Tidak semua luka meninggalkan bekas yang bisa dilihat oleh mata. Sebagian memilih tinggal diam di dalam hati, tumbuh perlahan bersama waktu, lalu menjelma menjadi ketakutan-ketakutan yang bahkan tidak kita sadari asalnya dari mana.
Setelah beberapa hari menginap di rumah majikan Wati, Nara dan Endah akhirnya kembali ke kampung halaman. Sepanjang perjalanan pulang, gadis itu lebih banyak diam dibanding biasanya. Apa yang diceritakan oleh Endah, cukup mengiris hatinya. Seorang anak kandung, bahkan hanya sekadar mengunjungi ayahnya saja menjadi sebuah kesalahan.
Endah sudah menceritakan semuanya. Wanita itu rasa, Nara sudah cukup besar untuk memahami keadaan. Agar kelak tidak terlalu berharap lagi. Agar kelak jika terjadi hal yang sama, keponakannya bisa menerima.
"Ra, kapan-kapan kalau ke sini lagi, jangan menginap di rumah Bapak, ya..." Kalimat yang akhirnya membuat Nara bertanya.
"Kenapa, Bi?"
"Mamanya Dinda sedikit nggak suka, kalau kita menginap di sana."
Nara mengangguk-angguk tanda ia mengerti. Meskipun ada rasa sakit yang tidak bisa ia ungkapkan. Itu yang membuat Nara jadi lebih pendiam.
Sesampainya di rumah, tidak banyak yang Nara ceritakan kepada sang nenek. Ia malas. Ia tidak ingin kembali mengingat hal yang akan membuat lukanya kembali menganga.
-----
Hari-hari kembali berjalan seperti biasanya. Nara kembali ke rutinitasnya sebagai siswi SMP. Pagi berangkat sekolah, siang membantu Endah menjaga warung, dan malam belajar di kamarnya.
Nara mulai tumbuh menjadi anak yang sangat mandiri. Tidak pernah meminta uang jajan lebih, tidak pernah meminta dibelikan pakaian baru jika pakaian lamanya masih bisa digunakan, bahkan tidak pernah meminta selain kebutuhan sekolahnya. Akhirnya ia terbiasa melakukannya. Menginginkan sesuatu, lalu menguburkannya sendiri.
Semakin besar usianya, semakin Nara memahami bahwa setiap orang memiliki batas kemampuan masing-masing. Ia pun mulai belajar untuk tidak terlalu berharap kepada siapa pun.
-----
Nara mulai masuk SMA. Ia diterima di salah satu SMA favorit karena nilainya cukup tinggi. Masalah mulai semakin terasa. Pengeluaran semakin banyak. Namun, pemasukan cenderung segitu-segitu saja. Setiap kali Wati mengirim uang untuk kembali mengisi penuh warung, tidak lama dagangan habis, tetapi uang tidak ada dan tidak bisa kulakan lagi. Selain karena orang-orang yang berhutang, tentu saja untuk kebutuhan sehari-hari juga kebutuhan sekolah Nara. Imam tidak pernah sekali pun kirim uang. Memberi sesekali jika dia pulang kampung.
Tentang ibu kandung Nara, Bu Ratmi? Jangan ditanya, semenjak Nara memutuskan untuk tidak tinggal bersamanya, sejak saat itu juga dia menganggap keluarga ayah kandung sang putri mampu menafkahi dan menyekolahkan Nara.