"Red Naomi Rose yang kita pesan buat acara akad Ci Celine besok lusa udah dikirim, Jen?" Tanganku refleks memetik serbuk sari lily agar tidak mengotori kelopak dan membuat bunga cepat rusak.
Pagi ini belum genap pukul enam, tetapi aku sudah sibuk mengecek bunga-bunga di ruang conditioning. Signboard florist masih mengantungkan tanda close meski pintu depan tak lagi terkunci. Bahkan sudah ada beberapa supplier yang mengirim bunga sejak pukul lima pagi. Alasannya, untuk menghindarkan bunga dari paparan cahaya matahari.
"Overall, bagus semua sih, Ra. Mayoritas half bloom, tapi ada beberapa yang memang terlalu open."
Mengerutkan kening sejenak, lantas aku menoleh ke arah gadis cantik dengan rambut lurus sebahu yang baru keluar dari ruangan sebelah, tempat di mana bunga-bunga yang baru datang dari supplier harus di-hydration.

Jenahara Sudibjo, satu-satunya sahabat sekaligus partner bisnis yang menemaniku membuka dan merintis usaha florist. Tiga tahun. Butuh tiga tahun buat kami jungkir balik membangun "Sunday Blossom" hingga sebesar sekarang.
"Tapi masih oke, kan? Kita kemarin pesan lebih nggak, sih? Takut banget bunganya kurang," tuturku dengan nada khawatir setelah mendengar beberapa mawar sudah terlalu mekar sebelum waktunya.
Jena berjalan mendekatiku sembari membenahi ikatan bando kain di kepalanya. Dia melewati ember-ember hitam conditioning berisi mawar, lily, tulip, dan lisianthus yang masing-masing diberi label tanggal kedatangan agar mudah dipantau kesegarannya.
"Tenang aja. Gue udah pesan lebih kok. Nanti yang terlalu open, bisa kita buat display depan."
Aku mengangguk setuju. Tak urung satu helaan napas lega meluncur dari bibirku. Menggeluti usaha florist, tentu membuatku paham bahwa mekarnya setiap bunga memiliki timing sendiri. Sekali meleset, kami pasti akan rugi.
Sebuah pijatan lembut di bahu cukup menyentakku yang sesaat sibuk memikirkan ini dan itu. Menoleh, senyum menggantung di bibir tipis Jena. Matanya yang bulat menatapku lekat. Dalam gerakan cepat, dia menyentil dahiku pelan. Kaget, aku mengerjap.
"Bisa nggak sih, pelan-pelan lo kurangin overthinking lo itu, Ra? Nggak semua hal yang belum terjadi harus lo pikirin sekarang," ujarnya santai. Kendati demikian, sorot matanya tampak serius. Dia menyilangkan kedua tangan di depan dada sembari mengedikkan dagu, lalu berkata, "Lo pasti lagi mikirin berapa persen kerugian yang bakalan kita dapat andai gue nggak ngelebihin pesanan mawar buat akad Ci Celine, kan?"
Aku tersenyum karena pikiranku berhasil dia baca dan tebak secara tepat. Pruning shears yang sedari tadi kupegang, menjelma menjadi objek menarik untuk kutatap dan menghindari tatapan Jena.
"Dalam berbisnis, wajar kan kalau aku mikirin untung rugi, Jen?" tanyaku balik. "Apalagi usaha florist ini bukan cuma aku aja. Tapi punya kamu juga. Selain itu, kita punya beberapa karyawan yang menggantungkan hidup sama usaha ini. Belum lagi, apa-apa di Jakarta sekarang serba mahal. Jadi, wajar kalau aku selalu mikir, gimana caranya biar Sunday Blossom selalu dapat untung, bukannya rugi." Aku memasukkan pruning shears ke kantong apron. Bergeser beberapa langkah ke kanan, aku mengecek Peony yang pagi ini harus kurangkai.
Mendengar jawabanku, Jena menggeleng-geleng kecil. Bibirnya sempat bergerak hendak mengucapkan sesuatu. Alih-alih mengutarakan bantahan, dia berdecak sembari mengayunkan langkah keluar menuju workbench. Aku pun menyusulnya.
"Lo beneran nggak ada turunan Chinese, Ra?" Tiba-tiba topik yang dibawanya berubah. Dia mengambil floral foam yang sudah direndam air dengan campuran flower food. Setelah itu, dia mulai menancapkan satu per satu Peony yang kubawa dari ruang conditioning.
Ikut membantu, aku memilah-milah bunga dan daun pelengkap apa yang cocok. "Kenapa sih kamu nanya kayak gitu terus?" Kupicingkan mata penuh curiga. "Meski mataku rada sipit dan hidungku minimalis begini, aku bisa jamin kalau aku ini orang Jawa asli.
"Oh, iya? Jawa mana?"