Keping Hati

RiniKa
Chapter #8

Keping 7 (Menjadi Istri)

Wahyu datang ke rumah Nenek Parni, ia sengaja menyempatkan waktu. Tadinya, pria itu masih bimbang, haruskah ia menuruti keinginan Nara, atau memilih menjaga jarak. Namun, setelah gadis itu menceritakan semua kehidupannya, ia merasa iba. 


Nara sedang bersama sang nenek di depan televisi saat suara salam dan ketukan pintu terdengar. 


“Siapa?” tanya Nenek Parni. 


Nara menggeleng pura-pura tidak tahu Kemudian berdiri dan segera membukakan pintu. 


Seorang laki-laki berdiri di depan pintu. Ia mengenakan kemeja lengan panjang yang sudah sedikit kusut dan celana panjang hitam. Rambutnya masih basah.


Nara tersenyum, lalu menundukkan wajah. Entah mengapa, setiap kali melihat laki-laki itu, dadanya selalu terasa sedikit sesak. Bukan karena takut, melainkan karena ada sesuatu yang selama ini belum berani ia beri nama.


“Assalamu’alaikum, Mbah," salam Wahyu ketika melihat Mbah Parni sedang berjalan menghampirinya.


“Wa’alaikumussalam.”


Nenek Parni mempersilakan masuk. Kemudian mempersilakannya duduk. Tanpa disuruh, Nara sudah di dapur untuk membuatkan teh. 


Wahyu duduk di kursi kayu dekat pintu. Ia terlihat berbeda. Biasanya ia datang dengan wajah santai, sesekali bercanda dengan Nara. Namun, hari itu ia terlalu serius.


Tangannya bahkan terus meremas sisi-sisi celananya.


Nenek Parni memperhatikannya. “Ada apa, Yu?”


Wahyu menarik napas panjang. “Tidak ada, Mbah.”


“Lalu?”


Wahyu diam cukup lama. Nara yang masih berada di dapur ikut menahan napas.


Kemudian laki-laki itu berkata pelan. “Saya datang mau menyampaikan niat.”


Nenek Parni mengernyit. “Niat apa?”


Wahyu menatap perempuan tua itu. “Saya ingin menikahi Nara.”


Tangan Nara berhenti bergerak. Sendok yang sedang ia gunakan untuk mengaduk gula di dalam teh pun berhenti berputar. 


Nenek Parni juga terdiam, seolah-olah kalimat itu membutuhkan waktu untuk dicerna.


“Menikahi Nara?” tanya Nenek Parni pada akhirnya. 


“Iya, Mbah.”


“Serius?”


Wahyu mengangguk. “Saya serius.”


Wanita itu memandang Wahyu lama sekali. Setelah itu pandangannya beralih kepada Nara yang sedang meletakkan gelas teh di meja.


“Nara...”


“Iya, Nek.”


“Kamu tahu soal ini?”


Nara menunduk. “Tahu, Nek.”


“Sejak kapan?”


Nara menggigit bibir. “Beberapa waktu lalu.”


Nenek Parni menghela napas panjang. “Kenapa tidak bilang kepada Nenek?”


Nara tidak menjawab. Sebenarnya bukan karena ia tidak mau. Ia hanya takut. Takut Nenek Parni marah. Takut Bibi Endah dan Bibi Wati tidak setuju. Takut orang-orang kembali mengatakan bahwa dirinya hanya menjadi beban. Dan yang paling ia takutkan adalah kembali kehilangan tempat untuk pulang.


Nenek Parni mengusap lututnya sendiri. “Kalian masih muda.”


Wahyu mengangguk. “Saya tahu, Mbah.”


“Kamu sudah punya pekerjaan?”


“Sudah," jawab Wahyu.


“Bengkel?”


“Iya.”


Lihat selengkapnya