Keping Hati

RiniKa
Chapter #1

Prolog


Kupejamkan mata. Menikmati sepoi angin pantai yang begitu menyejukkan menyapa pipiku. Deru ombak semakin menambah tenangnya hati. Ya, aku sangat menyukai ini. Saat di mana, aku bisa merasakan kedamaian. Merasakan Tuhan memelukku sambil berbisik, "Kamu tidak sendiri." Tentu saja, selain waktu aku menghadap-Nya di atas sajadah. 


Sejauh ini, aku semakin menyadari, hanya Tuhan yang tidak pernah dan tidak akan mengecewakanku. Tidak seperti mereka yang sudah berhasil menghancurkanku. Meremukkan hati, satu-satunya yang kumiliki. 


Aku secengeng ini. Hanya dengan mengingatnya saja, air mataku luruh tak terkendali. Aku pikir, aku sudah mati rasa. Nyatanya, aku masih merasakan semua sakitnya. 


Kalau saja, mengakhiri hidup tidak menjadi daftar dosa, aku sudah memilihnya dari dulu. Karena sungguh, semua begitu berat. Meskipun Tuhan, mungkin menganggapku mampu melewatinya. 


Aku lelah. Lelah dengan semua keadaan. Lahir dan tumbuh tanpa tahu apa itu kasih sayang, apa itu ketulusan, membuatku tidak mau tahu orang lain, seperti mereka yang sepertinya juga tidak peduli pada perasaanku. Traumaku semakin menjulang, sulit untuk kusembuhkan. 


Bayi yang seharusnya sedang bahagia-bahagianya, harus menghadapi apa itu perceraian. Bahkan, saat itu, saat di mana aku belum tahu apa pun. Belum merasakan, bagaimana hangatnya pelukan seorang ayah. 


Aku tumbuh tanpa kemauanku. Kedua keluargaku terlihat menyayangiku. Tapi, tanpa mereka sadari, luka yang mereka gores begitu dalam. Bagaimana tidak? Seorang anak kecil yang seharusnya fokus pada dunianya, harus mendengar bagaimana mereka menjelekkan satu sama lain dan merasa paling benar. Mereka tidak menyadari bahwa yang mereka lakukan mampu memporak-porandakan mentalku. 


Saat itu, aku tidak bisa dengan bebas mengekspresikan apa yang aku rasakan. Aku harus menjaga hati mereka. Ketika bersama Bapak, aku tidak boleh memuji Ibu. Ketika bersama Ibu, aku tidak boleh memuji Bapak. Mungkin luka yang mereka rasakan terlalu dalam, tapi... apa itu semua aku yang harus bertanggungjawab? 


Masih teringat jelas, ketika aku memutuskan untuk tinggal bersama Nenek dari Bapak, Ibu langsung mengataiku anak durhaka. Aku anak yang tidak tahu terima kasih, tidak tahu balas budi. Karena sebelum itu, ayah sambungku yang membiayai sekolahku. Bu, itu bukan kemauanku. Apa itu juga termasuk hutangku? 


Ketika aku merasakan sedikit hangatnya keluarga bersama Nenek, Kakek, dan bibiku, tahu-tahu Bapak pulang membawa wanita dengan anak perempuannya. Tanpa basa-basi, Bapak mengatakan kalau beliau akan menikahi wanita itu. Saat itu, aku tidak memiliki pikiran buruk sedikit pun. Aku hanya senang khas anak kecil, aku akan memiliki seorang kakak perempuan yang belum pernah kumiliki. 


Lihat selengkapnya