Kepada Air

Bulan Separuh
Chapter #12

Merobek Puisi

Danar duduk di depan meja sebuah warung kopi dekat kampusnya.  Tidak jauh dari kampus swasta tempatnya kuliah juga terdapat kampus-kampus lain yang berdiri, di antaranya kampus ‘plat merah’ yaitu kampus negeri di sebelah selatannya, kampus besutan BUMN di sebelah baratnya, kampus milik lembaga keagamaan setelah kampus BUMN itu, dan kampus yayasan milik tokoh berpengaruh yang jaraknya paling jauh dari kesemua kampus tersebut.  Di tempat inilah Danar bertemu dengan mahasiswa-mahasiswi dari kampus-kampus yang berbeda-beda itu.  Mereka menyebutnya sebagai ‘titik kumpul’.

Warung kopi, demikianlah tempat ini disebut, yang sebenarnya lebih cocok sebagai kafe buku.  Pemiliknya bernama Pak Nahrowi yang bertubuh gemuk, jadi tempat ini bernama Warung Kopi Pak Ndut.  Ada beberapa segmen ruangan di tempat ini, yaitu sebuah tempat outdoor berisikan meja dan kayu kecil-kecil yang bersebelahan dengan tempat parkir kendaraan, lalu masuk sedikit berupa ruangan sebagaimana kafe-kafe lainnya dengan dinding yang berhiaskan pajangan-pajangan eye-catching, dan tempat paling dalam adalah ruangan serupa perpustakaan yang menyimpan banyak bacaan berat.  Danar lebih sering duduk di tempat paling luar, karena beberapa acara panggung sastra kerap diadakan di sana, seperti acara dengar diskusi dan pembacaan puisi atau musikalisasi.  Namun, bukan berarti Danar tidak suka di tempat lainnya, hanya saja sesuai kebutuhan.  Bila Danar ingin membatasi dirinya dengan keramaian, maka ia akan menempati ruangan terdalam.  Danar juga menempati ruangan tengah bila ada undangan dari temannya untuk pembahasan yang sedikit serius.

Danar sedang menunggu teman-temannya.  Ia datang terlalu awal.  Tampak di sana-sini para karyawan kafe ini membereskan tempat karena baru buka.  

Seorang pelayan menghampiri.  “Mau kopi susu seperti biasa A’?”

Danar tersenyum dan menjawab dengan ramah, “Ah, sudah sudah.  Tadi saya sudah pesan sama Mang Duna.”

“Oh, begitu.”  Lalu pelayan itu celingukan seperti mencari seseorang.  “Mana ini teh Mang Duna?” gumamnya.  Pelayan itu pun tersenyum dan meminta Danar agar sabar menunggu, kemudian ia pun pamit pergi.

Danar sendiri lagi.  Ia pun membuka ponselnya.  Dilihatnya berita soal diangkatnya direktur baru sebuah BUMD yang areal operasinya meliputi Desa Yurobaya, kampung halamannya tercinta.  Aditya Johan Putra, nama itu yang terpampang di sana.  Dalam sebuah konferensi pers Aditya memberikan beberapa pernyataan, tapi bukan itu yang menarik perhatian Danar.  Sebuah foto dalam berita itu samar-samar membuat bola mata Danar bergetar, nyaris ia tak berkedip.  Danar sedang melihat gambar seorang perempuan yang ia kenal dengan penampilan yang berbeda.  Perempuan itu berdiri di belakang Aditya dan juga beberapa bawahan Aditya sehingga perempuan itu tak tampak terlalu jelas.  Sentari, Danar yakin benar itu adalah Sentari.  

Pelan-pelan dunia Danar tiba-tiba tampak berkabut.  Sekelebat bayangan tentang Sentari seolah membawanya ke kampung halamannya.  Danar baru saja mengenang kebersamaannya dengan Sentari, si gadis desa yang berpakaian seadanya, jauh berbeda dengan perempuan yang sedang ia lihat di foto itu sekarang.  Tentu saja Danar menebak bahwa perempuan pujaannya itu sudah berubah.  Pakaian dan riasan yang dipakai perempuan itu membuatnya terlihat tidak selugu biasanya lagi.  Di antara Sentari dan Aditya pasti memiliki hubungan spesial.  Danar mengembuskan udara berat dari mulutnya dengan kasar.  Sebuah usaha mendorong rasa sesak yang sejak tadi tertahan.  “Ternyata kamu memilih untuk tidak menungguku pulang, Dek,” batinnya.

Lamunan Danar terpecah oleh tangan seseorang yang mendepak bahu Danar.  “Woe … Bengong aja lu.”  Rupanya itu adalah salah satu teman Danar yang baru saja datang.  Kedatangan pemuda itu pun diikuti oleh pemuda-pemuda lain setelahnya.  Warung Kopi Pak Ndut pun mulai ramai.

Raka, salah seorang sahabat Danar yang merupakan anak dari keluarga konglomerat, pengusaha besar di kota itu.  Penampilan Raka biasa saja, tidak jauh berbeda dengan pakaian Danar yang sepraktis kaos berkerah, celana jins, dan sepatu kets.  Banyak orang dari pelosok yang minder karena penampilan mereka terlalu sederhana dibandingkan orang-orang kota.  Untungnya, Danar bertemu dengan orang-orang old money yang justru berpenampilan biasa-biasa saja.  Sebagian besar golongan mereka lebih nyaman dengan penampilan yang praktis, sederhana, dan tidak menunjukkan keangkuhan harta, jabatan, dan kekuasaan.  

Lihat selengkapnya