Keping Hati

RiniKa
Chapter #10

Keping 9 (Bukan Prioritas)

Kabar kehamilan Nara menyebar lebih cepat dari yang mereka kira. Awalnya hanya Nenek Parni yang tahu, tetapi di luar rumah, tidak semua orang menyambut kabar itu dengan bahagia.


"Baru juga nikah."


Suara seorang perempuan terdengar ketika Nara melewati halaman rumah tetangga.


"Sudah hamil saja."


"Memangnya kenapa?" sahut yang lain.


"Ya tidak kenapa-kenapa. Cuma..."


Perempuan itu berhenti bicara ketika melihat Nara. Namun, senyumnya sudah cukup menjelaskan. Nara pura-pura tidak mendengar. Ia terus berjalan. Tetapi kalimat-kalimat itu menempel di kepalanya.


Hari berikutnya, gunjingan lain terdengar. "Nara itu sebenarnya sudah hamil sebelum menikah, ya?"


Nara yang baru saja dari warung, tangannya menggenggam kresek hitam berisi sayuran dan bumbu dapur, langsung menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia ingin menoleh. Ingin bertanya siapa yang mengatakan itu. Tetapi ia menahan diri.


"Nggak tahu."


"Katanya begitu."


"Ya, kalau baru beberapa bulan menikah sudah hamil..."


Nara menutup mata. Ia menarik napas panjang. Tidak. Jangan diladeni. Ia melanjutkan jalannya untuk pulang. Namun, sejak hari itu, langkahnya terasa lebih berat.


Sementara itu, Wahyu masih belum mendapatkan pekerjaan tetap. Ia sudah mencoba ke sana kemari. Menanyakan pekerjaan kepada orang-orang yang dikenalnya. Apa saja. Tetapi pekerjaan tetap belum juga datang.


Beberapa minggu kemudian, kehamilan Nara mulai terlihat. Mualnya semakin parah. Hampir setiap pagi ia muntah. Kadang baru mencium bau nasi yang sedang dimasak saja, perutnya sudah bergejolak.


Suatu pagi, Nara sedang membantu Nenek Parni menyiapkan sarapan. Begitu tutup panci dibuka, aroma tumisan langsung memenuhi dapur. Nara mendadak menutup mulut.


"Nek..."


Nenek menoleh.


"Kamu kenapa?"


Nara berlari ke kamar mandi. Ia muntah. Nenek Parni menyusul. Tangannya mengusap punggung Nara.


Lihat selengkapnya