
Hari ini sahur terakhir sebelum lebaran. Di meja makan sudah ada beberapa potong ayam dan tempe goreng. Juga, sayur sop di panci buatan Endah dengan asap yang masih mengepul. Nara baru saja keluar dari kamar, kemudian ia bergegas ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Imam, Yuli dan Dinda juga sudah duduk di kursi ruang keluarga. Mereka asyik menonton acara sahur di televisi.
“Wati kapan sampai?” tanya Imam pada sang adik.
“Biasa, Mas... malam takbir baru berangkat.”
“Naik travel atau bis?”
“Bis katanya.”
Itu saja kalimat yang terdengar di sela makan sahur mereka.
Setelah sholat subuh, Yuli mengajak Endah untuk pergi ke pasar. Dinda dan Nara juga diajak. Sementara Nenek Parni di rumah. Ia akan membuat kulit ketupat dari janur pohon kelapa. Di rumah, hanya beliau yang bisa membuatnya.
***
Sehari sebelum lebaran, pasar begitu ramai. Para calon pembeli saling berdesakan. Tempat parkir pun penuh dengan sepeda motor. Suara klakson, orang tertawa, juga orang yang sedang tawar-menawar, terdengar campur aduk. Nara dan Dinda pun berjalan beriringan, mencoba mengakrabkan diri.
Beberapa kantong plastik isi belanjaan sudah ada di tangan Endah dan Yuli. Mereka berbelanja sayuran juga bumbu untuk masak persiapan lebaran besok.
Sesampainya di rumah, semua anggota keluarga sibuk memenuhi dapur dengan pekerjaan masing-masing. Nenek Parni masih sibuk dengan bungkus ketupatnya, Endah dan Yuli menyiapkan apa yang akan di masak, Nara melakukan yang paling sederhana, mengupas bawang merah dan bawang putih.
Puasa hari terakhir biasanya memang terasa lebih cepat. Begitu juga dengan hari ini. Apalagi cuaca yang tidak panas, tetapi juga tidak mendung begitu mendukung. Membuat tenggorokan tidak merasa haus sedikit pun. Setelah azan magrib berkumandang, menandakan puasa tahun ini telah berakhir, orang-orang sibuk menyantap menu berbuka.
Selepas magrib, gema takbir mulai terdengar. Sejujurnya, saat-saat ini adalah momen yang paling tidak disukai oleh Nara. Bagaimana tidak, di saat rumah-rumah lain bersuka cita berkumpul dengan semua anggota keluarga, Nara hanya bisa memilih di rumah Ibu bersama keluarga besar Ibu, atau di rumah Nenek bersama keluarga dari ayahnya.
Gadis itu diam di kamar. Mencoret-coret kertas. Terkadang ia menggambar orang seperti di buku komik yang suka dia baca. Atau hanya sekadar membuat pola benang kusut. Lalu setelahnya tiba-tiba saja air matanya mengalir.
“Tuhan, tidak bisakah aku merasakan hidup bahagia bersama Bapak dan Ibu walau hanya dalam mimpi?” hanya itu harapan terbesarnya. Ia tidak punya gambaran sedikit pun, bagaimana rasanya memiliki keluarga lengkap, keluarga yang hangat.
Empat belas bulan usia yang bahkan, untuk sebagian bayi bicara saja belum jelas. Tetapi Nara sudah harus menerima, legowo dengan keadaan yang harus dia hadapi.
***