Kepada Air

Bulan Separuh
Chapter #11

Sebuah Perjuangan dari Seberang

Wanita yang bernama Ratih itu menjadi poros baru di dunia Sentari. Begitulah manusia, awalnya khawatir dan takut terhadap apa yang tak diketahuinya, cenderung menutup diri, bahkan ada yang menyatakan dengan tegas akan sikap anti. Namun, pelan-pelan batu keras yang ditetesi air lama-lama akan berlubang juga. Hati manusia siapa yang tahu, kemarin bisa begitu menbenci tapi besok tiba-tiba mencintai. Undangan-undangan pesta ulang tahun seorang istri pejabat, arisan dengan hadiah perhiasan, hingga acara amal di ballroom hotel, semua Sentari jalani bersama Ratih.  

Apa yang dulu sempat terpikir olehnya bahwa ia terlahir untuk menjadi golongan orang-orang pinggiran pun kini mulai bergeser. Ternyata, siapa pun bisa merubah nasibnya kalau seseorang itu mau. Perbedaannya adalah tetap bertahan dengan prinsip yang bisa jadi tetap menyengsarakan diri dan keluarga, atau menerima perubahan disertai dengan campur tangan keberuntungan. Kehadiran Aditya dan keluarganya adalah keberuntungan bagi Sentari. Mungkin benar yang dikatakan keluarga dan para tetangga selama ini, keberuntungan itu belum tentu datang dua kali. Jadi, Sentari berpikir untuk pasrah mengikuti arus. Toh, sepertinya Aditya dan keluarganya itu adalah orang-orang baik, terpandang, dan nyaris tidak mungkin melakukan hal-hal yang keji. Jadi, tidak ada salahnya bukan kalau menerima pinangan dari Aditya?

Di waktu-waktu sisanya hidup melajang, Sentari sering kali terlihat melamun. Sikap itu pun membuat keluarganya khawatir. Sepertinya selama ini Sentari terlihat bahagia bila sedang berhubungan dengan keluarga konglomerat itu. Lalu apa yang kemudian terjadi?

Malam itu keadaan kampung sedang gelap. Di sana sedang ada pemadaman listrik yang dijadwalkan semalaman. Biasanya sebelum jam 21 orang-orang belum banyak yang tidur. Bila listrik menyala suasana kampung masih seramai sore. Suara-suara yang berdesing dari bengkel-bengkel motor, lagu-lagu dangdut dari pengeras suara rumahan, denting mangkok para pendagang asongan, aroma butter dan santan yang menguar dari dapur-dapur pada pembuat jajanan pasar, dan tentu saja lampu-lampu di pekarangan, tepi jalan, dan jendela-jendela rumah orang yang masih menyala terang. Malam ini semua itu tidak ada, berganti dengan senyap yang diiringi suara jangkrik dan kondisi kampung yang gelap-gelapan. Hanya ada kelompok-kelompok pemuda di pos ronda yang terdengar bercanda atau mendendangkan lagu menggunakan gitar. Sedangkan tentang cahaya, apalah artinya beberapa lampu minyak dari dalam-dalam rumah bila dilihat dari luar? Di jalan memang ada beberapa titik cahaya, tapi itu hanya berasal dari lampu-lampu motor yang berlalu-lalang.

Sentari, ibu dan bapaknya duduk di teras. Untungnya malam ini purnama, jadi ada hiburan di tengah pemadaman listrik. Sedangkan Arif sudah kelelahan karena pertandingan bola seharian, jadi bocah itu sekarang sudah berkelana di alam mimpinya.

“Nak, kok Ibu perhatikan akhir-akhir ini kamu sering sekali melamun. Apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Laksmi yang sedang memijat-mijat bahu suaminya.

Denting cangkir kepada piring kecil sebagai alasnya “Apa ini ada hubungannya dengan Nak Aditya dan keluarganya itu? Bapak kira kalian sudah mantap dengan hubungan kalian,” timpal Rustam.

Sentari hanya diam saja.

“Apa mereka menyakitimu, Sayang?” tanya Laksmi.

Sentari menggeleng. Mulutnya terbuka. Ia tampak menghirup napas melalui mulutnya itu, seperti hendak bicara tapi tidak jadi.

“Bicara saja. Bapak dan Ibu tidak akan marah, kok. Kamu kan sudah dewasa, Nak. Kami percaya dengan pilihanmu. Kami ini hanya khawatir kalau mereka memperlakukan kamu yang macam-macam,” lanjut Rustam.

Lihat selengkapnya