"Wes talah, Nduk. Kalau kamu, ibu yakin pasti bisa. Masalahnya sekarang, mbakmu ini mau tujuh bulanan. Ibu lagi repot nyiapin acara tujuh bulanan mbakmu. Kamu kalau ada waktu, tolong carikan orang yang bisa gambar wayang di kelapa gitu, Nduk. Mbakmu maunya kelapanya digambar wayang. Ibu ndak tahu yang begituan. Kalau bukan kamu yang bantu Ibu, siapa lagi?"
Sepenggal percakapanku dan Ibu di telepon beberapa tahun lalu itu tiba-tiba berputar kembali dalam benak. Aku masih ingat jelas kata per kata yang Ibu ucapkan untuk menanggapiku yang tengah meminta doa agar sidang skripsiku dilancarkan. Bukan doa yang kudapat, melainkan titah yang tak bisa kutolak. Bahkan sebaris doa sederhana pun tak mampu Ibu lantunkan untuk anak perempuannya yang tengah menempuh pendidikan sarjana di Jakarta.
Aku diminta mencari orang yang bisa menggambar wayang di kelapa kuning khas acara tujuh bulanan. Harusnya aku tidak mengiyakan atau pura-pura tidak tahu saja. Lagi pula, kala itu aku masih harus mengulang materi skripsi agar esok tidak ada yang lupa. Jelas-jelas aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri dengan waktuku yang serba terbatas.
Kalau bukan kamu yang bantu Ibu, siapa lagi?
Sayangnya, berkat kalimat pamungkas itu, aku tak sampai hati untuk bersikap abai. Mau tidak mau, aku tetap menghubungi teman-temanku, bertanya pada mereka siapa yang mampu melakukannya. Jika memang tidak ada, siapa tahu mereka kenal seseorang yang memang membuka jasa melukis kelapa. Pada akhirnya, usahaku pun membuahkan hasil dengan bantuan kakak laki-laki Jena, Pramana Soedibjo.
"Udah berapa kali lo aduk itu teh, Ra? Lo mau aduk sampai berbusa?"
Aku mengangkat wajah dan langsung disambut dengan wajah datar Jena. Matanya memicing, sedangkan sebelah alisnya bergerak naik.
Hari ini kami sengaja menutup florist lebih awal. Sore tadi, kami sibuk mengirim bunga untuk acara resepsi Ci Celine di Grand Hyatt, Jakarta Pusat. Acaranya memang masih besok pagi, tetapi orang wedding organizer mulai mengerjakan dekorasinya satu hari sebelum acara. Beruntung, red naomi rose yang Ci Celine request tiba kemarin dan sudah selesai kami conditioning.
Awalnya, Jena mengusulkan agar florist buka setengah hari saja. Namun, usulan itu urung karena selepas makan siang kami menerima pesanan karangan bunga yang cukup membeludak. Semua pesanan karangan bunga itu ditujukan untuk grand opening salah satu klinik kecantikan baru di daerah Jakarta Utara.
Sebab tutup lebih awal, pukul setengah tujuh malam kami sudah berada di lantai dua florist. Sunday Blossom memang terdiri dari dua lantai. Lantai bawah sengaja kami jadikan tempat usaha, sementara lantai atas menjadi tempat tinggalku dan Jena. Berbeda dengan lantai satu yang didesain lebih warm, lantai dua bernuansa lebih ceria dengan warna soft pink dan butter yellow. Jena yang memilih cat dan pernak-pernik ruangan. Aku hanya mengangguk mengiyakan asalkan dia betah dan senang.