahnya pun langsung terngiang-ngiang di dalam kepala gadis itu. Ketika kita bersama seseorang yang kita kenal sebagai orang yang baik, kita tetap perlu berhati-hati. Kesialan bisa menimpa siapa saja dan kapan saja. Demikian yang terlintas di benak Sentari.

Sentari memandang dalam-dalam wajah Aditya yang sedang bicara dengan nada penyesalannya. Pemuda itu terus saja menunjukkan rasa tidak enaknya. Ekspresi memelas di hadapan Sentari membawa gadis itu kembali ke beberapa waktu silam. Waktu itu Aditya sedang dalam masa berduka. Ayah Aditya baru saja meninggal dunia dan pemuda itu semakin sering seolah-olah tanpa sengaja bertemu dengan gadis itu. Sentari tahu benar bahwa Aditya sengaja menemuinya, bukannya tanpa sengaja. Sejak saat itu Sentari merasa bahwa mungkin pada saat itu Aditya sedang berusaha melengkapi bagian yang hilang dari dirinya, dari hidupnya. Entah ini hanya perasaan Sentari saja atau benar-benar demikian kenyataannya. Agaknya hal ini yang membuat tembok di hati Sentari melunak. Pelan-pelan gadis itu mulai mengizinkan Aditya masuk ke dalam kehidupannya, sampai akhirnya Sentari tak lagi bisa melawan arus yang kuat itu.

Aditya masih melancarkan permohonan maafnya dan Sentari lagi-lagi luluh dengan wajah pemuda itu. Apa yang ada di depan matanya saat ini membuatnya berpikir bahwa mungkin kata-kata ayahnya itu terlalu berlebihan bila dipakai untuk menuduh ketidaksengajaan Aditya. Ketidaksengajaan, hal itu yang dipercaya Sentari saat ini. Ya, Aditya berhasil membuatnya percaya bahwa semua akan berjalan dengan baik-baik saja. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari sebuah ketidaksengajaan.

Sentari menarik lurus bibirnya dan mengangguk mantap. Sebuah jawaban yang ia berikan atas permohonan maaf Aditya. Selain positive thinking, ternyata ada satu bonus dari perkataan Aditya yang membuatnya senyum-senyum sendiri. Sentari baru saja merasa menjadi orang yang cukup penting. Ada level beberapa tingkat lebih tinggi yang baru saja ia tapaki. Sebuah pengakuan dari Aditya bahwa dirinya itu pasti akan diterima oleh ibu pemuda itu. Aditya baru saja mengucapkannya dengan mantap, terlihat dengan keyakinan penuh. Hal itu membuat banyak hal dari pikiran Sentari tersingkir begitu saja, seolah ia punya jalur baru yang akan ia susuri. Kehidupannya sebagai orang miskin, rasa rendah diri, dan terbiasa diinjak-injak bahkan dengan beratnya tekanan, semua itu baru saja seolah hengkang.

Mobil itu membawa Aditya dan Sentari memasuki sebuah tempat yang sangat mewah. Restoran bergaya Eropa. Aditya cukup menghentikan mobilnya di porte cochere, sebuah tempat serupa teras besar dari bangunan bergaya klasik itu. Ada seorang petugas yang menyambutnya di balik pintu mobil. Aditya menyerahkan kunci mobil kepada petugas itu. Bagaimana dengan Sentari? Tentu saja Aditya yang membukakan pintu mobil dari luar lalu mempersilakan Sentari turun dan mendampinginya berjalan masuk ke bangunan bernuansa warna emas itu.

Begitu menginjakkan kaki melewati batas pintu, seorang pelayan berseragam indah menyapa dengan ramah. Ia menanyakan perihal pemesanan meja. Aditya bercakap-cakap dengan pelayan itu dan pelayan itu pun mengantarkan mereka menuju meja yang sudah dipesan sebelumnya. Sementara Sentari, ia berjalan nyaris selalu tertinggal di belakang. Matanya menelanjangi seisi ruangan. Lebih tepatnya dirinyalah yang sedang ditelanjangi oleh suasana di sana. Setidaknya demikianlah perasaan Sentari untuk pertama kalinya. Kekagumannya bercampur dengan rasa rendah diri sesekali.

Lihat selengkapnya