Kepada Wanita yang Kusebut Ibu

Vanilla Hara
Chapter #1

Prolog

Gundukan tanah merah itu masih basah, dipenuhi bunga-bunga segar yang wanginya semerbak. Mendung tak membuat para pelayat betah berkerumun. Mereka sudah beranjak satu per satu, meninggalkan jejak kaki yang beralaskan sandal dan sepatu. Sementara itu, aku masih di tempat yang sama, duduk terpaku sembari berlutut.

Perlahan arakan awan hitam mengembun, lantas menghunjamiku dengan rintik yang tak terlalu kerap, tetapi cukup membuat baju hitam tipisku lembap. Perasaanku begitu campur aduk, tak mengerti mengapa aku belum juga meninggalkan tempat itu. Toh, seberapa lama pun aku di sana, tak membuat wanita yang selalu kupanggil Ibu itu kembali terbangun, tersenyum, dan menyapa ramah. Lagi pula, aku tak merasa memiliki penyesalan apa pun. Namun, kakiku sangat enggan untuk mengayun menjauh.

Mungkin, aku tengah berusaha keras memerah kelenjar air mata agar cairan bening itu mengucur turun. Kendati kenyataannya, tak setetes pun yang jatuh. Aku lantas mencari-cari perasaan sesak yang biasa menggedor-gedor dada kala kehilangan orang tersayang. Bahkan saat kedua mataku memerah, dadaku lebih akrab dengan helaan napas lega.

Lihat selengkapnya