Keping Hati

RiniKa
Chapter #7

Keping 6 (Kukira Kau Rumah)

Sejak memutuskan untuk mencari pekerjaan, Nara baru menyadari bahwa mendapatkan pekerjaan ternyata bukan perkara mudah. Bukan karena ia malas. Bukan pula karena ia tidak mau bekerja. Masalahnya adalah jarak.


Rumah Nenek Parni berada di kaki pegunungan, jauh dari jalan besar. Untuk mencapai jalan raya, Nara harus berjalan cukup jauh melewati jalan yang berliku. Di mana tidak ada angkutan umum yang melewati jalan itu. Tidak ada sepeda motor yang bisa ia gunakan. Apalagi ia juga tidak bisa mengendarainya. Sepeda juga tidak memiliki. 


Satu-satunya pilihan adalah berjalan kaki sampai ke jalan besar, kemudian menunggu angkot yang entah kapan datang.


Pagi itu, Nara berdiri di depan rumah sambil merapikan anak rambut yang sedikit beterbangan tertiup angin. 


"Nek, Nara berangkat dulu."


Nenek Parni yang sedang duduk di teras menoleh. "Iya... sudah makan?"


Nara tersenyum kecil. "Sudah."


Nenek Parni mengangguk pelan.


"Jangan pulang terlalu sore."


"Iya." Karena jika terlalu sore, angkutan umum memang sudah susah didapat. 


Nara melangkah pergi. Ia menuruni jalan aspal dengan hati yang dipenuhi harapan kecil. Ia tidak mencari pekerjaan bagus. Tidak juga berharap mendapatkan gaji besar. Ia hanya ingin bekerja. Apa saja.


Beberapa minggu terakhir, kiriman uang dari Bibi Wati dan Bibi Endah mulai jarang datang. Nara tahu keduanya juga bekerja keras di perantauan. Karena itu, ia tidak berani bertanya. Apalagi meminta. Ia merasa tidak enak.


Namun, semakin lama, rasa tidak enak itu berubah menjadi kecemasan. Bagaimana kalau uang benar-benar habis? Bagaimana bayar listriknya? Bagaimana transportasinya jika nanti Nara sudah bekerja? Karena gaji pasti didapat setelah ia bekerja paling tidak sebulan. Pikiran-pikiran itu terus memenuhi kepala Nara.


Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya ia sampai di jalan raya. Nara berdiri di pinggir jalan sambil menunggu angkot.


Lima menit.


Sepuluh menit.


Lima belas menit.


Tidak ada.


Ia mengembuskan napas panjang.


"Ya Allah..." Nara menatap jalan yang sepi.


Saat sebuah angkot akhirnya muncul dari kejauhan, ia segera mengangkat tangan.


Angkot itu berhenti. Nara pun naik.


Ia kemudian menghabiskan hampir sepanjang pagi berkeliling mencari pekerjaan. Dari toko pakaian, warung makan, toko sembako, bahkan sebuah rumah makan kecil yang membutuhkan pelayan. Namun, hampir semuanya memiliki masalah yang sama.


Gaji.


"Sebulan cuma segini, ya, Mbak?"


"Iya."


Nara terdiam. Jumlah itu bahkan belum tentu cukup untuk biaya transportasi dan makan selama bekerja. Ia akhirnya hanya mengucapkan terima kasih lalu pergi. Menjelang siang, Nara kembali ke jalan raya. Kakinya pegal. Kepalanya pusing. Tangannya menggenggam selembar kertas kecil berisi beberapa alamat tempat kerja yang sudah ia datangi. Tidak ada satu pun yang memberikan kepastian.


Saat berjalan menuju tempat angkot biasa berhenti, pandangan Nara tertumbuk pada sebuah bengkel di pinggir jalan. Bengkel itu tidak besar. Bangunannya sederhana dengan papan nama yang mulai kusam. Di depan bengkel terdapat beberapa ban bekas yang ditumpuk. Seorang laki-laki sedang jongkok di samping sebuah motor. Tangannya kotor oleh oli. Nara tidak tahu mengapa langkahnya berhenti.


Laki-laki itu mendongak. Mata mereka bertemu. "Kenapa, Mbak?"


Nara tersentak. "Oh..." Ia menunjuk ke arah jalan. "Angkot lewat sini, kan, Mas?"


Laki-laki itu berdiri dan mengusap tangannya dengan kain lap. "Kalau ke arah kota, biasanya lewat situ."


"Oh."


Nara mengangguk. "Terima kasih."


Ia hendak pergi ketika laki-laki itu bertanya, "Nyari angkot?"


"Iya."


"Baru lewat satu."


Nara menatapnya. "Yang tadi?"


"Iya."


Nara menghela napas. Berarti harus menunggu lagi.


Laki-laki itu tersenyum tipis. "Kalau mau duduk, di sini saja."


Nara awalnya ragu. Namun, karena kakinya benar-benar pegal, akhirnya ia duduk di kursi kayu kecil di depan bengkel.


Laki-laki itu kembali bekerja. Beberapa saat mereka diam.


"Kerja di sekitar sini?"


Lihat selengkapnya