Rumah Nenek Parni kembali lengang. Sejak Pak Imam, Bu Yuli, Wati dan Dinda berangkat ke ibukota dua hari lalu, suasana rumah terasa berbeda. Tidak ada lagi koper di ruang tamu. Tidak ada lagi sandal tambahan di teras. Gelas-gelas yang sempat memenuhi rak sudah dicuci bersih dan kembali tersusun rapi.
Malam itu, hanya terdengar suara televisi yang sedang menayangkan sinetron favorit Nenek Parni dan Endah. Nara berdiam diri di kamar. Di tangannya ada buku gambar yang sedang ia gunakan untuk menggambar karakter komik yang ia baca. Pikirannya entah ke mana. Ia mengingat kejadian beberapa hari lalu. Kejadian yang membuatnya harus minta maaf. Kejadian yang seperti menunjukkan di mana posisinya. Meskipun hati kecilnya berharap, itu tidak menjadi jaminan hidup ke depannya. Ia tidak ingin kisah Bawang Putih atau Cinderella menjadi kisahnya.
***
Hari-hari kembali berjalan seperti biasa. Pagi hari Endah membuka warung kecil di depan rumah. Warung itu tidak besar. Hanya menjual mi instan, minyak goreng yang dimasukkan ke plastik, gula pasir, sabun cuci, kopi sachet, dan beberapa jajanan anak kecil. Sayangnya, banyak tetangga yang berutang.
"Nanti ya, Ndah."
"Besok ku bayar."
"Tanggal muda, ya..."
Atau, "Besok pas gajian, ya..."
Kalimat itu lebih sering terdengar dibanding suara uang logam yang masuk ke kaleng. Endah hanya bisa tersenyum pahit.
Sore itu ia menghitung hasil jualan. Uang yang terkumpul tidak sampai cukup untuk membeli stok baru. Wanita itu menghela napas panjang.
"Nara."
"Iya, Bi?"
"Uang sekolahmu berapa, Ra?"
Nara menunduk.
"Enam puluh ribu, Bi... bayar SPP sama LKS."
Endah kembali menghitung lembaran uang lusuh di depannya.
Kurang.
Malam harinya, setelah Nara tidur, Endah duduk bersama Nenek Parni di ruang tengah.
"Aku mau minta tolong Mas Imam, Bu."
Nenek Parni diam.
"Bukan buat macam-macam. Cuma buat uang sekolah Nara."
Perempuan tua itu hanya menganggukkan kepala. Memang sudah seharusnya begitu. Bagaimanapun juga, Imam adalah ayah kandung Nara.