Keping Hati

RiniKa
Chapter #6

Keping 5 (Babak Baru Kehidupan)

Nara memandangi pantulan dirinya di cermin, di lemari sang nenek. Ia tersenyum. Senyum yang sesungguhnya banyak kepahitan di sana. Ia lelah dengan keadaan. Ia ingin berteriak. Namun, siapa yang akan peduli? Mereka hanya akan menganggap kalau dia berlebihan. Dari kecil, sepertinya takdir memang senang mengujinya.


Perceraian orang tuanya terjadi saat dia masih berusia empat belas bulan. Saat itu berjalan pun ia masih tertatih. Belum mengerti bagaimana kehidupan orang dewasa yang pada akhirnya juga akan menyeretnya. 


Nara kecil tinggal bersama ibunya. Yang Nara ingat, sang ayah sesekali menemuinya. Namun, tidak sekali pun terekam di ingatannya tentang bagaimana ayahnya menunjukkan perannya. 


Saat Nara mulai masuk TK, sosok pria dewasa hadir, memperkenalkan diri sebagai calon ayahnya yang baru. Nara tidak tahu apa maksudnya dan bagaimana nanti hidupnya. Yang ia tahu hanya ibunya ada yang akan merebut. Namun, pada akhirnya Nara menerima pria itu. 


Kehidupan tidak berakhir bahagia di situ. Rasa iri Nara pada teman-temannya sering dirasakan. Ia juga ingin memiliki keluarga yang hangat, tetapi yang dimilikinya hanya seorang ayah tiri dan ibu yang galak yang sering memarahinya. Akhirnya, sesekali ia tinggal bersama sang nenek. Meskipun dengan ketakutan yang membuatnya tidak berani menghadapi ibunya. Sehingga jika sedang tinggal bersama Nenek Parni, ia sama sekali tidak akan menginjak rumah ibunya. Begitu juga sebaliknya, ketika tinggal bersama sang ibu, ia tidak akan menginjak rumah neneknya. 


Mondar-mandir, mencari siapa yang benar-benar menyayanginya. Siapa yang benar-benar tulus. Menghadapi bahwa di antara ketegangan itu ada sosok yang menjadi pemantik yang membuat hubungan kedua keluarga semakin merenggang. Bahkan kebencian seperti semakin dipupuk, semakin menjulang. 


Di rumah Ratmi, Nara tinggal berempat bersama ayah sambung juga adiknya yang lahir ketika Nara masih kelas satu sekolah dasar. Ayah sambungnya tidak sepicik Yuli. Hanya saja, ada kabar miring yang sempat mengusik Nara. Namun, karena Nara masih kecil, jadi dia tidak begitu peduli. 


Saat awal Nara masuk SMP, ia memutuskan untuk tinggal bersama Nenek Parni. Kala itu, Ratmi sangat menentang. Dengan berbagai kalimat paksaan, ia meminta agar Nara kembali tinggal bersamanya. 


"Kamu memang anak durhaka!"


"Kamu baru saja masuk SMP, kamu pikir berapa banyak uang yang harus kami keluarkan?!"


"Kamu harus tahu terima kasih!"


"Kamu memang anak yang susah diatur!"


Bermacam kalimat yang cukup menggores hati terlontar begitu saja. Sambil mendengar, Nara menangis. Tangannya menjambak rambut hingga terlepas dari kepala. 


"Nara! Hentikan! Kalau kamu mau di sini ya sudah. Mbak Ratmi juga, Mbak nggak kasihan sama Nara? Biarkan dia di sini. Toh nanti juga kalau udah nggak betah balik lagi ke Mbak!" Endah yang semenjak Imam dan Ratmi tidak pernah sekali pun berbicara pada wanita itu detik itu juga mengalah pada egonya. 

Lihat selengkapnya